
Ini Aku, Tuhan
Sebagaimana yang telah kita pelajari pada minggu lalu, ketika menghayati diri sebagai manusia berdosa yang tidak layak menerima segala kebaikan Allah, maka satu-satunya respon yang dapat kita berikan atas anugerah-Nya adalah mengerjakan hidup dalam rasa syukur atau terima kasih yang berlimpah kepada Tuhan. Ketika anugerah Tuhan tercurah atas kita, maka keseluruhan diri kitalah yang patut menjadi persembahan kepada Tuhan. Yesaya, ketika berhadapan dengan kemuliaan Allah yang menyapanya secara tiba-tiba, merasa ketidaklayakan untuk berjumpa dengan Allah. Ia bahkan menggunakan ungkapan celaka dan binasa (Yesaya 6:5) karena melihat kehidupan yang dijalaninya baik pribadi maupun sebagai kesatuan umat yang tidak berkenan di hadapan Allah. Allah mengetahui ketidaklayakan umat-Nya namun hal tersebut tidak menghalangi-Nya untuk menjangkau umat dan menyatakan anugerah pengampunan-Nya. Dalam peristiwa kehidupan yang dialami Yesaya, pengampunan Allah dialami melalui bara dari mezbah yang disentuhkan ke mulut Yesaya dan pengukuhan melalui firman bahwa kesalahan Yesaya telah dihapus dan dosanya diampuni (Yesaya 6:7).
Sungguh, pengalaman yang sangat berharga. Bukan karena kesalehan Yesaya ataupun ketekunannya, melainkan karena perkenan Allah sendiri yang melayakkannya dalam segala cela kehidupan Yesaya. Yesaya mewujudkan syukur atas anugerah Allah tersebut dengan memberikan dirinya bagi Allah yang telah melayakkannya. Yesaya 6:8 “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” Tanpa ragu Yesaya bersedia menjadi utusan Tuhan karena baginya, persembahan diri merupakan respon terbaik yang dapat diberikan Yesaya.
Hari ini, ada 9 orang yang memberikan persembahan dirinya melalui kesediaan untuk dibaptiskan dalam usia mereka yang sudah dewasa serta 41 orang yang menyatakan pengakuan percayanya setelah menerima baptisan pada waktu masih kanak-kanak. Kesediaan mereka mempersembahkan diri diwujudkan dengan jawaban masing-masing pribadi yang menyatakan percaya kepada Allah Bapa, Pencipta dan Pemelihara, kepada Yesus Kristus, Anak-Nya, Tuhan dan Juruselamat dan kepada Roh Kudus yang membarui hidup serta janji untuk dengan tulus hati dan segenap jiwa memegang pengakuan percayanya. Janji tersebut diwujudkan dengan meninggalkan hidup lama dan hidup mengikuti Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan menjadi saksi-Nya. Dalam melaksanakan janji itu maka setiap pribadi berpegang pada Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menunjukkan jalan keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Ia bersedia menjadi anggota gereja serta menerima tugas pengutusan yaitu setia mengambil bagian sebagai persekutuan dan melaksanakan pelayanan dan kesaksian. Bagi kita yang telah mengaku percaya, momen ketika pertanyaan-pertanyaan ini diajukan dalam liturgi, justru menjadi sarana memperbarui komitmen persembahan diri kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan kembali percaya dan janji kita kepada-Nya yang dilandasi besarnya anugerah yang sudah kita terima. Inilah yang memampukan kita dengan tegas dan lantang mengatakan kepada Tuhan, “Ini aku, Tuhan, aku bersedia menghidupi tugas perutusan yang Engkau percayakan sekalipun tidak mudah dan banyak tantangannya. Aku bersyukur untuk anugerah-Mu yang begitu besar yang meraih dan melayakkan aku yang bercela ini untuk hidup bersama-Mu.”
Forum Pendeta
Foto: Canva
Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor
Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB
Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB
Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB
Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6
Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B



