Wasiat Terbaik

Untuk apa kerja keras dan segenap upaya maksimal yang kita lakukan selama ini? Kita pasti menghindar dari jawaban “sebagai aktualisasi atau pembuktian diri”. Sebagian besar jawaban mengarah kepada “untuk memiliki atau memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga yang kita kasihi”. Kita semua berharap bahwa generasi penerus kita mendapatkan kehidupan yang lebih daripada yang kita jalani saat ini. Persoalannya, apakah harapan tersebut dimaknai sama oleh anak atau cucu kita, ataukah yang kemudian menjadi pemahaman mereka bahwa kerja keras adalah untuk mendapatkan kepuasan pada hal-hal materiil semata-mata. Tentu saja, kita tidak ingin generasi penerus kita salah memahami bahwa saat ini kita sedang memberikan seluruh kehidupan demi pemuasan kebutuhan materi.

Oleh karena itu, pada hari minggu ini kita kembali diajak untuk memikirkan warisan terbaik bagi generasi penerus yang dapat tercermin dari seluruh kerja keras dan upaya kita. Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan dengan all effort (bahasa anak muda sekarang) menjadi cerminan dari iman dan kasih kita kepada Tuhan yang dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga kita. Warisan iman dan kasih ini tidak boleh dibayangkan seperti kita sedang dalam perlombaan lari estafet di mana masing-masing kita memiliki jarak tempuh dengan membawa tongkat yang akan dipindahtangankan pada pelari berikutnya. Kita tidak sedang memindahkan iman dan kasih seperti barang mati. Iman dan kasih merupakan hal dinamis yang hidup dan mewarnai gerak langkah kita. Orang-orang dapat melihat kita menerima warisan terbaik yaitu iman dan kasih, melalui keseharian hidup. Rujukan mengenai hal ini dapat kita lihat dalam surat Rasul Paulus yang kedua kepada Timotius (2 Timotius 1:5) “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” Kehidupan Lois – Eunike – Timotius yang menjadi rujukan kita ini, juga hidup dalam pergumulan. Ketika Paulus menyebutkan nama nenek dan ibu, gambaran yang kita dapatkan adalah bahwa Eunike menikah dengan seorang yang bukan Yahudi dan tidak membuka diri untuk percaya kepada Kristus. Dalam hukum dan tradisi patriarkal Romawi/Yunani saat itu, ayah memegang hak mutlak atas agama, pendidikan, dan status kewarganegaraan anak. Ayah Timotius tidak membiarkan Timotius disunat sewaktu bayi (Kis. 16:3). Di dalam kondisi rumah tangga yang demikian, Lois dan Eunike tetap menunjukkan iman yang otentik, tahan uji, dan penuh kesungguhan. Dalam iman yang demikian, mereka membesarkan Timotius dengan kasih sehingga ia tumbuh dalam pengenalan yang benar akan Kristus bahkan memberikan diri sepenuhnya sedari muda untuk melayani jemaat Tuhan.

Kita sungguh rindu melihat generasi penerus, baik anak maupun cucu, menghidupi secara nyata iman dan kasihnya kepada Tuhan dan menghasilkan hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang. Mari kita mulai menciptakan kehidupan keluarga yang merasakan betul bahwa pusat seluruh aktivitas keluarga adalah dalam Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyelamatkan dan menyediakan rancangan masa depan penuh harapan bagi perjalanan kehidupan kita. Setiap anggota keluarga belajar menundukkan diri pada pimpinan dan tuntunan Tuhan sehingga dalam proses kehidupan ini, nyata karya kasih Tuhan di dalamnya. Tuhan Yesus memampukan kita selalu untuk memberikan warisan terbaik.

Pdt. Esakatri Parahita

Foto: Godman Life Mission


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B