Melangkah dalam Pemulihan

Pernahkah kita melontarkan jawaban “Enggak koq, gak apa-apa.” ? Jika pernah, maka perlu kita periksa, apakah itu memang merupakan jawaban sesungguhnya atau sebenarnya jawaban yang dibuat simple, hanya untuk tidak memperpanjang persoalan tetapi sebetulnya dalam hati masih menyimpan ketidakpuasan bahkan amarah yang tidak tersalurkan. Masalahnya, lawan bicara kita belum tentu menyadari apa yang berkecamuk dalam pikiran dan perasaan kita. Bisa saja, ia/mereka berpegang pada apa yang terucap dari mulut kita, dan tentu saja itu tidak bisa dipersalahkan. Ucapan adalah fakta lisan yang tidak terelakkan.

Jika demikian respon yang kita terima dari lawan bicara, maka sangat bisa dimengerti apabila kemudian kita merasa kecewa. Kalau lawan bicara tersebut merupakan pihak yang tidak terikat hubungan apapun dengan kita, mungkin kita bisa memberikan permakluman. Situasi akan menjadi lebih sulit, jika kita memiliki ikatan hubungan. Semakin dekat hubungannya akan menjadi semakin rumit situasinya. Di saat itu, kasih kita diuji. Apakah kasih yang kita bangun dalam hubungan tersebut merupakan kasih yang murni? Kasih agape yang telah dinyatakan Tuhan kepada kita ataukah sebetulnya kita masih menjalani hubungan tersebut dalam kasih yang egois, yang semata-mata terarah pada kesenangan dan kepentingan kita?

Lalu, bagaimana kita menyelesaikan persoalan dalam hati dan pikiran ini dengan kasih yang murni seperti yang Tuhan anugerahkan? Rasul Paulus menuliskan dalam surat Efesus 4:25-27 “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan jangan beri kesempatan kepada iblis.” Paulus mengingatkan bahwa kita adalah sesama anggota tubuh Kristus. Kita ada dalam ikatan kasih Kristus sehingga tidak ada alasan untuk tidak bersikap terbuka. Ketika kita memilih diam dan menyembunyikan kekecewaan di balik senyuman palsu, kita sedang memelihara dusta relasional. Pemulihan sejati dimulai ketika kita berani membawa luka itu dari kegelapan rasa takut menuju terang kasih Kristus.

Kita bisa memulai langkah perbaikan dengan menyediakan ruang selebar-lebarnya untuk berdiskusi dan mengungkapkan isi hati dan pemikiran secara terbuka tanpa menyela dan menghakimi. Dalam proses yang dilakukan, bertindaklah aktif untuk membangun kepercayaan melalui hal-hal kecil yang dapat kita lakukan. Dan tentu saja, kita perlu melandaskan segala gerak kita dalam doa yang jujur dan tulus untuk memohon pimpinan hikmat Tuhan. Kita juga bisa belajar melalui materi Bulan Keluarga saat ini untuk kita bisa mengalami pemulihan dalam relasi kita. Tuhan Yesus memampukan kita senantiasa.

Pnt. Esakatri Parahita

Foto: Lionel Windsor


Jadwal Kebaktian Umum

Kebaktian Umum (On-site)
Pk 07.00 WIB, pk 10.00 WIB, pk 15.00 WIB



Jadwal Kebaktian Remaja dan Pemuda

Kebaktian Remaja 1 (SMP)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Remaja 2 (SMA)
Pk 07.00 WIB

Kebaktian Pemuda
Pk 10.00 WIB


Jadwal Kebaktian Sekolah Minggu

Kebaktian Sekolah Minggu I
Pk. 07.00 WIB – selesai
Kelas Balita pagi
Kelas Kecil 1
Kelas Kecil 2
Kelas Tanggung 3
Kelas Tanggung 4
Kelas Besar 5
Kelas Besar 6


Kebaktian Sekolah Minggu II
Pk. 10.00 WIB – selesai
Kelas Batita
Kelas Balita A
Kelas Balita B