{"id":3735,"date":"2017-09-02T19:12:39","date_gmt":"2017-09-02T12:12:39","guid":{"rendered":"http:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/?page_id=3735"},"modified":"2017-10-07T18:22:50","modified_gmt":"2017-10-07T11:22:50","slug":"september-2017","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/september-2017\/","title":{"rendered":"September 2017"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><strong>September 2017<\/strong><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2903 aligncenter\" src=\"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor.png\" alt=\"ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor\" width=\"704\" height=\"97\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 3 September 2017<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">YESUS MEMANGGIL: APAKAH JAWAB SAUDARA?<\/span><\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus, dipilih dan terpilih seringkali membuat orang merasa istimewa. Rasa bangga juga sering menyertai mereka yang terpilih dan dipilih. Misalnya mereka yang diberi undangan untuk hadir pada upacara 17 Agustus 2017 di Istana Merdeka, Jakarta. Di upacara peringatan Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tidak semua orang bisa hadir disana. Hanya mereka yang dipilih dan terpilih (diundang) saja yang bisa hadir. Tentu ini memberi kebanggaan bagi mereka. Diantara 250 jutaan rakyat Indonesia mereka menjadi sebagian kecil orang yang berbangga hati. Ya, mereka adalah pribadi-pribadi yang istimewa. Pertanyaannya, apakah hal yang sama akan kita rasakan saat dipilih Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja, melalui jemaatnya untuk menjadi pelayan-pelayan-Nya yang istimewa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus, memasuki akhir tahun 2017, kita akan memasuki masa pelayanan yang baru. Misalnya bagi beberapa penatua, pengurus BPJ (Badan Pelayanan Jemaat) atau lebih dikenal sebagai komisi, Pengurus Wilayah, Pengurus Pokja atau juga panitia. Hal ini sering menimbulkan pergumulan dalam kehidupan kita sebagai gereja. Pergumulan ini berkaitan dengan miskinnya kemauan anggota jemaat untuk turut serta mengambil bagian dalam berbagai panggilan pelayanan yang membentang dan menantang. Bukan karena tidak ada kemampuan dalam diri jemaat. Tetapi rasa enggan untuk mengambil tanggung jawab dan menerima resiko seringkali menjadi alasan untuk berkata tidak. Mari kita melihat bagaimana sikap murid-murid yang pertama saat Tuhan Yesus memanggil mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pertama: \u201cYesus berkata kepada mereka: <strong>\u201cMari ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia\u201d <\/strong>(Matius 4:19). Siapakah mereka? Simon yang disebut Petrus, dan Andreas saudaranya. Mereka sedang berkerja, yaitu menebarkan jala. Mereka sedang sibuk dan bergumul dengan kebutuhan hidup. Mereka bukan orang yang punya banyak waktu luang, sehingga bisa bersantai. Tidak! Mereka orang yang giat bekerja. Etos kerja mereka bagus. Mereka sedang bekerja. Tetapi Tuhan Yesus memanggil mereka dan memberikan pekerjaan baru: <strong>\u201ckamu akan kujadikan penjala manusia.\u201d<\/strong> Mereka terbiasa mencari ikan dengan cara menjala, kini mereka dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Tuhan Yesus tidak memercayakan hal yang tidak bisa mereka lakukan. Tuhan Yesus memanggil mereka untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang mereka bisa kerjakan. Ketika Tuhan memanggil Saudara dan memercayakan sebuah tugas dan tanggung jawab, itu karena Tuhan Yesus melihat Saudara mampu. Tentu saja akan semakin sempurna bila disertai dengan kemauan dan kesediaan untuk belajar.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Kedua: respon mereka. <strong>\u201cLalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikut Dia\u201d<\/strong> (Matius 4:20). Simon Petrus dan Andreas menanggapi panggilan Yesus dengan meninggalkan jalanya. Jala adalah alat penghidupan bagi mereka. Tetapi panggilan Tuhan Yesus begitu luar biasa, sehingga mereka bersedia meninggalkannya. Bukan hanya itu mereka kemudian mengikuti Yesus. Orang yang baru mereka lihat. Tetapi untuk-Nya, mereka bersedia meninggalkan hidup yang sudah lama mereka geluti dan hidupi. Bagi Saudara dan saya, Yesus bukan pribadi yang baru sekali berjumpa. Ia adalah sosok terpenting dalam hidup kita: Tuhan dan Juruselamat. Hidup kita akan kehilangan arah dan arti tanpaNya. Dan kini sosok yang begitu penting itu memanggil dan mengajak Saudara. Tidak memaksa. Tetapi mengajak Saudara untuk ikut serta dalam pekerjaan-Nya. Kabar baik harus terus disampaikan kepada umat manusia. Dan itu dimulai dari sini dan di sini: GKI Pengadilan. Mungkin Saudara sudah melayani di berbagai tempat: keluarga, tempat kerja, lingkungan, bangsa dan negara. Atau Saudara merasa belum punya pengalaman (sama dengan Petrus dan Andreas)? Ataukah kita begitu berat meninggalkan beberapa hal yang selama ini begitu mengikat hidup kita? Tuhan Yesus tidak meminta Saudara meninggalkan semua itu. Ia hanya ingin Saudara membagi waktu, tenaga dan pikiran untuk pekerjaan-Nya yang ingin dikerjakan bersama Saudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketiga: <strong>\u201cdan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikut Dia\u201d <\/strong>(Matius 4:22). Siapakah mereka? Meraka adalah Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus. Mereka sedang membereskan jala di dalam perahu bersama ayahnya. Yesus juga memanggil mereka dan lihatlah mereka pun segera meninggalkan (perahu dan ayahnya), lalu mengikut Yesus. Tidak ada kata nanti, bahkan untuk hal-hal yang berharga. Perahu, jala dan ayah adalah harta yang sangat berharga bagi seorang nelayan. Tetapi mereka meninggalkan semua itu untuk hal yang belum tentu arahnya. Ya, mengikuti Yesus yang baru mereka lihat, bukanlah sebuah jaminan untuk kehidupan yang menjanjikan apalagi kenyamanan. Benar, Tuhan Yesus tidak mengajak mereka mencari kenyamanan. Tetapi Ia memanggil mereka untuk: \u201cikutlah Aku.\u201d Tinggalkan hidupmu dan ikutlah cara hidupKu. Hidup Yesus adalah untuk melakukan perintah Bapa. Tuhan Yesus memanggil Saudara dan saya untuk hidup dalam rencana dan kehendak Bapa. Apakah Saudara telah menemukan itu dalam hidup Saudara. Jangan-jangan Saudara merasa nyaman dan mapan tetapi sebenarnya sedang gelisah. Ikut Tuhan Yesus berarti berani menanggapi panggilan-Nya. Ia memanggil Saudara dan saya, berjalan mengikuti-Nya. Bukan sekedar pengikut tetapi sebagai murid-murid Kristus yang bersedia bekerja bersama-Nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Ingatlah: \u201cKita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja\u201d (Yohanes 9:4).<\/strong><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">Forum Pendeta<\/span><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 10 September 2017<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><strong>SAUDARA DIPILIH KARENA DIBUTUHKAN<\/strong><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #993366;\"><strong>(Kisah Para Rasul 6:1-7)<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, sebagai Gereja kita senantiasa bergumul dengan berbagai pelayanan yang dipercayakan Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah puas dengan pelayanan yang selama ini Gereja lakukan? Atau masih banyak hal-hal yang belum memuaskan, bahkan terabaikan? Lalu bagaimanakah sikap kita? Apakah kemudian kita mencela, mengkritik atau bersungut-sungut? Ketika jemaat perdana mengalami hal ini: ada bagian pelayanan yang kurang terperhatikan (karena jemaat bertambah besar dan tenaga pelayan terbatas) maka dipilihlah orang-orang yang diperuntukkan melayani permasalahan yang ada. Kita dapat belajar beberapa prinsip yang dipakai jemaat perdana dalam menyikapi kebutuhan tenaga pelayan di tengah jemaat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Pertama: sungut-sungut dalam hidup berjemaat (Kisah Para Rasul 6:1).<\/strong><br \/>\n<\/span><span style=\"color: #000000;\">Ketika jumlah orang percaya bertambah banyak, maka pelayanan kepada janda-janda dari jemaat Yahudi yang berbahasa Yunani merasa diabaikan. Rupanya jumlah jemaat yang bertambah besar dan fokus pelayanan para rasul pada pelayanan firman membuat pelayanan meja (diakonia) kurang terperhatikan. Inilah yang membuat sebagian jemaat bersungut-sungut. Mereka mengeluhkan pelayanan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mereka melihat permasalahan yang ada dalam kehidupan persekutuan. Jemaat dengan kritis melihat hal-hal yang terabaikan dalam hidup berjemaat. Mereka bukan hanya terpaku pada kepentingan diri sendiri, tetapi mereka memerhatikan kepentingan anggota lainnya. Hal ini sangat penting dalam kehidupan bergereja. Ketika kita saling memerhatikan kebutuhan orang lain atau kelompok yang lemah (dhi: janda-janda), maka hakekat dari sebuah persekutuan dihidupi dan dihayati dalam hidup bersama. Apakah saat ini, Bapak, Ibu dan Saudara juga melakukan hal yang sama? Kita melihat dan memerhatikan hal-hal yang masih kurang terperhatikan atau terabaikan dalam pelayanan kita bersama? Jika ya, kita patut bersyukur. Itu artinya kita masih peduli dan perhatian dengan kehidupan gereja di mana kita bersekutu.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"><strong>Kedua: rasul-rasul yang proaktif (Kisah Para Rasul 6:2-4).<\/strong><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Para rasul menerima aduan atau sungut-sungut sebagian jemaat dengan sikap yang bijaksana. Mereka tidak merasa tersinggung apalagi marah. Mereka justru merasa senang karena diingatkan akan adanya bagian tertentu dari kehidupan pelayanan yang terabaikan, dan itu diperhatikan oleh jemaat. Perhatikan respon para rasul: <em><strong>\u201cKami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.\u201d<\/strong> <\/em>Mereka menyadari kekurangan dalam pelayanan mereka. Sikap ini sangat penting karena akan memperbaiki kehidupan jemaat secara keseluruhan. Baik yang bersungut-sungut atau yang menerima sungut-sungut sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan gereja yang lebih baik. Oleh karena itu kemudian para rasul mengusulkan kepada jemaat agar memilih 7 orang dari antara jemaat untuk melayani pelayanan yang terabaikan. Sikap para rasul yang proaktif dan tidak reaktif ini sangat penting dalam kehidupan berjemaat.\u00a0Mereka menanggapi keluhan atau sungut-sungut jemaat dengan sikap yang positif. Dari sebuah permasalahan yang ditanggapi dengan benar lahirlah pelayanan yang lebih baik. Perhatikan bahwa tidak sembarang orang yang dipilih tetapi orang-orang yang dikenal oleh jemaat sebagai orang yang: baik, penuh Roh dan hikmat (Kisah 6:3). Persyaratan ini penting, dari kehidupan yang berkualitas akan lahir tanggung jawab dan pelayanan yang berkualitas. Pemilihan penatua, juga mensyaratkan kepada jemaat untuk memilih calon penatua yang telah dikenal baik (bisa dilihat di lembar persyaratan calon penatua) dalam kehidupan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Ketiga: umat yang bertanggungjawab (Kisah Para Rasul 6:5-6).<\/strong><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Umat tidak hanya bersungut-sungut, tetapi mereka juga secara aktif menerima usulan dari para rasul. Yaitu memilih orang-orang yang memiliki kualifikasi dan kompetensi untuk melakukan pelayanan yang dibutuhkan dalam kehidupan bergereja. Umat mengambil tanggung jawab ini secara aktif. Hal ini terbukti dari kesediaan mereka untuk memilih dan mengajukan 7 orang dari antara mereka, seperti yang dikehendaki para rasul. Tindakan aktif jemaat ini sangat penting karena menunjukkan sikap bertanggungjawab umat terhadap pergumulan gereja. Dalam hal ini dibutuhkannya tenaga-tenaga pelayan yang baru untuk melayani umat. Gereja Kristen Indonesia, termasuk di dalamnya GKI Pengadilan merasakan kurangnya antusiasme jemaat dalam pemilihan penatua. Misalnya, pada periode pemilihan penatua tahun pelayanan 2017-2020, jemaat yang menggunakan hak dan tanggungjawabnya memilih calon penatua sekitar 110-an orang, dari anggota jemaat yang berjumlah 2000-an orang. Pada satu sisi jemaat melihat begitu banyak pelayanan yang belum terlayani dengan baik dalam kehidupan bergereja. Tetapi rasa memiliki dan tanggung jawab selaku anggota gereja (dhi.: memilih penatua) belum terlaksana dengan baik. Belum lagi dengan kesediaan dari orang-orang yang dipilih. Banyak orang yang diajukan dan dipilih jemaat tidak bersedia atau belum bersedia dengan berbagai alasan. Apakah kita mengenal dengan baik setiap anggota jemaat di GKI Pengadilan ini? Hal ini sangat penting agar kita dapat memilih orang-orang yang baik, penuh dengan roh dan hikmat. Jemaat membutuhkan 7 orang, dan dipilihlah 7 orang, dan 7 orang itu semuanya menerima panggilan itu. Rasul-rasul berdoa dan meletakkan tangan atas mereka untuk suatu pelayanan di tengah jemaat Tuhan. Tahun ini GKI Pengadilan membutuhkan 15 orang penatua, maka pilihlah 15 orang calon penatua yang Saudara kenal. Berdoalah agar 15 nama yang Saudara ajukan adalah orang yang bersedia dipilih dan dipanggil Tuhan Yesus untuk melayani umat-Nya. Ingat baik Saudara yang memilih atau Saudara yang dipilih adalah orang-orang yang dibutuhkan dalam kehidupan bergereja yang lebih baik dari waktu ke waktu. Tuhan Yesus memberkati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Hasilnya:<\/strong><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> <strong>\u201cFIRMAN ALLAH MAKIN TERSEBAR, DAN JUMLAH MURID DI YERUSALEM MAKIN BERTAMBAH BANYAK; JUGA SEJUMLAH BESAR IMAM MENYERAHKAN DIRI DAN PERCAYA\u201d(Kisah Para Rasul 6:7).<\/strong><\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\"> <strong><br \/>\nForum Pendeta<\/strong><\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 17 September 2017<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">HIDUP SEORANG PELAYAN<\/span><\/strong><\/h4>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tetapi kuasilah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2 Timotius 4:5).<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Shalom, selamat hari Minggu dan selamat beribadah umat yang dikasih dan mengasihi Tuhan. Hari \u2013 hari terus bergulir dan mengalir dalam hidup kita. Berbagai peristiwa silih berganti mewarnai kehidupan kita. Kita harus senantiasa siap menghadapi apapun yang terjadi. Sebab jika tidak siap kita akan tertinggal dan bisa jadi tergilas serta dihempaskan arus kehidupan. Tetapi syukur kepada Allah dalam Tuhan Yesus, karena kita masih mendapati diri dalam rangkulan kasihNya. Sehingga kita masih mendapati diri hidup dalam ketaatan dan takut akan Tuhan. Pada saat yang sama kita juga terus berusaha ikut ambil bagian dalam berbagai kesempatan yang Tuhan Yesus bentangkan dalam hidup ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, salah satu kesempatan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita umatNya adalah memilih orang-orang untuk ikut ambil bagian di gereja kita: GKI Pengadilan Bogor. Beberapa Minggu ini di bagian belakang warta jemaat telah disampaikan tentang kebutuhan penatua untuk tahun pelayanan 2018-2021. Juga telah dituliskan syarat-syarat bagi seorang calon penantua. Bagian akhir dari warta telah tersedia lembaran yang harus Saudara isi dengan nama-nama yang Saudara kenal dan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dan kemudian diserahkan kepada gereja (dimasukkan di kotak yang telah disediakan). Mengapa calon penatua yang kita pilih harus memenuhi syarat-syarat yang ada? Bukankah mencari orang yang bersedia saja sulit, apalagi kalau harus memenuhi sejumlah persyaratan tertentu? Hal ini diperlukan karena tugas pelayan membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mau tetapi juga mampu sehingga mereka dapat melaksanakan tugas pelayanannya dengan baik dan benar. Rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius dalam melaksanakan tugas pelayanannya adalah sebagai berikut:<br \/>\n<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Pertama: <strong>\u201ckuasailah dirimu dalam segala hal.\u201d<\/strong> Secara harafiah menguasai diri ini berkaitan dengan minuman yang memabukkan. Tetapi dalam kehidupan pelayanan gerejawi menguasai diri meliputi banyak hal dalam kehidupan seorang pelayan (penatua). Hidup yang selalu berjaga-jaga dan waspada sering dinasihatkan, misalnya dalam 1 Tes.5:6: \u201cberjaga-jaga dan sadar\u201d; \u201ckuasailah dirimu dan jadilah tenang (1 Petrus 4:7); serta \u201csadarlah dan berjaga-jagalah\u201d (1 Petrus 5:8). Hal ini penting karena seorang penatua akan menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang akan menantang penguasaan dirinya. Relasi dengan sesama penatua, relasi dengan jemaat, bukanlah hal yang mudah untuk dikelola. Berbagai konflik tidak boleh membuat seorang pelayan kehilangan kontrol diri. Demikian halnya dengan konflik kepentingan (kepentingan diri, kelompok, jemaat) harus dapat diolah dan ditempatkan dengan benar. Sehingga kehendak Tuhan Yesus yang sungguh diperjuangkan dan dihidupinya. Penguasaan diri ini menjadi penting agar tidak mudah tergoda oleh berbagai hal dan jatuh\u00a0dalam pencobaan. Yang akan menghancurkan diri, keluarga dan gereja. Jika ia belum bisa menguasai dirinya, bagaimana mungkin ia akan menguasai\/ mengelola jemaat yang ia layani?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kedua: <strong>\u201csabarlah menderita.\u201d<\/strong> Bagi Paulus seorang pelayan itu harus sabar menderita. Artinya ia harus menjadi pribadi yang kuat menanggung berbagai beban yang ada dalam kehidupannya. Bukan orang yang cepat menyerah, putus asa, gampang mengeluh. Pelayanan akan memberikan berbagai macam tekanan dan tantangan. Baik yang muncul dari internal gereja maupun eksternal. Semua beban itu harus ditanggung dan diselesaikan dengan benar. Paulus sendiri telah memberi contoh akan penderitaan yang harus ia tanggung sehubungan dengan panggilan pelayanannya. Tuhan Yesus juga harus menanggung banyak penderitaan dari berbagai pihak. Oleh karena itu tekat dan tujuan yang jelas akan membuat seorang pelayan memiliki kesabaran menanggung penderitaan yang harus ia tanggung. Penderitaan tidak harus dicari, tetapi ketika hal itu hadir di dalam pelayanan maka seorang pelayan harus kuat menanggung dan menghadapinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketiga:<strong> \u201clakukanlah pekerjaan pemberita Injil.\u201d<\/strong> Injil sebagai kabar sukacita harus senantiasa hidup dan hadir dalam diri seorang pelayan. Kabar sukacita tentang keselamatan dari Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus menjadi hal mendasar yang harus diberitakan dalam hidup para pelayan. Pemberitaan Injil kita lakukan secara verbal, dengan kata-kata kita. Tetapi juga yang terutama melalui hidup kita. Apakah nilai-nilai ajaran Kristus telah mengkristal dan mengalir dalam setiap tutur kata, tindakan dan setiap hal yang kita lakukan? Saat seorang pelayan melakukan pekerjaan pemberita Injil ia sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah untuk memberitakan kabar baik kepada seluruh ciptaan. Pada saat yang sama ia sedang menghayati hidup yang telah diselamatkan, sehingga hidupnya menjadi kitab terbuka dan setiap orang bisa melihat Kristus dalam hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Keempat: <strong>\u201ctunaikanlah tugas pelayananmu.\u201d<\/strong> Setiap pelayan harus memiliki keyakinan dalam dirinya untuk melakukan tugas pelayannya secara bertanggung jawab. \u201cTunaikanlah\u201d memberikan tekanan kepada Timotius untuk sungguh-sungguh dan tidak melalaikan atau menganggap remeh setiap pelayanan yang telah diberikan kepadanya. Pada saat yang sama saat seorang pelayan dapat menunaikan tugasnya dengan benar dan baik, ia bisa merasakan kepuasan dalam dirinya. Rasa puas bukan karena merasa bisa dan kemudian menjadi sombong, tetapi rasa puas karena dapat menyelesaikan dengan tuntas apa yang telah Tuhan Yesus percayakan kepadanya. Hal ini penting karena banyak orang mudah untuk berjanji bahkan bersumpah tetapi nol dalam pelaksanaan tugasnya. Pada sisi yang lain banyak orang yang baik dalam menunaikan tugasnya tetapi menjadi sombong bahkan arogan. Bukan itu yang Tuhan Yesus kehendaki. Seorang pelayan yang memiliki komitmen, menghidupi komitmennya itu dalam setiap tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Sehingga ia bisa merasakan kepuasan dari umat yang dilayaninya dan Tuhan Yesus yang mempercayakan pelayanan itu kepadanya. Apakah setiap Saudara sudah menunaikan tugas pelayanan dengan benar? Hidup akan berhenti dan pelayanan tidak ada lagi. Jadi selagi hidup masih diberi, ambil setiap pelayanan yang Tuhan beri. Tuhan Yesus memberkati.<\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">Forum Pendeta<\/span><\/strong><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 24 September 2017<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">HIDUP ORANG KRISTEN<\/span><\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, dalam kehidupan ini ada identitas yang melekat dalam diri kita. Identitas itu penting karena di dalamnya orang mengenal kita. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memiliki kartu identitas yang bisa kita jadikan bukti: siapakah kita. Di dunia ini kita memiliki KTP, SIM, PASPOR atau tanda pengenal lainnya yang menjelaskan siapa kita. Lebih dari itu dalam hidup sehari- hari ada banyak status yang melekat dalam diri kita yang juga menggambarkan identitas atau diri kita. Kita hidup sebagai suami atau istri, orang tua atau anak, menantu atau mertua, kakak atau adik,dokter atau pasien, guru atau murid, pegawai, majikan, dan masih banyak lagi. Belum lagi ketika kita gali lebih dalam lagi, misalnya sebagai orang Kristen, pendeta, penatua, aktivis gereja. Maka dalam hidup ini sudah seharusnya apabila identitas yang melekat dalam diri itu terwujud nyata dalam hidup setiap hari. Tentu saja yang dimaksud adalah dalam hal-hal yang positip dan dapat dipertanggungjawabkan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dalam surat 1 Petrus 4:7-11, penulis surat ini memberikan nasihat kepada jemaat (yang tentu adalah orangorang Kristen) untuk memiliki kualitas hidup yang sesuai dengan identitas mereka. Hal ini penting agar mereka dapat bertahan terhadap berbagai pergumulan dalam hidup mereka. Penghayatan hidup sebagai orang percaya akan memampukan mereka menghadapi berbagai penderitaan dalam hidup. Penghayatan hidup yang benar sebagai orang percaya dalam berbagai peran akan memberi jawaban kepada orangorang yang ada di sekitar mereka. Identitas dan kualitas hidup akan menjadi kesaksian dan pelayanan yang efektif dalam hidup bersama. Paling tidak ada tiga hal yang dinasihatkan dalam perikop ini. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pertama: <strong>berdoa<\/strong> (ay.7). Berdoa bukan hanya aktivitas atau ritual keagamaan yang dilakukan dengan: lipat tangan, tunduk kepala dan tunduk kepada, serta terucapnya serangkaian kata. Tetapi berdoa adalah gaya hidup. Berdoa adalah kebutuhan. Berdoa adalah nafas hidup. Maka berdoa haruslah sikap hidup yang menunjukkan relasi yang akrab, erat dan intim antara kita dengan Bapa. Dalam doa kita mendapatkan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi hidup, bahkan yang paling sulit sekalipun. Tanpa kehilangan pengharapan, tanpa menjadi gelap mata apalagi berputus asa. Doa mungkin tidak selalu mengubah segala sesuatu menurut keinginan kita tetapi doa membawa kita untuk memahami segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Agar hal ini dapat terjadi maka setiap orang percaya harus: <strong>menguasai diri dan menjadi tenang.<\/strong> Tidak semua orang bisa menguasai diri dan bersikap tenang dalam menghadapi pergumulan hidup. Justru yang sering terjadi adalah dikuasai keadaan dan kehilangan kendali diri. Tidak mengherankan bila kemudian jalan keluar yang diambil justru memperparah keadaan. Saat Saudara bisa menguasai diri dan bersikap tenang, maka doa menjadi pembuka dalam segala keadaan. Berkomunikasi dengan Allah dalam Tuhan Yesus agar dimampukan memilih, memilah dan kemudian menemukan jalan terbaik dalam hikmatNya. Maka penguasaan diri dan ketenangan diri menjadi hal yang penting agar doa menjadi sandaran hidup dan bukan sekedar pelarian hidup. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kedua: <strong>hidup dalam kasih<\/strong> (ay.8-9). Hidup orang percaya tidak berhenti dalam relasi yang indah dengan Tuhan Yesus, tetapi juga terwujud dalam relasi yang indah dengan sesama (ingat Hukum Kasih). Identitas orang percaya juga dapat dilihat dalam relasi dengan saudara seiman. Relasi dengan saudara seiman haruslah dalam relasi kasih. Kasih yang seperti apa? Kasih yang nyata dan dapat dirasakan oleh saudara seiman dan sesama. Kasih yang tulus dan tanpa pamrih. Seperti kasih Allah yang menyapa dan memulihkan. Kasih yang menutupi banyak dosa. Bukan berarti kita mentolerir dosa. Relasi dalam kehidupan bergereja seringkali diwarnai pertikaian dan perselisihan, tetapi itu tidak boleh menghancurkan persekutuan. Tidak boleh menjadi luka hati yang menjadi kepahitan yang akan menyebarkan racun kematian. Kasih Kristus yang menyapa setiap hati tersebar menyerap racun-racun dosa menenggelamkannya dalam pengampunan kasih Kristus. Kasih Kristus yang telah memulihkan kita. Kasih itu juga terwujud dalam tindakan nyata dan praktis dalam hidup: memberi tumpangan. Kasih akan memampukan kita membuka hidup yang bersedia berbagi dengan saudara seiman dan sesama yang sungguh-sungguh membutukan pertolongan dalam hidupnya. Orang yang hidup dan memiliki kasih tidak akan pernah menutup pintu rumahnya untuk menolong dan menyatakan kasih Kristus kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Kasih belumlah menjadi kasih ketika ia berhenti dalam idealisme atau wacana. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketiga:<strong> giat dalam pelayanan<\/strong> (ay.10-11). Nasihat dari penulis surat Petrus ini juga berkaitan dengan kedatangan Kristus yang semakin dekat:<strong> \u201ckesudahan segala sesuatu sudah dekat.\u201d<\/strong> Bingkai ini semakin menguatkan kita bahwa kesempatan yang ada dalam hidup ini terbatas. Maka di dalam kesempatan yang terbatas itu kita harus sigap dan tanggap sehingga setiap hal yang Tuhan Yesus percayakan kepada Saudara dapat dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan dengan benar. Setiap orang melayani sesuai dengan karunia yang telah Tuhan percayakan: berbicara dan melayani (dalam berbagai bentuk. Misalnya berdoa, bermusik, bernyanyi, membuat jadwal, memimpin acara, mengatur perlengkapan, merencanakan program atau acara). Lakukanlah semua itu supaya: <em><strong>\u201cAllah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus\u201d.<\/strong> <\/em>Apakah Allah telah dimuliakan dalam semua pelayanan yang Saudara lakukan selama ini? Apakah kita semakin giat dalam semua pelayan yang Tuhan percayakan kepada kita? <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Berbahagialah Saudara bila indentitas sebagai orang Kristen terhidupi dan melekat dalam langkah hidup setiap hari. Di depan kita terbentang banyak hal yang menantang: sebagai penatua, pengurus BPJ, Panitia, penerima tamu, pemain musik, pelawat, pemerhati dan masih banyak lagi. Apa karunia yang telah Tuhan Yesus percayakan kepada Saudara? Mari kita bawa untuk kemuliaan nama-Nya. Amin. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Forum Pendeta<\/strong> <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>September 2017 Minggu, 3 September 2017 YESUS MEMANGGIL: APAKAH JAWAB SAUDARA? Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus, dipilih dan terpilih seringkali membuat orang merasa istimewa. Rasa bangga juga sering menyertai mereka yang terpilih dan dipilih. Misalnya mereka yang diberi undangan untuk hadir pada upacara 17 Agustus 2017 di Istana Merdeka, Jakarta. Di upacara peringatan<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"template-right-secondary-sidebar-no-page-title.php","meta":{"footnotes":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/3735"}],"collection":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3735"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/3735\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3776,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/3735\/revisions\/3776"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}