
Ingat dan Kuduskanlah Hari Sabat
Tema tersebut tentu sudah akrab bagi kita. Kita mengenalnya sebagai perintah keempat dari sepuluh perintah Tuhan yang dituliskan dalam Kitab Keluaran 20. Begitu mendapati perkataan ini, apa yang timbul dalam pikiran kita? Biasanya yang paling cepat timbul adalah “hari Minggu harus ke gereja”. Tentu pemikiran ini tidak salah, tapi sangat menyederhanakan konteks yang diungkapkan Tuhan ketika memberikan perintah ini kepada umat-Nya. Apalagi ketika banyak orang membagi sepuluh perintah Tuhan ini menjadi dua bagian yaitu bagian vertikal, yang berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan pada perintah satu sampai keempat, dan bagian horisontal yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya mulai perintah kelima hingga kesepuluh. Jika kita mencermati pembagian tersebut, maka sebetulnya hubungan kita dengan Tuhan pasti akan tercermin dalam cara memperlakukan sesama, dan hubungan kita dengan sesama bisa terjalin baik dalam landasan hubungan erat dengan Tuhan.
Kembali pada penggalan perintah di atas. Kita harus membaca keseluruhan perintah ini supaya kita dapat melihat konteks yang dimaksudkan oleh Tuhan. Keluaran 20:8-11 “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” Dalam segala kesibukan dan tuntutan pekerjaan yang dihadapi, umat diingatkan untuk berhenti dan kembali mengatur ulang keberadaan serta makna kehidupannya. Tuhan memberikan contoh dengan Ia berhenti pada hari ketujuh. Bukan sekadar untuk tidak melakukan apa-apa tetapi untuk mengingat bahwa makna dari seluruh karya dan kerja kita bukan pada seberapa sibuk atau sejauh mana pencapaian tetapi pada Tuhan yang mempercayakannya. Di hari perhentian itu, berkat Tuhan tetap tersedia, untuk mengajarkan bahwa fokus dalam pekerjaan bukanlah untuk mendapatkan sesuatu (berkat) tetapi justru untuk mensyukuri setiap kepercayaan dan juga pemeliharaan yang memampukan kita mengerjakan sesuatu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah Tuhan menguduskannya. Kekudusan dalam keseharian mungkin luput dari perhatian kita. Namun ketika fokus dikembalikan kepada Tuhan, Sang Pemberi Kepercayaan, maka kita juga diajak untuk menghayati bahwa dalam gerak kita ada kekudusan bagi Tuhan. Hal ini dimintakan Tuhan berlaku bukan hanya bagi kita pribadi tetapi dihayati dan dikerjakan oleh orang-orang sekitar kita. Sebagai umat-Nya, kita dituntut lebih dahulu menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam gerak dan karya kita, dan menjadi teladan bagi setiap orang yang bersama kita.
Mengingat dan menguduskan hari yang Tuhan jadikan terwujud bukan secara ritual melainkan tindakan nyata yang menempatkan pencipta hari yaitu Tuhan sendiri sebagai fokus dan prioritas kita. Dialah yang akan memampukan kita menata kehidupan, menjalani setiap persoalan dan mengatur langkah dengan tepat. Anugerah dan berkat-Nya senantiasa menolong kita.
Pdt. Esakatri Parahita
Foto: Sabbath Facts
Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB
Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB
Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6
Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B


