
Apalagi Alasanku Untuk Tidak Mengasihi?
Jika ditanya: “Apa alasan anda untuk tidak mengasihi?”, mungkin jawabannya: “Banyak! Tergantung orangnya”. Kita bisa tidak mengasihi seseorang karena perilakunya yang seringkali mengganggu, perbedaan latar belakang, bahkan sekadar karena tidak mengenal. Memilih untuk tidak mengasihi mewujud dalam bentuk tidak lagi memberi perhatian, enggan menolong ketika diperlukan, dan tidak lagi peduli pada keberadaan seseorang. Jika pilihan untuk mengasihi tergantung pada objek kasihnya, berarti kasih kita memiliki syarat dan ketentuan yang berlaku. Konsep mengasihi seperti ini berpotensi menjadi masalah jika diperhadapkan dengan realita lingkungan pekerjaan, studi, pelayanan, bahkan keluarga yang anggotanya mungkin tidak memenuhi syarat yang kita tentukan. Ketika persyaratan itu tidak dipenuhi, akankah kita tidak mengasihi lagi?
Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:16 menjadi alasan utama mengapa kita tidak diperkenankan untuk berhenti mengasihi. Sebagai pengikut Kristus, kita telah mengenal dan mengaku percaya kepada Allah serta mengalami sendiri kasih-Nya. Kasih yang tidak berhenti pada menciptakan, melainkan terus dinyatakan melalui karya keselamatan dan kehadiran Penolong. Allah tidak berhenti mengasihi kita meskipun kita ada kelemahan, kelalaian, bahkan terkadang secara sengaja memilih untuk melakukan hal yang salah untuk menguntungkan diri sendiri. Sebaliknya, kasih Allah itu yang terus meraih dan merangkul kita untuk memperbarui pikiran, hati, dan perilaku. Mengapa Allah tidak akan berhenti mengasihi? Sebab “Allah adalah kasih”. Kita dipanggil untuk menerima kasih dan anugerah yang diberikan Allah, untuk mengenalnya melalui pengalaman dan mempercayainya. Di saat kita sudah betul-betul tinggal di dalam kasih Allah, maka tidak akan ada lagi alasan yang cukup kuat untuk memberi ruang kebencian di dalam diri kita.
Dalam satu bulan terakhir, kita telah melewati rangkaian minggu-minggu Paskah, hari Kenaikan Tuhan Yesus, Minggu Pentakosta, dan di hari ini Minggu Trinitas. Di setiap minggu kita menghayati sifat hakiki dari Allah yang tidak pernah berubah yaitu ‘kasih’. Kasih yang menyelamatkan, memelihara, dan memampukan kita untuk hidup sebagai saksi. Kasih ini bukan hanya untuk diketahui dan dinikmati, melainkan untuk dihidupi. Hidup di dalam kasih Tuhan artinya kita tidak pernah berhenti untuk peduli, menolong, serta membangun relasi yang baik di manapun kita berada. Di saat kita menemui kesulitan untuk mengasihi seseorang, bukalah hati kita untuk diteguhkan dan diluruskan melalui Firman-Nya. Seperti lantunan lagu KJ. 434:
“Allah adalah Kasih dan Sumber Kasih. Bukalah hatimu bagi Firman-Nya.”
Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk terus merasakan dan menghidupi kasih.
Arnold
Foto: Canva
Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor
Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB
Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB
Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6
Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B



