Berbahagialah Orang yang

Siapa yang tidak ingin hidup bahagia? Semua manusia ingin hidup bahagia. Tetapi apakah semua orang telah dan bisa bahagia? Dunia sering mendefinisikan bahagia dengan kata “jika”: Aku bahagia jika sukses, jika kaya, jika dipuji, atau jika semua masalah selesai. Namun, dalam khotbah di bukit, Yesus menjungkirbalikkan logika tersebut. Bahagia yang benar (Yunani: Makarios) bukanlah sebuah perasaan yang bergantung pada situasi eksternal, melainkan sebuah kondisi jiwa yang berakar pada relasi dengan Tuhan Yesus.

Pertama: Bahagia Dimulai dari “Kekosongan”: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah…” Kita sering merasa harus “penuh” untuk bahagia—penuh prestasi, penuh harta, penuh harga diri. Namun, Yesus menyebut mereka yang “miskin” di hadapan Allah sebagai yang berbahagia. Manusia seringkali salah dalam mencari sumber kebahagiaannya. Apakah kita masih merasa mampu mengandalkan diri sendiri dan apa yang kita miliki? Bahagia yang benar dimulai saat kita mengakui bahwa tanpa Tuhan Yesus, kita tidak memiliki apa-apa. Kesediaan diri untuk menempatkan Allah sebagai yang utama dalam hidup inilah yang membuat kita memiliki ruang bagi Kerajaan Sorga.

Kedua: Paradoks Kekuatan dalam Kelembutan: “Berbahagialah orang yang lemah lembut… Berbahagialah orang yang membawa damai…” Dunia mengajarkan bahwa yang menang adalah yang paling keras berteriak atau yang paling kuat menindas. Namun, standar Kerajaan Allah justru meninggikan kelembutan dan perdamaian. Bahagia yang benar tidak ditemukan dalam kemenangan atas orang lain, melainkan dalam kemenangan atas ego sendiri. Menjadi pembawa damai seringkali melelahkan, tetapi di sanalah identitas kita sebagai “anak-anak Allah” dinyatakan.

Ketiga: Sukacita yang Melampaui Air Mata: “Berbahagialah orang yang berdukacita… Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela…” Bagaimana mungkin duka dan penganiayaan disebut bahagia? Ini adalah janji tentang penghiburan ilahi. Bahagia yang sejati memiliki daya tahan (resiliensi). Ia tidak hilang saat badai datang; justru di tengah badai, kehadiran Tuhan Yesus menjadi lebih nyata. Jika saat ini Anda sedang merasa berat, ingatlah bahwa duka Anda bukanlah akhir dari cerita. Tuhan Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa air mata, tetapi Ia menjanjikan bahwa air mata itu akan diubah menjadi permata di dalam kasih-Nya.

Bahagia menurut pengajaran Tuhan Yesus dalam Injil Matius bukanlah tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang siapa yang memiliki kita. Kita bahagia bukan karena hidup kita ini sempurna, tetapi karena kita hidup di dalam aturan dan standar DiA: Allah Sang Pemilik Kehidupan.

“Bahagia yang benar tidak dicari, ia ditemukan saat kita mencari wajah Allah.”

Forum Pendeta

Foto: Canva


Informasi Kronologi Perjalanan “Masalah Yasmin” 2001-2021
Majelis Jemaat GKI Jl. Pengadilan 35 Bogor


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B