POHON NATAL

Tidak terasa, kita sudah memasuki bulan Desember dan itu artinya sebentar lagi kita akan merayakan Natal! Tidak afdol rasanya merayakan Natal tanpa memasang dan menghias pohon natal. Oleh karena itu, menjelang bulan Desember biasanya orang-orang Kristen sudah mulai memasang pohon natal di rumahnya maupun di gereja. Biasanya kita menggunakan pohon cemara sebagai pohon natal, tetapi kini pohon natal pun sudah banyak wujudnya dan tidak selalu menggunakan pohon cemara. Ada yang menyusun botol plastik bekas pakai menjadi pohon menyerupai pohon cemara, ada juga yang menggunakan boneka-boneka, ada yang menggunakan gantungan baju, bahkan ada yang memakai kaleng-kaleng kosong bekas pakai!

Terlepas daripada itu, sudahkah kita mengenal asal-muasal serta makna dari pohon natal itu sendiri? Penggunaan pohon cemara sebagai pohon natal bermula dari Santo Bonafasius di tahun 723 yang menebang pohon donar di sekitar kota Fritzlar, negara bagian Hesse di utara Jerman. Pohon donar adalah pohon yang dikeramatkan oleh masyarakat untuk memberikan korban persembahan pada Dewa Thor (Dewa Petir). Mirisnya, persembahan yang diberikan adalah seorang bayi. Sebagai penyebar agama Katolik, Bonafasius segera mengambil kapak dan menebang pohon tersebut dengan sekali tebasan dan diiringi rapalan doa atas nama Yesus Kristus. Saat itu cuaca cukup mencekam, angin bertiup kencang dan petir menggelar, seolah ada kekuasaan lain yang mengganggu. Namun kuasa Tuhan lebih besar dan sungguh ajaib, pohon itupun tumbang. Di balik pohon yang tumbang itu, ia melihat sepucuk tunas pohon cemara. Kemudian ia berkata “biarkan (tunas) pohon ini menjadi simbol Tuhan yang sebenarnya, biarkan daunnya senantiasa hijau dan takkan mati.” Melihat hal yang ajaib ini, masyarakat yang tadinya menyembah Thor pun lambat laun beralih menjadi penganut agama Katolik.

Cerita lain mengatakan bahwa tradisi menghias pohon cemara sebagai pohon natal bermula dari Martin Luther yang pada saat itu melihat cahaya yang indah dari pohon cemara yang ia temui di jalan. Ia pun menebang pohon cemara itu dan membawanya pulang, serta menghiasnya dan memberikan dekorasi lilin sehingga pohon cemara itu menjadi penuh dengan lilin.

Terlepas dari cerita-cerita yang ada, nyatanya pohon cemara ini unik. Di tengah musim dingin di Eropa, banyak pohon yang menggugurkan daunnya sedangkan pohon cemara tetap hijau. Oleh karena itu, ketika natal tiba rata-rata pohon yang digunakan sebagai pohon natal adalah pohon cemara karena daunnya yang tetap banyak dan dahannya yang tetap kokoh meskipun salju menerpa.

Melihat pohon cemara yang digunakan sebagai pohon natal di musim dingin yang penuh salju, kita dapat menemukan beberapa hal penting. Pertama, kita bisa melihat bahwa pohon natal sarat makna dengan harapan. Tunas pohon cemara yang tumbuh setelah pohon donar ditebang oleh Bonafasius menjadi simbol akan harapan yang Tuhan berikan kepada manusia yang mau menyerahkan hidupnya kepada-Nya. Belum lagi keunikan pohon cemara yang tetap hijau dan kokoh di tengah musim dingin dan salju yang lebat. Fitur pohon cemara menggambarkan kehidupan yang tetap teguh di dalam Tuhan meskipun badai dan topan menerjang.

Kedua, pohon cemara juga menggambarkan pertumbuhan iman dari orang percaya. Meskipun salju turun, pohon cemara tetap bertumbuh dan tetap hijau. Pergumulan dan tantangan dalam hidup kita saat ini bisa menjadi “arena” bagi kita untuk bisa terus menumbuhkan iman dan harapan dalam Tuhan. Pergumulan tidak menjadi alasan untuk berhenti beriman dalam-Nya, tetapi justru menjadi tempat untuk bisa terus berharap pada Tuhan meskipun sulit.

Ketiga, pohon natal dilingkupi lampu yang menyala di tengah kegelapan. Kita bisa melihat, seperti pohon natal yang menerangi tempat yang gelap, kita pun dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan. Terang yang kita miliki sepatutnya menyinari sekitar kita dan membawa sekeliling kita ke dalam terang itu.

Pohon natal tidak ada kaitannya dengan kelahiran Yesus tetapi pohon natal memiliki banyak makna. Di tengah penantian dan perayaan akan kelahiran Yesus yang kita rayakan setiap bulan Desember, kita pun diajak untuk bisa menjadi terang bagi sekitar kita. Agar kita bisa menjadi terang, pertama-tama kita perlu menjaga pertumbuhan iman kita agar dalam pergumulan sekalipun kita dapat menemukan dan merasakan harapan yang datang hanya dari Tuhan.

Kenneth Oswald


MERAYAKAN NATAL PADA 25 DESEMBER

Setiap tahun kita merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Pernahkah terbesit dalam pikiran kita, mengapa harus tanggal 25 Desember? Apakah Yesus benar-benar lahir pada tanggal 25 Desember saat itu? Apakah ada orang yang benar-benar tahu kapan tanggal yang pasti dari kelahiran Yesus?

Orang-orang Romawi non Kristen memiliki hari raya sendiri yaitu Saturnalia. Saturnalia merupakan festival atau hari raya panen yang menandai titik kembalinya matahari, serta penghormatan kepada Dewa Saturnus, dewa penaburan. Perayaan ini biasanya berlangsung dari tanggal 17-25 Desember. Pada masa inilah biasanya orang-orang bersenang-senang, bertukar hadiah, serta mendekor rumah dengan tanaman hijau dan juga lampu-lampu.

Tradisi ini awalnya sempat terancam punah ketika agama Kristen menjadi agama negara kekaisaran Romawi pada tahun 529 M. Namun ternyata para pemimpin agama Kristen yang berhasil mengubah orang “kafir” menjadi pemeluk agama Kristen, memperbolehkan mereka tetap merayakan Saturnalia. Agar hari raya ini juga menyentuh dimensi Kekristenan, maka hari perayaan tersebut diberi pemaknaan baru yaitu sebagai hari kelahiran Yesus Kristus, yang sampai saat itu belum diketahui kapan tanggal pasti kelahiran-Nya.

Jika kita mengacu pada Alkitab, maka kita akan menemukan dua kesaksian yang beragam tentang kelahiran Yesus sesuai yang disaksikan oleh Injil Matius (1:18-25) dan Lukas (2:1-20). Namun jika dicermati, baik orang Majus ataupun para gembala, sama-sama memiliki sukacita dan hasrat (Mat. 2:2,10-12; Luk.2:16,20) untuk berjumpa dengan Yesus, bahkan sekalipun harus menempuh jarak dan tantangan yang ada pada saat itu. Momen kelahiran Yesus menjadi sesuatu yang spesial karena di dalamnya terdapat perjumpaan antara manusia biasa dengan Dia yang disebut sebagai “Putra Allah”. Perjumpaan itu lantas mengafirmasi keyakinan umat Yahudi pada saat itu terkait konsep mesianik yang mereka miliki, atau secara sederhananya, momen kelahiran Yesus merupakan tanda atas kuasa dan penyertaan Allah (bangsa Israel), sehingga dianggap akan ada kebaruan-kebaruan yang menciptakan keadaan yang lebih baik dari yang terjadi pada saat itu. Dan karena itulah orang Majus dan para gembala memiliki sukacita natal (kelahiran Yesus).

Dalam tradisi umat Kristiani, hari kelahiran Yesus juga dimaknai sebagai kelahiran seorang Mesias yang membebaskan manusia. Namun pemaknaannya berbeda dengan tradisi Yahudi, karena Kekristenan juga menekankan pembebasan dan keselamatan roh yang sifatnya kekal. Sukacita semacam inilah yang “tadinya” dirayakan dan diyakini ada di setiap tanggal 25 Desember. Namun sayangnya penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa pada dasarnya tidak ada yang tahu persis kapan Yesus lahir di dunia.

GKI Pengadilan sendiri merayakan Natal mulai tanggal 25 Desember supaya kita dapat lebih memaknai dan menghayati masa Adven. Dalam masa Adven, kita belajar untuk menanti dengan sikap yang tepat dalam menyambut kedatangan Juruselamat. Oleh karena itu masa Adven ini perlu dimaknai dan dihayati secara mendalam, dan tidak tergesa-gesa masuk ke dalam kegembiraan perayaan Natal. Warna ungu sebagai warna liturgis menggambarkan sikap pertobatan dan mawas diri. Sikap-sikap ini yang perlu kita hayati sebagai bentuk persiapan diri dalam sukacita menyambut Juruselamat. Sukacita Natal bukan hanya hingar-bingar perayaan dan juga pesta-pora. Sukacita Natal adalah ketika kita bisa mempersiapkan diri kita dalam pertobatan agar kita layak menyambut kedatangan-Nya.

Terlepas dari tanggal dan asal-usul tanggal 25 Desember sebagai perayaan Natal, mari kita tidak menitikberatkan perayaan kelahiran Yesus pada kapan tanggalnya. Mari kita lebih menitikberatkannya pada makna dari perayaan kelahiran Yesus itu sendiri terlepas dari tanggal yang ada. Kelahiran Yesus adalah momentum peringatan ketika kita diselamatkan sekaligus dibebaskan dari belenggu dosa. Oleh karena itu mari kita juga merayakannya dengan memelihara sukacita Natal di dalam hati kita seperti yang dialami oleh para gembala dan orang Majus. Natal yang sesungguhnya adalah memaknai bahwa Tuhan menyertai kita dan tidak meninggalkan kita. Penyertaan Tuhan hadir nyata melalui kelahiran Yesus Sang Juruselamat.

Kenneth Oswald


SIAPAKAH SINTERKLAS?

Hohoho…… Topi merah, janggut putih panjang, berperut buncit, berkacamata, tinggal di Kutub Utara, dan suka sekali membagikan mainan pada anak-anak penurut. Tepat! Siapa lagi kalau bukan Sinterklas atau Santa Claus. Dalam hingar bingar perayaan Natal, kerap kali kita berjumpa dengan sosok ini khususnya di tempat-tempat perbelanjaan. Biasanya ada satu booth khusus dimana anak-anak harus mengantre untuk bisa berfoto dengan sosok yang satu ini. Tetapi, apakah sosok asli dari Sinterklas adalah benar pria buncit dan berjanggut panjang?

Konon Sinterklas adalah sosok representasi dari tokoh santo atau orang suci bernama Nicholas atau lebih dikenal dengan Santo Nicholas. Santo Nicholas adalah seorang uskup pada abad 4 di kota Myra. Kota Myra adalah kota kecil yang pada saat itu menjadi daerah atau bagian kekuasaan bangsa Romawi. Saat ini daerah tersebut menjadi daerah kekuasaan negara Turki.

Santo Nicholas dikenal sebagai pribadi yang sangat baik. Ia dilahirkan di sebuah keluarga yang bisa dibilang keluarga yang berkecukupan. Akan tetapi, Nicholas kehilangan kedua orang tuanya di usianya yang masih sangat muda. Karena adanya peristiwa ini, Nicholas pun kemudian mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani gereja Katolik pada masa itu hingga akhirnya menjadi Uskup di kota Myra.

Semasa hidupnya Nicholas dikenal sebagai seorang pemuka agama yang dermawan. Dia sering sekali membagikan mainan khususnya bagi anak-anak. Apakah semasa hidupnya ia suka membawa kantung besar berisi mainan untuk anak-anak seperti yang selama ini kita saksikan? Gambaran ini berangkat dari tindakan Nicholas yang menyelamatkan tiga perempuan muda dari pekerjaan prostitusi. Ia memberikan banyak emas pada ayah dari ketiga anak perempuan ini supaya bisa membiayai pernikahan ketiga perempuan tersebut sehingga akhirnya mereka lepas dari jerat prostistusi.

Lalu apa hubungannya dengan kantung besar berisi mainan yang ia bawa setiap malam natal? Gambaran tersebut tentu merupakan sebuah legenda yang hendak merefleksikan kebaikan yang dilakukan oleh Nicholas semasa hidupnya. Sama halnya dengan rutinitasnya yang melegenda yaitu masuk ke dalam cerobong asap setiap malam dan meninggalkan mainan. Gambaran ini hendak menegaskan bahwa Nicholas benar-benar orang yang baik, senang berbagi, dan mau membagikan kebahagiaan tersebut.

Ada sumber yang mengatakan bahwa ia lahir di tanggal 6 Desember sehingga pada tanggal itu juga ia sering sekali mengadakan perayaan dan membagi-bagikan mainan. Tetapi ada juga sumber lain yang mengatakan bahwa kematiannya terjadi di bulan Desember. Kedua sumber ini sama-sama mengarah pada satu hal yang sama, yaitu keterkaitan antara kebaikannya dengan perayaan Natal, ditambah lagi Natal lekat dengan perayaan yang gegap-gempita.

Semangat dari Santa Nicholas untuk peduli dan memikirkan kehidupan orang lain, serta membagikan kebahagiaan pada sesama ini dapat kita teladani. Ketika menyambut Natal, maka kita diundang untuk memelihara sukacita Natal. Sukacita Natal yang kita pelihara ini bukan hanya untuk disimpan sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang banyak. Mengapa? Karena Juruselamat akan datang untuk membebaskan dan menyelamatkan kita dari dosa. Sukacita ini yang perlu kita sebarluaskan kepada orang banyak. Semakin sering kita membagikan sukacita ini, maka akan semakin banyak pula orang yang bersukacita dan memiliki harapan dalam menyambut Natal.

Kenneth Oswald