Lebih Baik di Rumah-Mu

Waktu yang dipercayakan Tuhan untuk kita kelola setiap harinya selalu sama. Masing-masing kita memiliki 24 jam untuk dipergunakan bagi berbagai keperluan. Tentu saja dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab, 24 jam sehari seringkali dirasa tidak cukup. Kita masih ingin melakukan ini dan itu, belum lagi hal-hal yang berkaitan dengan tren masa kini seperti healing atau self-love, di mana kita menyediakan waktu untuk memperhatikan kebutuhan dan kesehatan mental kita. Persoalannya, kalau begitu banyak hal yang harus kita kerjakan dalam 24 jam tersebut, berapa banyak waktu yang kita alokasikan bagi hubungan kita dengan Tuhan?

Penggunaan kata di dalam pengalokasian waktu bagi Tuhan akan sangat mempengaruhi cara kita melakukan dan menyikapinya. Kata yang mungkin sering dipakai adalah menyisihkan atau menyisakan. Jika kedua kata ini yang dipakai maka sikap yang mungkin terjadi adalah prilaku seadanya, sesempatnya dan bernegosiasi jika ada kebutuhan lain yang kita pikir lebih mendesak maka waktu bagi Tuhan yang kita korbankan dengan anggapan bahwa “Tuhan juga mengerti dan memaklumi kebutuhan kita”. Kata yang seyogianya kita pakai adalah “menyediakan”. Kita berkomitmen menyediakan waktu bagi Tuhan. Menyediakan waktu artinya kita memberikan prioritas “slot” untuk kita betul-betul dapat menikmati hubungan dengan Tuhan baik secara pribadi maupun dalam persekutuan bersama di gereja. Hal ini terkait bukan saja dengan berapa lama waktu persekutuan atau ibadah yang kita ikuti tetapi juga dengan persiapan-persiapan kita untuk dapat mengikutinya dengan baik dan tidak terpecah konsentrasi karena memikirkan hal-hal lain yang perlu kita bereskan.

Pemazmur dalam Mazmur 84:11 menyatakan, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” Pemazmur menunjukkan kerinduan dan kesungguhan hatinya untuk memberikan waktunya menikmati persekutuan dengan Allah dan sesama. Ia memperbandingkan dengan diam di kemah orang fasik. Orang fasik adalah orang yang percaya Allah tapi tidak menampakkan kepercayaan atau imannya itu dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, dalam kehidupan mereka, hubungan dengan Allah bukanlah prioritas utama.

Pandangan GKI mengenai waktu yang kita sediakan untuk bersekutu bersama dengan Allah dan sesama melalui setiap kegiatan pelayanan gereja dimaknai sebagai persembahan. Gereja mencatatkan kehadiran dalam setiap kegiatan untuk dimasukkan dalam kategori persembahan waktu yang diberikan oleh anggota jemaat dan simpatisan kepada Tuhan. Tentu ini dilandasi pemikiran bahwa umat bukan hanya sekadar datang atau hadir secara fisik, namun ia hadir secara utuh yaitu tubuh, jiwa dan rohnya sebagai satu kesatuan yang menghidupi persekutuan. Pandangan ini kiranya juga menguatkan dan meneguhkan kita bahwa kita bukan hanya sedang mengikuti kegiatan gereja tetapi kita sedang mempersembahkan waktu bagi Tuhan dengan penuh kerinduan mengalami hadirat Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memampukan selalu.

Forum Pendeta

Foto: Canva


Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B