Kekuatan Kanak-kanak

Sebagai orang dewasa, kita cenderung memiliki pemikiran bahwa kanak-kanak adalah kelompok usia di mana orang yang di dalamnya belum matang atau bahkan belum mampu mengurusi kehidupannya. Mereka perlu dibantu dan didukung. Dengan pola pemikiran mereka yang masih sederhana dan belum tertata dengan baik, maka kanak-kanak juga tidak banyak dilibatkan dalam diskusi pergumulan yang dihadapi oleh keluarga. “Anak kecil tahu apa,” itu setidaknya pandangan yang ada dalam pemikiran banyak orang. Namun, jika kita kembali pada firman Tuhan, maka kita menemukan bahwa Tuhan tidak pernah memandang rendah atau remeh keberadaan anak-anak. Setidaknya hal tersebut diimani oleh Pemazmur dan dituangkan dalam Mazmur yang indah.

Mazmur 8:3 menyatakan “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.” Mazmur 8 secara keseluruhan adalah madah pujian atas keagungan Allah di alam semesta, yang juga seringkali dipakai sebagai sebuah kesadaran betapa manusia terbatas tetapi dikasihi dan dipandang berharga secara luar biasa oleh Allah. Dalam ayat ini, pemazmur menegaskan bahwa instrumen yang paling lemah, paling rapuh, dan paling bergantung pada orang lain—yaitu bayi dan anak yang masih menyusu— memiliki dasar kekuatan ilahi yang diletakkan Allah untuk membungkam musuh dan pendendam. Latar belakang pemikiran ini adalah kebergantungan total seorang anak. Ini adalah gambaran iman yang paling murni—percaya penuh tanpa syarat. Kepercayaan yang tulus dan tanpa pretensi dari anak-anak ini menjadi tamparan keras bagi para “musuh” Tuhan yang sombong, yang mengandalkan rasio dan kekuatan sendiri. Hal lain adalah ketulusan. Anak-anak belum belajar untuk berpura-pura, memanipulasi, atau memakai topeng rohani. Ketika mereka memuji Tuhan atau berdoa, mereka melakukannya dengan jujur. Ketulusan inilah yang memiliki kuasa spiritual untuk memampukan hidup benar. Persekutuan umat Tuhan dalam gereja dipanggil untuk bercermin dari keberadaan anak yang bergantung total kepada Tuhan dan ketulusan.

Oleh karena kita diajak belajar dari sosok anak di mana Tuhan meletakkan dasar kekuatan, maka seyogianya anak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam persekutuan kita. Pandangan bahwa mereka memerlukan “makanan rohani” sesuai usia tidaklah salah. Tetapi kalau hal tersebut menyebabkan kita menyingkirkan/tidak melibatkan mereka dalam persekutuan umat Tuhan, kita harus bertobat. Dalam Kristus, semua setara, tidak ada pembeda, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, demikian pula anak dengan orang dewasa. Keterlibatan mereka dalam melayani, dalam sumbangsih berpikir dan pertanyaan-pertanyaan kritis perlu kita hargai dan sambut sebagai upaya pembelajaran dari Tuhan bagi kita. Penghargaan dan penerimaan kita terhadap kehadiran mereka akan turut membentuk pengalaman hidup beriman anak-anak.

Dalam rangka menyambut peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026, kita juga diingatkan akan realitas di sekitar kita. Di Indonesia, masih banyak anak yang menghadapi tantangan berat: mulai dari masalah stunting, putus sekolah, mental health, kekerasan anak, hingga kecanduan gawai yang merenggut masa kecil mereka. Mari pakai keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat untuk menunjukkan kepedulian dan kasih Kristus kepada anak-anak di sekitar kita. Tuhan Yesus memampukan kita.

Pdt. Esakatri Parahita

Foto: Canva


Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B