
Komunitas Persahabatan
Salah satu paradoks paling tajam dan nyata di dunia digital saat ini adalah “dalam keterhubungan tanpa batas, semakin banyak orang yang merasa kesepian”. Pengalaman hidup sehari-hari ini dikenal dengan sebutan “The Loneliness Paradox”. Dunia digital memang menjadikan manusia dapat berhubungan dengan berbagai macam orang melalui berbagai media dalam hitungan sepersekian detik selama koneksi internet memadai. Namun tentu saja hal tersebut bukan menjadi tolok ukur keterhubungan/keterikatan secara emosional. Dalam media sosial, seseorang bisa memiliki begitu banyak teman tetapi tidak semua mengenal secara mendalam, dan mau mendengarkan serta memahami dengan utuh kehidupan temannya. Hal ini memicu perasaan kesepian.
Kesepian ini kemudian diperparah dengan tekanan yang dihadapi baik karena pergumulan pribadi, situasi keluarga, stress dalam studi/pekerjaan, kecemasan dan bahkan perasaan terasing. Dampaknya adalah seseorang tidak dapat menjalankan kehidupannya secara utuh. Kondisi emosinya lumpuh. Bagaimana sikap kita sebagai orang beriman dengan kenyataan seperti ini yang terjadi di sekitar kita? Injil Markus 2:1-12 menceritakan tentang seorang lumpuh yang digotong oleh keempat temannya agar dapat berjumpa dengan Yesus dan dipulihkan. Dengan kondisinya, orang lumpuh ini tidak dapat datang sendiri pada Yesus. Belum lagi orang banyak yang berkumpul, dan kapasitas rumah yang terbatas semakin menghalanginya. Keempat teman itu mengambil inisiatif mengusung, membongkar atap rumah orang dan menurunkan si lumpuh tepat di hadapan Yesus. Mereka punya tujuan yang jelas agar Yesus menyembuhkan kawan mereka yang lumpuh.
Melalui perenungan tersebut, kita sebagai orang beriman ditantang untuk menjadi komunitas persahabatan bagi mereka yang sedang lumpuh secara emosional maupun spiritual. Mereka yang sedang menghadapi burn-out, kecemasan, rasa bersalah atau kegagalan perlu “diusung” untuk berjumpa dengan Yesus. Tidak cukup kata penghiburan atau penyemangat. Mereka butuh tindakan nyata kita untuk mendampingi, berjuang, mendobrak, berani ambil resiko sebagai seorang sahabat agar mengalami pemulihan dari Tuhan Yesus. Komunitas bukan hanya sekadar menjadi ajang kumpul-kumpul dan berbagi cerita melainkan betul-betul berdampak nyata dalam perubahan hidup seseorang. Ia dapat mengalami jamahan Yesus yang memulihkan secara pribadi dalam segala “kelumpuhan” emosi dan spiritual.
Tantangan ini seiring dengan perhatian secara global. PBB menetapkan sejak April 2011 bahwa tanggal 30 Juli merupakan Hari Persahabatan Internasional. Kebutuhan manusia untuk berjalan bersama, saling menopang dan menguatkan harus diupayakan dalam segala sektor kehidupan. Dan hal ini bisa kita mulai dalam kehidupan bergereja kita. Meskipun dengan jumlah umat yang besar dalam ibadah minggu, kita bisa mulai memberikan perhatian dan kesediaan menjadi sahabat bagi mereka yang membutuhkan. Tuhan Yesus memampukan selalu.
Pdt. Esakatri Parahita
Foto: Canva
Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor
Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB
Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB
Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6
Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B



