{"id":5932,"date":"2020-01-03T22:27:37","date_gmt":"2020-01-03T15:27:37","guid":{"rendered":"http:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/?page_id=5932"},"modified":"2020-01-25T10:15:49","modified_gmt":"2020-01-25T03:15:49","slug":"januari-2020","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/januari-2020\/","title":{"rendered":"Januari 2020"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><b>Januari 2020<\/b><\/span><\/h2>\n<h2 style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-2903 aligncenter\" style=\"font-family: inherit; font-size: 15px; font-style: inherit; font-weight: inherit; color: #58585a;\" src=\"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor.png\" alt=\"ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor\" width=\"704\" height=\"97\" \/><\/h2>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><br \/>\nMinggu, 5 Januari 2020<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">LITURGI KEHIDUPAN SETIAP HARI<\/span><\/strong><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selamat Tahun Baru 2020 umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, puji Tuhan Yesus kita telah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mengakhiri tahun 2019 dan memasuki tahun 2020. Kiranya salah satu resolusi yang kita buat adalah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bagaimana kita menghayati ibadah dengan benar dan menerapkannya dalam kehidupan kita setiap\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">hari. Sehingga ibadah kita tidak berhenti di dalam gereja tetapi mewarnai kehidupan setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Saudara yang terkasih, bagian mana dari liturgi yang menurut Saudara paling penting? Banyak orang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">akan menjawabnya: \u201cPemberitaan Firman.\u201d Oleh karena itu ada pandangan yang mengatakan, \u201cBoleh\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">terlambat, asal sebelum kotbah! Barangkali ada juga yang mengatakan: \u201cPersembahan.\u201d Jadi boleh\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dong tidak datang ibadah, asal tidak lupa menitip persembahan? Atau yang penting adalah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pengutusan dan berkat? Di sini kita mendapatkan berkat dari Tuhan. Jadi yang lain boleh ditinggalkan,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">tetapi yang ini jangan. Semua sikap atau pandangan itu membuat ibadah kita menjadi tidak utuh. Pada\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">saat yang sama membuat kita kurang menghayati dan menghargai ibadah kita dengan benar.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Misalnya kita sibuk membaca warta, asyik dengan <em>gadget<\/em>, sibuk dengan diri sendiri atau tidur saat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">ibadah (kotbah dan doa syafaat?), serta asyik ngobrol? Bila hal ini terjadi maka tidak mengherankan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bila ibadah yang kita jalani seringkali tidak memberi pengaruh atau warna yang mengubah hidup kita.\u00a0Tidak mengherankan bila kita tidak mendapatkan apa-apa di dalamnya. Bahkan tidak jarang mendatangkan kekesalan dan kekecewaan. <strong>Kita belum bisa menghayati bagian-bagian dari\u00a0<\/strong><strong>ibadah sebagai sarana perjumpaan dengan Tuhan yang melaluinya kita disapa dan diajak untuk\u00a0<\/strong><strong>berubah.<\/strong> Bagaimana dengan ibadah Saudara selama ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Saudara yang terkasih, <strong>liturgi<\/strong> (<em>Yunani<\/em>) atau<strong> ibadah<\/strong> (<em>Ibrani, Arab<\/em>) atau<strong> kebaktian<\/strong> (<em>Sansekerta<\/em>)\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mempunyai arti yang sama. Maka dalam penggunaanya setiap hari kita cukup menuliskan: Liturgi\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Minggu atau Kebaktian Natal atau Ibadah Paskah. Di dalamnya kita mengenal kerangka dasar (ordo\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dasar) yang terdiri dari empat langkah, yautu: 1). <strong>Berhimpun<\/strong> (<em>Gathering<\/em>) \u2013 2) <strong>Pelayanan Firman<\/strong>\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">(<em>Word<\/em>) \u2013 3) <strong>Pelayanan Meja<\/strong> (<em>Table<\/em>) \u2013 4) <strong>Pengutusan<\/strong> (<em>Dismissal<\/em>). Liturgi mengalir lancar dan dinamis\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">sejak awal sampai kepada pengutusan. Oleh karena itu umat harus memperhatikan setiap bagian\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">ibadah dengan baik. Sehingga sambutan (misalnya kata: Amin, Haleluya, nyanyian, sikap duduk dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">berdiri tidak perlu diajak atau diingatkan. Ini bisa terjadi kalau kita menghayati ibadah yang kita lakukan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dengan sepenuh hati. Semua bagian dari ibadah kita memiliki arti yang sama pentingnya. Semuanya\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">terangkai menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari awal sampai akhir. Jadi mari kita\u00a0hidupi kebaktian yang kita jalani dengan kesadaran diri dan ketulusan hati. Sehingga setiap liturgi yang\u00a0kita jalani menghantarkan kita berjumpa dengan Allah dan sesama, baik di dalam gereja maupun dalam kehidupan setiap hari. Tuhan Yesus memberkati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">(bersambung)<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">Forum Pendeta<\/span><\/strong><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 12 Januari 2020<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">IBADAH: KINI DAN NANTI<\/span><\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><strong>\u201cLatihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung<\/strong><\/em><br \/>\n<em><strong>janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang\u201d (1 Timotius 4:8)<\/strong><\/em><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, apakah Saudara senang dengan aturan? Suka atau tidak suka dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">hidup ini kita akan berhadapan dengan berbagai macam aturan. Dari yang paling sederhana, misalnya mencuci\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">tangan sebelum makan sampai yang agak berat, misalnya pola hidup sehat adalah sebagian dari aturan yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kita jumpai dalam kehidupan kita. Banyak orang yang tidak suka dengan aturan, padahal setiap aturan bertujuan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Lebih dari itu aturan yang dibuat, misalnya minum obat adalah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">agar menghasilkan dampak yang maksimal dalam menghadirkan kesembuhan. Demikian juga dalam ibadah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kita, ibadah diatur atau ditata sedemikian rupa agar umat dapat menghayati dan mengalami perjumpaan dengan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Tuhan. Pada akhirnya umat dapat merasakan dampak yang nyata dari setiap ibadah baik untuk saat ini maupun\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">untuk hidup di masa yang akan datang. Bagaimana dengan penghayatan kita akan setiap bagian dari liturgi yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kita jalani dalam ibadah setiap minggu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Mari kita mengenal bagian atau unsur-unsur dalam Liturgi Minggu sehingga kita bisa menghayatinya dengan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">benar. Unsur-unsur dalam Liturgi Minggu meliputi:<br \/>\n<strong>#BERHIMPUN.<\/strong> Dalam bagian ini umat dipersiapkan memasuki ibadah, umat datang membentuk persekutuan jemaat, menghadap dan menyadari kehadiran Allah, dan dipersiapkan untuk mengikuti liturgi Firman atau liturgi Meja (Perjamuan Kudus). Pada umumnya ada tiga bagian yaitu: datang kehadapan Tuhan, mengakui dosa, dan menerima berita pengampunan dari Tuhan. Dimulai dengan<strong> prosesi<\/strong> atau <strong>introitus<\/strong> (<em>antre<\/em>= masuk beriringan). Prosesi dipahami sebagai prosesi umat yang datang berhimpun untuk menghadap Allah, walaupun dalam prakteknya demi alasan praktis, hanya para pelayan liturgi yang berarakan memasuki ruang ibadah. Itulah sebabnya selama prosesi umat berdiri sebagai tanda ikut berprosesi bersama para pelayan liturgi. Pada dasarnya umat tidak menyambut para pelayan liturgi (pendeta atau penatua) tetapi mengiringi Alkitab yang diarak para pelayan liturgi. Jemaat ikut mengiringi Alkitab, yakni lambang kehadiran Kristus sebagai Firman. Dalam prosesi ini pembawa Alkitab berjalan paling depan, diikuti oleh pelayan liturgi: pelayan firman, pelayan persembahan dan lainnya bila ada. Prosesi ini disertai dengan nyanyian umat. Nyanyian prosesi berfungsi membentuk suasana persekutuan, sebab itu jangan terlalu singkat. Perarakan sukacita dalam prosesi ini juga mengingatkan pada segi eskatologis dari ibadah, yaitu pengharapan akan kedatangan Kerajaan Allah. Kita berarak menuju Yerusalem baru. Oleh karena itu datang dan mempersiapkan diri sebelum ibadah dimulai menjadi sangat penting. Prosesi ini mengingatkan kita akan kesiapan diri dalam perarakan bersama Kristus memasuki Kerajaan Allah dalam kemenangan.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setelah prosesi berakhir, pelayan liturgi (biasanya pelayan firman) mengucapkan: <strong>Votum<\/strong> yaitu pernyataan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bahwa pertemuan ibadah berlangsung <em><strong>\u201cdalam nama TUHAN<\/strong><\/em> \u201c (Kolose 3:17). Hal ini menegaskan bahwa bukan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">manusia yang berinisiatif tetapi Allah. Allah yang mengundang kita sebagai umat-Nya untuk datang beribadah.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Oleh karena itu datang dengan patut, layak dan sopan serta hormat menjadi hal yang harus kita sadari. Apakah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">itu pakaian yang kita kenakan, kata-kata, sikap yang kita jaga juga penghayatan penuh akan perjumpaan dengan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Allah. Pernyataan votum ini dibenarkan dan disambut umat dengan mengucapkan atau menyanyikan Amin\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">(misal KJ 476-478, NKB 226-229). Diikuti dengan<strong> salam<\/strong> yang disampaikan pelayan liturgi ketika umat masih\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">berdiri. Salam dari pelayan liturgi: \u201c <em>Tuhan besertamu<\/em>\u201d atau \u201c<em>Tuhan beserta kita<\/em>\u201d dan dijawab oleh umat dengan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">salam juga: \u201c<em>dan besertamu<\/em>\u201d atau \u201c<em>kini dan selamanya<\/em>.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pelayan liturgi menyampaikan <strong>Kata Pembuka<\/strong> sebagai pengantar kebaktian. Kata Pembuka dapat berisi tentang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">nama hari minggu (Adven, Prapaskah, Epifani) atau perayaan khusus, tema ibadah dan\/atau membacakan nas\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pendahuluan. Disambut dengan nyanyian umat yang sesuai dengan tema atau nas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasih Tuhan, perjumpaan dengan Tuhan dalam ibadah menghadirkan kesadaran\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">akan kekudusan dan kemuliaan Allah dan kekurangan dalam diri kita. Inilah yang menghantar kita untuk\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mengakui kekurangan kita melalui <strong>Pengakuan Dosa<\/strong>. Seperti pemungut cukai (Lukas 18:13) yang menyadari\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kekurangan dan dosanya dihadapan Tuhan serta memohon belas kasihan. Doa pengakuan dosa bersifat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">komunal, walaupun ada pelayan liturgi yang memberi kesempatan kepada umat untuk berdoa secara pribadi.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Doa dapat disusun dan dipersiapkan serta diucapkan oleh pelayan liturgi. Doa pengakuan dosa bisa disesuaikan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dengan tema ibadah minggu, sehingga pengakuan dosa ini mencakup banyak kekurangan dan dosa dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kehidupan kita. Nyanyian setelah pengakuan dosa disambut dengan <strong>Berita Anugerah<\/strong>. Berita Anugerah berisi\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">firman yang menyatakan pengampunan Allah, oleh karena itu harus singkat dan jelas. Bisa diambil dari ayat-ayat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang sesuai dengan tema hari itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Salam Damai.<\/strong> Ritus ini: <strong>Salam Damai<\/strong> (<em>passing of the peace<\/em>) adalah sebuah tindakan rekonsiliasi. Salam damai\u00a0ditempatkan setelah berita anugerah sebagai tindak simbolis rekonsiliasi antar sesama, sebagai umat yang telah\u00a0diperdamaikan dengan Allah dalam dan melalui Kristus. Pada saat yang sama melalui ritus ini kita menegaskan\u00a0pentingnya sikap keramahtamahan (<em>hospitality<\/em>) dalam ibadah dan kehidupan orang Kristen. Dengan berjabat\u00a0tangan umat saling berjumpa secara personal, sehingga ibadah tidak hanya bersifat vertikal namun juga memiliki\u00a0sifat horisontal. Hal ini juga penting bagi mereka yang baru bergabung atau datang pertama kali. Lewat salam\u00a0damai, mereka dapat merasakan sedikit sentuhan kehangatan dari komunitas umat beriman. Kiranya\u00a0pengampunan dan berita anugerah senantiasa menghadirkan rekonsiliasi dan kemauan dalam diri untuk\u00a0menghadirkan keramahtamahan Allah pada sesama. Tuhan Yesus memberkati. (BERSAMBUNG\u2026\u2026LITURGI<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">FIRMAN)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Forum Pendeta<\/strong><\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 19 Januari 2020<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #993366;\"><strong>IBADAH: KINI DAN NANTI 2<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>\u201cJadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus\u201d (Roma 10:17).<\/strong><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Alkisah ada seorang cucu yang bertanya kepada sang nenek mengapa sang nenek rajin beribadah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dan membaca firman Tuhan. Apa yang manfaat yang diperoleh sang nenek dari kegiatan itu? Sang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">nenek menyuruh sang cucu mengambil air ke sungai dengan menggunakan sebuah keranjang. Sang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">cucu mengatakan bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin. Tetapi sang nenek memaksa agar\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">cucunya mencoba melakukannya. Akhirnya dengan sedikit terpaksa cucu itu melakukan apa yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">diperintahkan neneknya. Setelah melakukan beberapa kali, ia mengatakan kepada sang nenek bahwa\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">itu adalah kegiatan yang sia-sia. Sang nenek mengajak cucunya melihat keranjang yang basah. Ia\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">berkata kepada cucunya: \u201cLihatlah, kamu memang tidak bisa membawa air dengan keranjang ini.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Tetapi perhatikan, keranjang ini menjadi lebih bersih dari sebelumnya. Demikian juga dengan ibadah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dan membaca firman Tuhan, tanpa kita sadari itu menjadikan hati dan hidup kita menjadi lebih baik.\u201d\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Pengaruh dan perubahan apa yang kita rasakan sebagai dampak dari ibadah dan firman Kistus yang\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kita dengat setiap saat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang mengasihi Tuhan, bila <strong>Liturgi Berhimpun<\/strong> membawa jemaat dalam suatu pergerakan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menuju ke hadapan Allah, maka dalam <strong>Pelayanan Firman atau Liturgi Firman<\/strong>, jemaat berdiam di\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">hadapan Allah. Hal utama pada bagian ini yaitu komunikasi: Allah berbicara melalui Alkitab dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">jemaat mendengarkan-Nya. Dalam Pelayanan Firman, Kristus, Firman Hidup itu sendiri hadir dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">berbicara kepada umat-Nya. Dalam Pelayanan Firman, Kisah Keselamatan diceritakan, dikenangkan,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">diproklamasikan, dinyanyikan dan diutuskan agar umat menjalankan cerita itu dalam kehidupan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">sesehari. Inti pelayanan Firman adalah Kisah itu sendiri: Kisah Allah yang berkarya dalam sejarah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menuju penyelamatan ciptaan. Pembacaan Alkitab dan khotbah secara bersama-sama memimpin\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">jemaat kepada respon dalam bentuk <strong>pengakuan iman, doa syafat dan nyanyian.<\/strong><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sebelum pembacaan Akitab, dinaikkan <strong>Doa Pelayanan Firman<\/strong>, yaitu permohonan akan pertolongan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Roh Kudus, agar Firman Hidup dapat dimengerti oleh umat. Doa Pelayanan Firman disampaikan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dengan kesadaran bahwa tanpa pimpinan dan penerangan Roh Kudus, firman \u2013 baik yang dibacakan,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">diberitakan, maupun dirayakan \u2013 tidak dapat dipahami oleh jemaat. Doa ini penting karena\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">menunjukkan kelemahan dan keterbatasan umat sekaligus ketergantungan umat kepada Roh Kudus\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">untuk menerima kebenaran Firman Tuhan. Oleh karena itu umat dengan rendah hati memohon\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kepada Roh Kudus agar memimpin, menerangi dan menguasai diri mereka sepenuhnya, supaya\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mampu menerima dan memberlakukan firman itu dalam kehidupan sesehari. Setelah doa dinaikkan,\u00a0dimulailah pembacaan-pembacaan Alkitab. Pembacaan Alkitab sama pentingnya dengan khotbah! Hal ini harus diperhatikan. Khotbah yang disampaikan harus berdasarkan Alkitab. Oleh karena makna itu Pembacaan Alkitab sangat penting. Jadi adalah keliru bila kita hanya menitikberatkan pada khotbah dan kurang memperhatikan Pembacaan Alkitab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Pelayanan Firman<\/strong> terdiri dari dua bagian utama, yaitu pembacaan-pembacaan Alkitab dan khotbah.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Bacaan pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama. Pada minggu-minggu Paskah, bacaan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">pertama diambil dari Kisah Para Rasul. Bacaan kedua diambil dari Surat-surat Rasuli dan Injil sebagai\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bacaan ketiga. Perikop yang dibaca sesuai dengan daftar bacaan (<em><strong>lectionarium<\/strong><\/em>) hari itu. Pembacaan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Perjanjian Lama ditanggapi oleh jemaat dengan Pembacaan Mazmur yang sesuai, yang dibacakan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">atau dinyanyikan secara <em>responsoris, alternatim<\/em> atau <em>unison<\/em>. Pembacaan Injil sebagai pewartaan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit sebagai sumber dan dasar kehidupan dalam anugerah Tuhan.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Pembacaan Injil menurut tahun liturgi yaitu Matius (tahun A), Markus (tahun B), Lukas (tahun C), dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Yohanes pada masa-masa tertentu. Setelah pembacaan Injil umat menyambut dengan nyanyian\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">peralihan (<em><strong>graduale<\/strong><\/em>) yang bersifat ordinarium: <strong>Haleluya<\/strong>. Selama minggu-minggu Adven: <strong>Maranata<\/strong>\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dan Prapaskah, umat menyambut dengan <strong>Hosana<\/strong>. Dengan demikian jemaat dapat lebih menghayati\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">tahun-tahun gerejawi yang sedang dirayakan dengan lebih khidmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setelah itu khotbah disampaikan. Khotbah telah ada sejak dalam ibadah di sinagoge dan jemaat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">purba. Dalam perjalannya ada gereja yang menempatkan khotbah pada tempat yang sentral dalam\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">ibadah. Sedangkan Gereja Kristen Indonesia tidak setuju dengan hal ini. Alasannya: khotbah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">merupakan salah satu unsur dari ibadah, sama seperti doa, nyanyian, pengakuan iman. Khotbah\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">adalah sarana yang Tuhan pakai untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat yang berkumpul.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Tujuan khotbah adalah mendidik jemaat. Oleh karena itu khotbah sebaiknya bersifat edukatif dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">bukan uraian dogmatis belaka. Khotbah juga bukan sekedar pidato, berbicara di depan umum, atau\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">sekedar menyampaikan kesaksian pribadi sang pengkhotbah. Khotbah juga bukan stand up komedi.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Khotbah adalah unsur kunci untuk menjelaskan firman Tuhan, firman yang harus dikomunikasikan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">secara terbuka dan mendalam. Sebab melalui firman-Nya Tuhan Yesus mengumpulkan, mendirikan,<\/span><br \/>\n<span style=\"color: #000000;\">melindungi dan menjaga umat-Nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Oleh sebab itu, agar khotbah dapat diresapi oleh umat, setelah selesai disampaikan disambut dengan:<strong>\u00a0<\/strong><\/span><span style=\"color: #000000;\"><strong>Saat Hening<\/strong>. Bukan dengan unsur yang lain. <strong>Saat Hening<\/strong> hendaknya tidak diisi dengan bunyi-bunyian\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">atau nyanyian. Saat hening adalah saat dimana umat meresapi apa yang didengarnya. Apa\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang diperintahkan Tuhan untuk dilakukan. Apa yang harus ditinggalkan dan diubah dalam hidup.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Nasihat apa yang harus diperhatikan agar hidup menjadi lebih baik. Penghiburan apa yang membuat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">kita kuat menghadapi kehidupan. Janji seperti apa yang kembali Tuhan teguhkan dan kita aminkan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">dalam hidup. Peringatan apa yang harus membuat kita waspada dan berjaga-jaga. Ucapan syukur\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">apakah yang kita syukuri dari hidup yang kita jalani. Apakah ada dosa yang harus kita akui? Umat\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">yang terkasih, bila ini terjadi, maka iman akan tumbuh. Iman yang bertumbuh membuat hidup\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">berkualitas. Hidup yang berkualitas menghadirkan dampak yang nyata dalam kehidupan sesehari.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Bukankah manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">mulut Allah. Selamat Bertumbuh. (Bersambung).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>Forum Pendeta<\/strong><\/span><\/p>\n<hr \/>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">Minggu, 26 Januari 2020<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #993366;\">IBADAH: KINI DAN NANTI<\/span><\/strong><br \/>\n<strong><span style=\"color: #993366;\">\u201cPENGAKUAN DOSA DAN BERITA ANUGERAH\u201d<\/span><\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong><span style=\"color: #000000;\">\u201cTuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa\u201d (Lukas 5:8)<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, apa yang terbayang dalam benak Saudara ketika dikatakan: \u201cKita orang berdosa\u2026.\u201d, apakah Saudara akan keberatan atau tersinggung? Orang akan lebih marah ketika dikatakan: \u201cKita ini orang licik, suka menipu dan munafik atau tidak bijak dalam bertindak\u201d! Hal ini terjadi karena pengertian tentang kata berdosa atau dosa seringkali dipakai secara enteng. Seakan-akan sudah menjadi yang lumrah atau biasa dalam kehidupan kita. Oleh karena itu kata: \u2018Tuhan ampuni dosa kami.\u201d sering kita ucapkan dengan ringan dan datar. Tanpa getaran rasa yang menghadirkan kegentaran dan rasa bersalah apalagi kengerian. Dosa seringkali dipersempit menjadi kesalahan dan pelanggaran, yang bisa jadi terus berulang seakan-akan suatu kebiasaan yang tidak akan berdampak apa-apa dalam kehidupan kita. Tanpa kita sadari daya rusak dari dosa itu sudah menghancurkan sendi-sendi kehidupan berkeluarga, bergereja, bernegara dan beragama. Lihatlah korupsi di lembaga keagamaan, pertikaian di lembaga yang katanya menyembah Tuhan dan hancurnya tatanan rumah tangga yang sumpahnya diikrarkan di altar. Penulis kitab Roma mengatakan: \u201cSebab upah dosa adalah maut\u2026\u201d(Roma 6:23a). Bukankah semua itu sedang menjalar menebarkan kehancuran dalam berbagai sudut kehidupan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dalam Injil Lukas 5:8, saat Petrus berkata: \u201cTuhan Pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa.\u201d Bukan ketika ia berbuat kesalahan atau melakukan pelanggaran. Petrus takjub atas keagungan dan kebaikan Tuhan. Pada saat itu ia sadar bahwa kualitas dirinya begitu jauh berbeda dari Tuhan Yesus. Petrus merasa bahwa hubungannya dengan Tuhan terputus. Ia tidak punya hubungan dengan Tuhan. sebab itu ia merasa tidak layak di hadapan Tuhan. Inilah dosa, hidup tanpa hubungan dengan Tuhan, seperti lampu tanpa aliran listrik. Seperti <em>handphone<\/em> tanpa baterai. Seakan hidup tetapi mati. Terpisah dari sumber kehidupan. Betapa pun terlihat indah dan mewah. Oleh karena itu di kayu salib Tuhan Yesus berteriak: \u201cEloi, Eloi, lama Sabakhtani\u201d (Markus 13:34). Hidup yang terpisah dan ditinggalkan Allah adalah hidup yang sangat mengerikan. Dan itu semua disebabkan oleh dosa kita (lih.Yesaya 59:1). Dosa bukan sekedar pelanggaran dan kesalahan. Dosa adalah jalan hidup yang salah dan arah\u00a0hati yang salah. Itulah sebabnya banyak orang tidak menemukan arah hidup seperti yang Tuhan kehendaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Umat terkasih, itulah sebabnya dalam setiap ibadah umat dipanggil untuk bertobat: menyadari, mengakui, menyesali dan berjanji untuk hidup kembali di jalan Tuhan. Pengakuan dosa tidak selalu mudah. Banyak orang yang tidak menyadari dosa-dosanya. Banyak orang tidak bersedia mengakui dosa-dosanya. Banyak orang merasa nyaman dalam kubangan dosanya. Banyak orang menyadari tetapi tidak cukup berani untuk berubah. Atau tidak cukup kuat untuk mengubah arah hatinya. Padahal Pengakuan dosa adalah hal penting dan mendasar dalam relasi dengan Tuhan (Lih. 1Yoh.1:9). Pengakuan Dosa dan pertobatan menghadirkan pengampunan dan pemulihan kualitas hidup. Hidup seperti yang Tuhan Yesus kehendaki dan rencanakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tuhan menanggapi setiap pengakuan dosa dan pertobatan dari umatNya. Pelayan Liturgi akan membacakan Berita Anugerah. Berita Anugerah berisi berita pengampunan dari Allah. Pengampunan yang menghadirkan pendamaian dalam kehidupan umat Allah. Relasi kita dengan Allah dan dengan sesama dipulihkan. Pelayan Liturgi tidak memberikan pengampunan tetapi memberitakan pengampunan. Berita anugerah harus jelas: bukan dalam bentuk pengharapan tetapi dalam bentuk kenyataan yang sudah terlaksana oleh Allah dalam diri Kristus. Berita anugerah ini direspon umat dengan menyanyikan nyanyian sambutan untuk hidup dalam pertobatan dan anugerah yang Allah berikan. Pdt. Em. Andar Ismail menulis: \u201cMengaku diri berdosa di hadapan Tuhan bukanlah perkara mudah dan ringan. Apalagi menerima pengampunan dari Tuhan. Sebab itu rumpun unsur-unsur liturgi ini perlu dipersiapkan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak menjadi formalitas yang hambar. Seorang pendeta yang memahami mendidik dan menggembalakan melalui liturgi akan mengakui bahwa menyusun kalimat-kalimat anugerah dan petunjuk hidup baru adalah jauh lebih susah dari pada menyusun khotbah.<\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #000000;\">Forum Pendeta<\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Januari 2020 Minggu, 5 Januari 2020 LITURGI KEHIDUPAN SETIAP HARI Selamat Tahun Baru 2020 umat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, puji Tuhan Yesus kita telah\u00a0mengakhiri tahun 2019 dan memasuki tahun 2020. Kiranya salah satu resolusi yang kita buat adalah\u00a0bagaimana kita menghayati ibadah dengan benar dan menerapkannya dalam kehidupan kita setiap\u00a0hari. Sehingga ibadah kita tidak berhenti<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"template-right-primary-sidebar-no-page-title.php","meta":{"footnotes":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/5932"}],"collection":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5932"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/5932\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5971,"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/5932\/revisions\/5971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gkipengadilan.or.id\/gkipengadilanbogor\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5932"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}