{"id":4909,"date":"2019-02-04T00:17:47","date_gmt":"2019-02-03T17:17:47","guid":{"rendered":"http:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/?page_id=4909"},"modified":"2019-02-04T01:21:25","modified_gmt":"2019-02-03T18:21:25","slug":"desember-2018","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/desember-2018\/","title":{"rendered":"Desember 2018"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><b>Desember 2018<\/b><\/span><\/h2>\n<h2 style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2903 aligncenter\" style=\"font-family: inherit; font-size: 15px; font-style: inherit; font-weight: inherit; color: #58585a;\" src=\"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor.png\" alt=\"ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor\" width=\"704\" height=\"97\" \/><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 2 Desember 2018<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><strong>YUSUF: TELADAN KETAATAN (Matius 1: 18-25)<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Tak Terasa kita sudah di penghujung akhir tahun 2018 dan Natal sudah di depan mata. Dahulu dalam sebuah kesempatan, Paus Yohanes Paulus II berkata<em> &#8220;The truth is not always the same as the majority decision&#8221;<\/em> (kebenaran tidak selalu berarti kesepakatan oleh suara mayoritas). Tindakan memilih berbeda dari opini masyarakat mayoritas inilah yang diambil oleh Yusuf dalam menyikapi kehamilan Maria, tunangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dunia serasa runtuh! Maria hamil! Padahal Yusuf dan Maria belum hidup sebagai suami istri (Mat 1:18). Lalu harus bagaimana? Kalau Yusuf mengumumkan ketidaksetiaan Maria, Maria bisa terkena sanksi dilempari batu hingga mati (Ul. 22:23-24). Di sisi lain ia tidak bisa meneruskan pertunangan karena merasa Maria telah mengkhianati dia. Memiliki perasaan tidak ingin mempermalukan Maria, maka Yusuf memutuskan ingin membatalkan pertunangan dengan Maria diam-diam (Mat 1: 19).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Rencana Yusuf ingin membatalkan pertunangan dengan Maria menyiratkan satu hal yaitu ia belum mengetahui bahwa Allah memilih Maria menjadi ibu Yesus, Mesias bagi umat manusia. Kemungkinan pada saat itu, Maria tidak menceritakan kepada Yusuf perjumpaannya dengan malaikat Gabriel, utusan Allah (Luk. 1:26-38). Namun di tengah kegelisahan hati Yusuf, Tuhan hadir dan memberikan opsi ketiga yaitu menikahi Maria sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Sebagaimana Allah menjumpai Maria, Ia pun menyampaikan rencana-Nya tentang Maria dan anak yang akan dilahirkannya, melalui mimpi kepada Yusuf (Mat 1: 20-23). Mimpi inilah yang meneguhkan keberanian Yusuf untuk tetap bertunangan dengan Maria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><em>Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, (Mat 1:24)<\/em><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Keputusan Yusuf menyatakan ketaatannya terhadap perintah Allah. Keberanian Yusuf menunjukkan kemauan untuk percaya terhadap rencana keselamatan Allah bagi umat manusia melalui Yesus. Apakah Yusuf mengetahui dan mengerti apa yang akan terjadi pada hidupnya selanjutnya ? Saya rasa Yusuf tidak bisa menerkanya, tetapi ia berani melangkah. Melangkah maju dalam rancangan Allah untuk kemudian menikahi Maria yang dalam keadaan mengandung. Karena Yusuf\u00a0mau menundukkan dirinya kepada kedaulatan Allah dengan mengesampingkan kepentingan pribadi. Seringkali kita tidak berani mengambil keputusan untuk tunduk kepada kehendak dan rencana Allah karena kita lebih mementingkan keinginan kita atau apa kata orang banyak. Kita cenderung tidak bersedia mengambil resiko kehilangan sesuatu yang kita sukai, cenderung membiarkan diri mengikuti arus kehidupan, dan terkadang kehilangan fokus akan rancangan yang sedang atau telah Allah buat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketaatan inilah yang dicontohkan Yusuf kepada kita. Kisah Maria juga begitu, seperti yang dituturkan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dalam Injil Lukas, ketika dijumpai malaikat ia berkata: <em><strong>\u201cSesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan:\u00a0<\/strong><\/em><\/span><span style=\"color: #000000;\"><em><strong>jadilah padaku menurut perkataanmu itu\u201d (Luk. 1:38).<\/strong> <\/em>Kita melihat di sini bahwa keduanya adalah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pengikut Tuhan yang setia. Banyak keraguan dan ketidakyakinan muncul dalam diri mereka tetapi\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mereka memilih untuk taat kepada Allah, dan membangun pengharapan pada Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketika suara mayoritas mendorong kita untuk memilih hal-hal yang tidak memberikan pengajaran atau\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">cari aman dan hanya terfokus pada mencari kesenangan semu. Yusuf mengajar kita bahwa seringkali\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pilihan Allah bukan sekedar zona nyaman, pilihan Allah terkadang mendorong dan mengundang kita\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">untuk semakin taat pada-Nya melalui hal-hal yang kita pandang sebagai cobaan atau permasalahan.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Memasuki masa advent nilai ketaatan adalah hal yang kita pupuk, ketaatan membuat kita patuh dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">tunduk pada rancang-bangun Allah. <em>Walk by Faith not by sight<\/em> (berjalanlah bersama Iman bukan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">sekedar apa yang terlihat).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selamat Menanti dalam Ketaatan.<\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\">Minggu, 9 Desember 2018<\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\"><em>POST TENEBRAS LUX!<\/em> (Yesaya 8:23 &#8211; 9:6)<\/span><\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Setelah minggu lalu kita belajar mengenai ketaatan dalam menanti, hari ini kita belajar bagaimana kaitan penantian dengan pengharapan kepada Allah. Post Tenebras Lux (Setelah kegelapan, berharap akan ada terang) inilah moto dari John Calvin yang kemudian terpampang di tembok reformasi bertempat di kota Jenewa-Swiss. Moto ini mau menyatakan melalui harapan akan Allah, orang percaya akan menuju era baru, era Terang Kasih Allah.\u00a0Pengharapan bagi Calvin adalah kekuatan Jiwa. Pengharapan mendorong kita berjalan dari kegelapan menuju terang. Selayaknya seorang pasien yang berharap sembuh, maka ia berjuang dan bergerak.<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">Pergi ke dokter, mendapatkan tindakan medis, dan minum obat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pengharapan akan terang setelah kekelaman pun muncul dalam nubuatan kitab Yesaya. Yesaya 8:23-9:6 berkonteks kehidupan Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram (Siria) dan Israel. Ahas Raja Yehuda mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Ketakutan Ahas dan bangsanya membuat mereka putus asa dan menyerahkan diri pada naluri terendahnya yang menghasilkan: Kemerosotan moral, ketidakadilan, dan pemerasan terhadap rakyat kecil terjadi di seluruh Yehuda. Semua dikarenakan ketidakpercayaan Ahas dan bangsanya pada Allah. Atas ketidakpercayaan itu Yehuda mendapatkan penghukuman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penting untuk kita ingat bersama, tidak akan selamanya negeri itu mendapatkan penghukuman.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Kehancuran Yehuda akan ditutup dengan sebuah misi penyelamatan. Misi penyelamatan ini\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">setidaknya akan terjadi dalam tiga periode. Periode pertama adalah hadirnya Hizkia. Ahas mewakili\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">raja yang lemah dan tidak taat kepada Allah. Hizkia akan membawa perubahan baru, suatu\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">keselamatan bagi bangsanya karena ia tunduk kepada Allah. Hal ini memungkinkan hadirnya\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kedamaian dan kemakmuran. Periode kedua adalah masa ketika bangsa Yehuda kembali dari\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pembuangan. Periode ketiga terlihat dari hadirnya seorang Mesias, yang akhirnya digenapi dalam diri\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Kristus, Sang Juruselamat dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Seorang keturunan Daud yang baru akan hadir! Perayaan pengharapan dari kegelapan menuju terang ini diwujudkan dalam sukacita yang begitu luar biasa. Sukacita itu juga terlihat dalam gambaran militer (Ayat 3-4) seperti ketika orang-orang membagi-bagikan hasil rampasan dari musuh. Penghancuran\u00a0&#8220;kuk&#8221; dan &#8220;gandar&#8221; menunjukkan sekali lagi kemenangan militer yang dahsyat. Pada ayat 5 kita melihat bahwa janji akan keturunan Daud diberikan dengan gelar-gelar yang indah: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Keempat gelar ini menjamin kemakmuran dan keadilan selama-lamanya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Allah menjanjikan Mesias. Ia akan membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai putus asa dan jatuh dalam kegelapan dosa, kini melihat Terang yang besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa yang menindas dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">dan perseteruan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pengharapan akan Sang Mesias menjadi kekuatan Iman pada setiap orang beriman. Pengharapan itu membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang tahan uji, memliki kekuatan untuk bertahan dan bahkan bergerak maju (Lih. Roma 5:4). Dalam penantian di masa Advent ini, pengharapan pada Allah adalah hal yang harus kita tanamkan, karena pengharapan tidak akan berbuah kekecewaan, seperti Ia yang tidak akan mengecewakan umat-Nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selamat Menanti-Selamat Memupuk Pengharapan.<\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\">Minggu, 16 Desember 2018<\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">YOHANES PEMBABTIS: SERUAN PERTOBATAN (<\/span><\/strong><strong><span style=\"color: #993366;\">Markus 1:1-8)<\/span><\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Penantian orang percaya adalah penantian yang penuh harapan, yang membawa kita dari era kegelapan menuju terang Tuhan. Sayangnya harapan tersebut akan menjadi mimpi di siang bolong, bila kita tidak mempersiapkan dan memperjuangkannya. Melalui narasi Injil Markus kita akan melihat bahwa masa penantian adalah juga masa persiapan. Persiapan menyambut Ia yang akan membaptis dengan Roh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Seorang Kaisar Romawi Markus Aurelius berkata <em>\u201dSegala sesuatu mengenai Allah sarat nubuatan. Segala sesuatu mengalir dari sorga\u201d.<\/em> Apa yang dinyatakan Aurelius ini mau menyatakan sejarah bukan kaleidoskop acak dan serangkaian peristiwa yang tidak saling berhubungan. Sejarah adalah suatu proses yang telah direncanakan oleh Allah yang sudah melihat tujuan akhir (keselamatan) sejak permulaan peristiwa. William Barclays seorang penafsir melihat itulah alasan Markus memulai injilnya dengan jauh kebelakang bukan kisah kelahiran ataupun Yohanes pembaptis. Injil Markus dimulai dengan nubuatan para Nabi pada masa silam, dengan kata lain Injil ini dimulai jauh pada masa lampau yang dimulai dari pikiran Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sebagai orang percaya kita masuk dalam proses keselamatan tersebut dan kita bisa membantu ataupun\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menghalanginya. Seperti yang telah dituliskan William Barclay dalam tafsiran Markus \u201cTujuan tidak akan pernah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">diraih kecuali ada orang yang mengupayakannya\u201d. Petikan di ayat Markus 1:3 sebenarnya mempunyai arti yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">sama dengan Maleakhi 3:3 yang menyatakan <em>\u201cLihat, Aku menyuruh utusan-Ku , supaya ia mempersiapkan jalan\u00a0<\/em><\/span><span style=\"color: #000000;\"><em>di hadapan-Ku!\u201d.<\/em> Konteks ayat tersebut adalah ketika para Imam gagal mengemban kewajiban mereka. Kurbankurban\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">persembahan yang mereka berikan bercacat dan bukan yang terbaik. Pelayanan bait Allah dirasakan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">sebagai sesuatu yang meletihkan. Melihat hal tersebut, maka utusan itu datang untuk membersihkan dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menyucikan ibadah bait Allah sebelum Dia yang diurapi Allah tampil di bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Oleh karena itu dimana Kristus diijinkan datang, disitulah antiseptik Iman Kristen membersihkan racun moral\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">masyarakat. Yohanes pembaptis hadir dengan baptisan pertobatan, baptisan yang membersihkan racun moral\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">di masyarakat. Kesaksian Yohanes pembaptis berdasar apa yang ditulis oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 40:4.\u00a0<\/span><em><strong><span style=\"color: #000000;\">&#8220;Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus\u00a0<\/span><\/strong><\/em><span style=\"color: #000000;\"><em><strong>menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran\u201d.<\/strong><\/em> Itulah gambaran pertobatan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang diserukan Yohanes, yakni runtuhnya puncak kesombongan, tertimbunnya lembah kekelaman, dan lurusnya\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">hati yang bengkok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Seharusnya seruan baptisan pertobatan itu juga menjadi panggilan orang percaya. William Barclay mengambil\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">contoh ketika Billy Graham berkhotbah di Sheverport, Louisiana, penjualan minuman keras turun hingga 30%\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dan penjualan Alkitab meningkat 300%. Begitu juga ketika Billy Graham berkhotbah di Greensbro, Carolina\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Utara, ada banyak pembatalan perceraian terjadi. Inilah panggilan seorang percaya yang merupakan bagian dari\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">rencana keselamatan, Ia hadir mengupayakan pertobatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pertobatan adalah istilah yang sering digunakan oleh para penginjil untuk meringkaskan sikap yang dikehendaki\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Allah dari manusia. Namun demikian, arti kata pertobatan dalam Alkitab mencakup banyak aspek dan dimensi.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Pertobatan tidak harus selalu dikaitkan dengan dosa berat. Perjanjian Baru menjelaskan, terdapat dua kata untuk\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pengertian pertobatan. Kedua kata tersebut saling melengkapi. Kata yang pertama: <em>metanoia<\/em>. Kata ini merujuk\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kepada suatu perubahan dalam hati, perasaan, pengalaman, daya upaya dan rencana kita. Kata yang kedua:\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><em>epistrophe<\/em>. Kata ini menunjuk kepada suatu perubahan dalam tingkah laku kita yang kelihatan. Melihat dari\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">penjelasan, pertobatan bukan berarti hanya dalam hati saja melainkan setiap perubahan dalam hati yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kemudian menghasilkan pembaruan dalam tingkah laku, sikap hidup dan karakter orang percaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setiap orang dipanggil untuk merespons panggilan Allah dengan melakukan pertobatan atau melakukan hal-hal\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang dikehendaki Allah agar dilakukan manusia. Oleh sebab itu pertobatan dimaknai sebagai mengatakan \u201cya\u201d\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">atas undangan Tuhan. Allah menantikan kita berkata dan bertindak \u201cya\u201d atas undangan kasih-Nya. Ia rindu\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menerima jawab kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Di dalam narasi Injil yang menampilkan sosok Yohanes pembaptis itu, Markus mengatakan pada kita bahwa\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Allah sangat mengasihi umat-Nya. Karena itu umat yang sedang menanti hadirnya Mesias dan menerima jawab\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bahwa Mesias sudah hadir, diundang untuk mengikut jejak Yohanes pembaptis yang menyerukan berita\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pertobatan. Mari katakan \u201cya\u201d pada kehendak Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><em>\u201cBertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.&#8221;\u00a0(Markus 1:4b)<\/em><\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\">Minggu, 23 Desember 2018<\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><strong><em>MAGNIFICAT<\/em>: KIDUNG PUJIAN MARIA (<\/strong><\/span><span style=\"color: #993366;\"><strong>Lukas 1: 46-55)<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Salam Sejahtera bagi seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. <strong>\u201c\u2026oh kidung yang indah kau luputkan aku dari sebuah dosa\u2026\u201d<\/strong> penggalan sebuah lagu berjudul \u201cKidung\u201d yang dilantunkan oleh Chrisye yang menggambarkan hati yang meyakini adanya pengharapan akan hidup yang lebih baik. Kidung dinyanyikan tidak hanya sebagai rangkaian syair tanpa makna, tetapi juga untuk meluapkan ungkapan hati pelantunnya Maka kidung laksana doa pengharapan kepada Sang pencipta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Lukas 1:46-55 adalah sebuah kidung yang dilantunkan Maria. Maria adalah perempuan biasa, tidak memiliki kekuatan kuasa apapun. Dengan demikian menjadi hal yang wajar jika anugerah yang disampaikan malaikat Gabriel tidak dengan serta merta diterimanya. Ia melewati pergumulan berproses hingga akhirnya menyadari bahwa tiap kehendak Allah diiringi berkat bagi umat yang setia padaNya. Sampai kemudian ia mampu mengatakan, \u201cSesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu.\u201d Maria pun menemukan dan menyadari bahwa Karya Allah yang besar hidup atasnya dan mensyukuri Anugerah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Visitasi adalah episode selanjutnya, dimana Maria melakukan perjalanan ke rumah sepupunya, Elisabet. Perempuan yang menerima anugerah Tuhan pada usia yang lanjut. Usia yang sudah tidak lagi wajar untuk mengandung dan melahirkan seorang anak. Elisabet pun menyambut Maria dengan kerendahan hati dan mengakui bahwa yang menyapanya dengan salam tidak sekedar sepupunya, melainkan ibu Tuhannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Maria yang mendengar ungkapan Elisabet itu pun merasa dikuatkan dan menyambutnya dengan lantunan kidung, yang dikenal dengan<em> magnificat<\/em>. <em>Magnificat<\/em> merupakan kidung atau nyanyian Maria yang diawali dengan baris <em>magnificat anima mea Dominum<\/em>, jiwaku memuliakan Tuhan. Di dalam kidung itu nampak gambaran-gambaran dan ungkapan dari Mazmur dan kemiripan dengan kidung yang juga dinyanyikan oleh Hana (1 Samuel 2: 1-10). Hana pun melantunkan sebuah kidung yang menggambarkan syukur atas kekuatan dan penyertaan Allah bagi hamba-Nya yang mengalami situasi yang tertekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Di dalam keindahan <em>Magnificat<\/em> tersebut ada dimensi iman personal Maria, yang percaya, bersyukur,dan bersukacita atas rancangan Allah. Tetapi juga ada dimensi intrapersonal menunjukan revolusi dunia yang akan dibawa oleh Kristus. Dua dimensi inilah yang akan terus kita hidupi sebagai seorang Kristiani. Kita yang terus diperbaharui untuk mengasihi Allah, dan kita yang terus diperbaharui untuk hadir bagi sesama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Orang Kristen dikenal sering melantunkan kidung, baik dalam ibadah ataupun dalam kegiatan-kegiatan persekutuan. Baik dalam kondisi senang atau susah. Orang Kristen identik dengan melantunkan kidung. Tentu saja Kidung tidak sekedar berfokus pada nada atau pun notasi, tetapi bagaimana kita bisa mengungkapkan Karya Allah dalam hidup kita. Sebuah kidung yang penuh kejujuran dan kepercayaan akan kasih Allah yang nyata adalah kisah kesaksian hidup yang sejati dan yang menguatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Mari melantunkan Kidung-Kidung Hati menyambut Sang Raja.<\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 30 Desember 2018<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><strong><em>CARPE DIEM<\/em>: PETIK-LAH HARI (Roma 5:3-5)<\/strong><\/span><\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Salam dalam Kasih Kristus untuk semua jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor.Selamat Natal\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dan Selamat menyambut Tahun Baru. Tidak terasa kita akan mengakhiri tahun 2018 ini. Menjadi baik\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bila kita bisa merenungkan \u201cApakah kita sudah memetik hari dengan maksimal di tahun 2018 ?\u201d\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><em>CARPE DIEM. Carpe: pick or pluck.<\/em> Kata ini biasa digunakan sastrawan Roma untuk menyebut istilah:\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">\u201cnikmati, gunakan\u201d. Sedangkan <em>DIEM<\/em> berasal dari kata <em>dies<\/em>, atau <em>day<\/em> secara harfiah mempunyai arti\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">\u201cpetik, rebutlah hari ini\u201d. <em>Carpe Diem<\/em> (petiklah hari)berasal dari pandangan Horace, sastrawan Roma\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang menulis: <em>Carpe Diem quam minimum credula postero \u2013 Seize the day, put very little trust in\u00a0<\/em><\/span><span style=\"color: #000000;\"><em>tomorrow.<\/em> Kalimat ini seolah bermakna bahwa masa depan tidak penting. Tetapi pertanyaannya,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bukankah melakukan sesuatu di masa kini juga menentukan masa depan? Pendek kata, <em>Carpe Diem<\/em>\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mengandung pengertian bahwa \u201chidup adalah perjuangan\u201d. Setiap hari harus kita menangkan, bahkan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dalam setiap penderitaan pun selalu ada pembelajaran hidup yang kita dapatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Perenungan akan <em>Carpe Diem<\/em> ini mengingatkan kita dari satu bagian tulisan Rasul Paulus di\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Roma 5:3-5 yang berbunyi \u201c Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang telah dikaruniakan kepada kita.\u201d Kesengsaraan yang dialami orang percaya menimbulkan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">ketekunan. Kata \u201cmenimbulkan\u201d dalam teks aslinya adalah katergazomai (\u03ba\u03b1\u03c4\u03b5\u03c1\u03b3\u1f71\u03b6\u03bf\u03bc\u03b1\u03b9), yang artinya\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">membentuk, mengerjakan, mencapai, dan menghasilkan. Jadi penderitaan yang dialami orang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">percaya dapat menghasilkan buah atau dapat mencapai ketekunan. Adapun ketekunan di sini dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bahasa aslinya adalah hupomone (\u1f51\u03c0\u03bf\u03bc\u03bf\u03bd\u1f75), maksudnya adalah ketahanan, konsistensi, keteguhan,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dan kesabaran <em>(steadfastness, constancy, endurance, patience).<\/em> Kata <em>hupomone<\/em> (diterjemahkan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dengan bertahan) juga digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:13 \u201cTetapi orang yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa ketekunan menimbulkan tahan uji. Kata tahan uji dalam teks\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">aslinya adalah<em> dokime<\/em> (\u03b4\u03bf\u03ba\u03b9\u03bc\u1f75), yang artinya \u201cterbukti atau contoh dari sebuah kelayakan\u201d setelah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mengalami atau menerima ujian. Paulus mau menunjukkan bahwa sikap menghadapi kesengsaraan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menjadi cara pembuktian apakah seseorang layak untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus\u00a0atau tidak. Percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Dia menjadi nyata melalui pergumulan dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mempertahankan imannya dengan sikap hidup seturut kebenaran firman Tuhan. Hal inilah yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">membuat orang beriman senantiasa memiliki pengharapan dalam kehidupannya. Pada akhirnya\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pengharapan itu tidak mengecewakan, sebab kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Pernyataan Paulus ini menjadi kekuatan dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menghadapi kesengsaraan karena kasih Allah yang selalu memenuhi hati setiap pribadi orang<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">beriman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><em>Carpe Diem<\/em> mengingatkan kita bahwa tiap hari adalah hari yang berharga. Maka tiap hari yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dianugerahkan Tuhan haruslah diperjuangkan. Kita bisa kecewa di tahun 2018 ataupun bermimpi\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">indah untuk tahun 2019. Maka petiklah hari dan hidupilah dalam pengharapan Kasih Allah. Memetik\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">hari bukan sekedar bersukacita dalam keberhasilan, tetapi juga belajar dari penderitaan. Penderitaan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang memproses kita pada pemenuhan diri. Pemenuhan dalam pengharapan akan Allah.<\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">Selamat menyambut 2019 dalam Pengharapan Kasih Allah.<\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desember 2018 Minggu, 2 Desember 2018 YUSUF: TELADAN KETAATAN (Matius 1: 18-25) Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Tak Terasa kita sudah di penghujung akhir tahun 2018 dan Natal sudah di depan mata. Dahulu dalam sebuah kesempatan, Paus Yohanes Paulus II berkata &#8220;The truth is not always the same as the<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"template-right-secondary-sidebar-no-page-title.php","meta":{"footnotes":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/4909"}],"collection":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4909"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/4909\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4921,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/4909\/revisions\/4921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}