Bergerak Bersama dalam Kasih:
Saling Menopang Hingga Akhir

Kisah pertempuran bangsa Israel melawan bangsa Amalek di Rafidim bukan sekadar catatan sejarah perang. Ini adalah ilustrasi luar biasa tentang bagaimana sinergi, kesetiaan, dan kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata dapat membawa kemenangan yang mustahil diraih sendirian. Ini juga menjadi gambaran bagi kita sebagai Gereja saat ini. Bagaimana sinergi para pemimpin yang saling mengerti, menopang, menolong, dan mengisi dalam kasih menghadirkan karya Tuhan Allah yang luar biasa.

Pertama: Keterbatasan Individu, Kekuatan Komunitas

Dalam ayat 11-12, kita melihat sebuah dinamika yang menarik: Musa, sang pemimpin hebat, memiliki keterbatasan fisik. Tangannya menjadi penat. Yosua berjuang di garis depan, mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran.Harun dan Hur berdiri di sisi Musa, memperhatikan kebutuhan yang paling krusial.

Bayangkan jika Musa terlalu gengsi untuk dibantu, atau jika Harun dan Hur merasa tugas memegang tangan itu membosankan dan tidak penting. Kemenangan tidak akan terjadi. Bergerak dalam kasih berarti mengakui bahwa kita saling membutuhkan. Tak ada “pemain tunggal” dalam rencana Tuhan.

Kedua: Kasih yang Menopang (The Power of Support)  

Tetapi penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua tangannya, seorang di sisi sebelah, seorang di sisi yang lain…” (Kel. 17:12). Harun dan Hur tidak menggantikan posisi Musa, mereka menopang. Dalam komunitas atau pelayanan, seringkali “bergerak bersama” tidak berarti melakukan hal yang sama, melainkan mengisi celah di mana orang lain mulai lelah. 

Kasih yang sejati terlihat saat kita: Memberi “batu untuk duduk” (kenyamanan/fasilitas) bagi mereka yang sedang berjuang. Menahan “tangan yang menopang” (semangat/doa) mereka yang hampir menyerah. Tetap setia mendampingi sampai “matahari terbenam” (sampai tugas selesai). 

Ketiga: Tuhan adalah Panji Kita (Yehuwa Nissi) 

Setelah kemenangan itu, Musa mendirikan mezbah dan menamainya “Tuhanlah panjiku!“. Kemenangan itu bukan karena hebatnya strategi Yosua atau kuatnya otot Harun dan Hur. Kemenangan itu terjadi karena mereka bergerak bersama di bawah otoritas dan penyertaan Tuhan. Ketika kita bergerak dalam kasih, fokusnya bukan pada siapa yang paling berjasa, melainkan pada bagaimana nama Tuhan dimuliakan melalui kebersamaan kita. 

Refleksi untuk Kita

Siapakah “Musa” di sekitar Anda? Pemimpin atau rekan yang sedang lelah dan butuh tangan Anda untuk tetap terangkat? Apakah kita bersedia menjadi “Harun atau Hur”? Mereka yang bekerja di balik layar, tidak mendapatkan sorak-sorai di medan laga, namun menjadi penentu kemenangan. Kesimpulan: Kasih bukan sekadar perasaan hangat di hati, melainkan tindakan tangan yang mau menopang beban sesama. Mari berhenti berjalan sendiri-sendiri. Mari bergerak bersama, karena dalam kesatuan yang didasari kasih, Tuhan Yesus menghadirkan kebersamaan, berkat, dan sukacita. 

Forum Pendeta

Foto: Canva


Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B