Belajar Dari Bakau, Berakar Pada Tuhan

Coba bayangkan sejenak sebuah rawa di pinggir pantai, tempat yang tidak ideal bagi kebanyakan tumbuhan untuk bertahan hidup. Airnya payau atau bahkan asin, tanahnya berlumpur, dan ombak datang tanpa henti. Namun justru di tempat seperti itu pohon bakau tumbuh. Akarnya menjalar ke segala arah, saling mengait satu sama lain, membentuk semacam jaring besar yang tertanam dalam. Akar itulah yang membuat bakau mampu menahan hantaman ombak sehingga tanah di sekitarnya tidak terus terkikis. Menariknya, akar-akar itu juga secara diam-diam menyaring air yang keruh, sehingga air menjadi lebih jernih sebelum mengalir ke laut. Selain itu, di sela-sela akarnya, hidup biota laut seperti ikan, kepiting, dan udang menjadikannya tempat tinggal untuk bertumbuh besar. Jadi, bakau bukanlah pohon yang menghindari tempat sulit. Ia justru memilih berakar di sana, dan dari situ ia menjadi sumber kehidupan bagi banyak makhluk lain.

Apabila direnungkan lebih dalam, gambaran pohon bakau ini terasa selaras dengan apa yang dituliskan dalam Yeremia 17:7-8. Di sana tertulis bahwa orang yang mengandalkan Tuhan akan diberkati, karena hidupnya digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi air. Akarnya menjalar sampai ke tepi sungai, sehingga meskipun panas terik datang, ia tidak akan layu. Daunnya tetap hijau, dan pada musim kering sekalipun ia tidak perlu khawatir karena tetap dapat berbuah. Ayat ini sesungguhnya bukan merupakan janji bahwa hidup orang percaya akan selalu berjalan mulus tanpa masalah. Sebaliknya, sama seperti bakau yang tetap berdiri kokoh di tengah rawa yang keras, orang yang berakar pada Tuhan tetap dapat merasa tenang dan berbuah meskipun keadaan di sekitarnya sedang tidak baik. 

Dari sinilah kita dapat mengambil makna yang sangat sesuai untuk direnungkan bersama, terlebih karena kita memasuki bulan Kesaksian dan Pelayanan. Sama seperti akar bakau yang menahan abrasi, menyaring air keruh, dan menjadi tempat tinggal bagi makhluk lain, kehadiran kita sebagai orang percaya juga dipanggil untuk hal yang serupa. Di tengah dunia yang sering bergejolak karena krisis, ketidakpastian, atau tekanan hidup, kita dipanggil untuk menjadi penopang bagi orang orang di sekitar kita. Kesaksian yang kita bagikan bukan sekadar perkataan yang manis, melainkan keteguhan hidup yang sungguh berakar pada Tuhan, yang tetap menghasilkan kasih dan kepedulian meskipun keadaan sedang sulit. Demikian pula dengan pelayanan kita, sudah semestinya dapat menjadi tempat berlindung bagi mereka yang lelah, tempat yang menenangkan suasana yang keruh akibat kekhawatiran, dan tempat orang lain dapat bertumbuh dalam iman. 

Oleh sebab itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah akar kehidupan kita cukup dalam tertanam pada Tuhan, sehingga kita mampu bertahan sekaligus menjadi berkat bagi orang orang di sekitar kita? Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk terus berakar teguh pada Tuhan, tidak mudah goyah walaupun zaman terus berubah, dan mampu menjadi tempat berlindung serta sumber kehidupan bagi komunitas yang kita layani. Sebab pada akhirnya, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, kita juga dipanggil untuk tetap hijau, tetap berbuah, dan tetap menjadi berkat, apa pun musim yang sedang kita jalani saat ini. 

Pnt. Arnold A. Siburian 

Foto: dreamstime.com


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B