MENJALANI HARI DEPAN

Tahun baru merupakan momen yang dinantikan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Namun, tidak semua orang juga merasa bahwa tahun baru merupakan sebuah momen yang perlu dirayakan bersama. Ada beberapa faktor yang membuat beberapa orang merasa bahwa tahun baru tidak perlu dirayakan. Salah satunya adalah orang-orang yang sedang bergumul dengan kehidupannya. Hidup yang sulit membuat beberapa orang perlu terus berjuang setiap hari sehingga tidak sempat memikirkan perayaan dalam memasuki tahun baru. Peristiwa ini merupakan sebuah realita dalam kehidupan yang tidak dapat dikesampingkan. Bagaimana kita menghadapi realita kehidupan yang hadir? Apa yang dapat kita lakukan ketika tahun baru sudah ada di depan mata?

Ada sebuah nyanyian iman yang dituliskan dalam Mazmur 121, pemazmur menggambarkan sebuah kegetiran dalam kehidupan. Ia mencari pertolongan ke atas gunung tempat yang diyakini sebagai “rumah Tuhan”. Namun, ia menjelaskan bahwa di sana tidak ditemukan pertolongan dalam menghadapi kehidupan yang sukar. Perenungan imannya berhenti pada keyakinan bahwa hanya Tuhan tempat ia menerima pertolongan. Tuhan tidak pernah terlelap dalam menjaga umatNya yang terus berada dalam naunganNya. Pengakuan iman inilah yang membuat pemazmur yakin bahwa Tuhan selalu menjaganya dalam perjalanan kehidupan. Perjalanan yang tidak mudah dapat ditempuh bersama dengan Tuhan yang terus menolong dan memberi kekuatan.

Realita kehidupan yang sulit mungkin menjadi tantangan setiap orang percaya, pergumulan pun menjadi sesuatu yang menyesakkan dada. Namun, setiap orang percaya memiliki Tuhan Yesus Kristus yang telah lahir dalam kehidupan ini. Tuhan yang hadir menjadi penolong sehingga menguatkan setiap kita untuk melangkah dalam kesukaran hidup. Dalam memasuki tahun yang baru kita diajak untuk terus mengarahkan hati serta pikiran kepada Tuhan yang telah lahir. Kita dapat menaruhkan setiap pergumulan yang dihadapi dengan berpegang pada Tuhan. Setiap pergumulan yang dijalani dapat dihadapi dengan terus berpaut pada Tuhan Sang Empunya kehidupan. Marilah, kita songsong tahun baru dengan keyakinan bahwa Tuhan terus beserta dan menjadi sumber kekuatan kita.

Forum Pendeta


SATU ATAU DUA ATAU TIGA

Pembicaraan yang terjadi akhir-akhir ini di banyak kelompok atau pertemuan tidak bisa dilepaskan dari selipan selipan mengenai Pemilu. Beragam argumentasi disampaikan untuk menjelaskan pilihannya kepada orang yang menjadi lawan bicara. Jika pilihannya sejalan, obrolan akan saling menguatkan. Jika pilihannya berbeda, maka masing-masing pihak berusaha menunjukkan bahwa pilihannya lebih baik daripada yang lain. Dinamika ini menarik karena kita semua tahu bahwa semua pasangan calon presiden dan wakil presiden memiliki kelebihan dan kek urangannya. Tentunya dalam menjatuhkan pilihan, kita diajak betul-betul membuka mata lebar lebar sehingga dapat menangkap detail dari masing-masing pasangan calon, mau berusaha menggali informasi dari berbagai sisi baik yang pro maupun kontra, mempertimban gkan dengan objektif, dan bersedia dibimbing oleh hikmat Tuhan.

Sebagai orang percaya, ketika kita mengatakan bersedia dibimbing hikmat Tuhan, sama sekali tidak boleh dipandang sebagai kata kata yang klise. Justru disinilah cermin dari keberimanan kita. Dalam segala keterbatasan yang ada, kita perlu hikmat yang membukakan kebenaran, menuntun, dan mengarahkan langkah kita. Salomo, dengan segala kemampuannya dan ditunjang dengan posisinya sebagai raja, tetap memohon hikmat kepada Tuhan untuk mengemban tugasnya. Hal ini dinyatakan dalam 1 Raja-raja 3:3-15. Untuk melaksanakan tugasnya melayani bangsa Israel, umat kepunyaan Allah, Salomo meminta pimpinan Sang Empunya yaitu Allah sendiri.

Mungkin kita berpikir, wajar kalau Salomo minta hikmat karena dia seorang raja, yang memimpin suatu bangsa yang besar. Kalau kita meminta hikmat untuk dapat mencermati perkara ”satu atau dua atau tiga” apakah tidak berlebihan Tentu tidak berlebihan, malah itu yang harus kita lakukan. Kita merindukan negara ini dipimpin oleh orang yang dapat melayani seluruh bangsa dengan benar. Begitu banyak janji dan data yang ditebarkan, tanpa pimpinan hikmat Tuhan, kita tidak mungkin dapat mengenali kebenaran di balik semuanya. Belum lagi, karena pikiran kita dipenuhi oleh ”satu atau dua atau tiga” sehingga cenderung melupakan ada empat kertas lainnya yang perlu dicoblos juga. Mencermati pilihan pilihan yang cukup banyak di keempat kertas itupun sangat memerlukan hikmat Tuhan.

Kita harus memakai waktu yang terus berjalan menuju tanggal 14 Februari 2024 dengan hikmat Tuhan. Inilah saat kita menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai warga negara untuk kelangsungan kehidupan negara ini dengan memilih pemimpin yang tepat. Hikmat Tuhan memampukan kita selalu.

Forum Pendeta


POLITIK BERKAT

Apakah anda pernah atau sering menemukan ungkapan ”politik berkat”? Mungkin ada sebagian besar dari kita yang baru kali ini bertemu dengan ungkapan tersebut. Tentu hal ini tidak dimaksudkan untuk mempolitisasi berkat untuk kepentingan tertentu. Pemahaman kita mengenai berkat tentu saja tidak sesempit hanya bentukan material saja. Berkat juga berupa kesejahteraan non material, yang bisa berupa damai sejahtera, kebebasan,keadilan, kebenaran, kasih yang dihadirkan Allah. Ungkapan ”politik berkat” hendak menolong kita sebagai umat Allah dalam menjalankan kehidupan yang sebenarnya tidak pernah dapat dilepaskan dari politik di manapun kita berada. Dapat dikatakan bahwa politik berkat adalah politik yang dikreasi dan dinavigasi oleh Allah.

Bagaimana mungkin Allah mengkreasikan politik berkat ini? Kita merasakan politik adalah sesuatu hal yang sangat kompleks. Ia mewujud dalam hubungan hubungan yang terjadi di kehidupan manusia. Bukan saja hubungan sosial yang beragam di antara manusia yang bersifat horisontal, melainkan politik juga punya dimensi yang vertikal. Sifat vertikal dalam politik terjadi antara pemimpin yang berkuasa dengan orang orang yang dipimpinnya, sehingga bisa dikatakan memiliki hubungan kekuasaan. Politik berkat yang dikreasi oleh Allah menujukkan kedua sifat ini secara nyata dan ideal. Di dalam berkat, ada sifat vertikal di mana Allah sebagai pemberi berkat, menyatakan berkatNya kepada umatNya. Di sini dapat dikatakan bahwa umat menerima berkat dari Allah. Di dalam politik b erkat ini, umat terikat dengan dimensi yang horisontal bahwa sebagai penerima berkat, umat juga dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesamanya.

Politik berkat Allah ini dapat kita temui dalam Alkitab sejak penciptaan. Ketika manusia telah diciptakan, maka tindakan pertama Allah adalah memberkati (Kej. 1:28). Barulah setelah itu, Allah menunjukkan seluruh ciptaan-Nya sebagai arena tugas panggilan kehidupan manusia untuk mewujudnyatakan berkat Allah yang diterimanya. Demikian pula, penjelasan selanjutnya bahwa Allah berhenti di hari ketujuh untuk memberkati (Kej. 2:3) 3). Politik berkat ini menjadi semakin nyata ketika Allah memanggil Abraham (dan diteruskan pada keturunannya) pada Kejadian 12 untuk menjadi berkat bagi semua kaum di muka bumi. Namun, pemberitaan dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa keturunan Abraham gagal untuk mewujudkan kehidupan sebagai penerima berkat dan menjadi berkat bagi bangsa bangsa. Janji Allah kepada Abraham ini yang digenapi dengan kehadiran Kristus, yang memberikan hidup-Nya menjadi berkat bagi seluruh ciptaan.

Di dalam Kristuslah, Allah memanggil setiap orang Kristen untuk terlibat dalam politik berkat. Kita menerima berkat Allah dan menjadi berkat dalam partisipasi di tengah tengah konteks kehidupan yang Tuhan percayakan. Saat ini, Tuhan mempercayakan kita ada dalam situasi menjelang pemilihan umum. Mari kita berpartisipasi dan berperan dengan bertanggung jawab melalui kesediaan mempelajari regulasi yang ada, memberikan diri terlibat dalam penyelenggaraan pemilu dengan berintegritas, menjadi pemilih aktif dan partisipatif, serta jika ada di antara kita yang sedang mengajukan diri melayani masyarakat sebagai calon legislatif maka nyatakanlah nilai nilai Kerajaan Allah dalam setiap gerak Saudara. Tuhan Yesus memampukan selalu.

Forum Pendeta


AMAN, DAMAI DAN TENTERAM

Mengalami hidup yang aman, damai dan tenteram, seperti judul tulisan ini, tentu menjadi kerinduan dari setiap manusia, termasuk orang percaya, di setiap langkah kehidupannya. Namun, suasana yang demikian tentu saja tidak dapat terjadi begitu saja di tengah situasi manusia yang beragam latar belakang dan juga kepentingannya. Dibutuhkan kesadaran dan kesediaan melakukannya sebagai bentuk tanggung jawab atas kehidupan yang dipercayakan Tuhan.

Di dalam menghadirkan keadaan yang aman, damai dan tenteram ini, perlu landasan yang kuat mengingat begitu banyak tantangannya. Sebagai orang percaya, landasan ada di dalam kebenaran firman Tuhan. Tuhan-lah sumber keamanan, kedamaian dan rasa tenteram itu dan Ia mengaruniakannya kepada kehidupan umatNya (2 Tawarikh 14:6). Artinya kehidupan keseharian umat harus menampakkan hal-hal tersebut. Umat tidak mengandalkan pemberlakuannya kepada pihak-pihak lain. Umat harus datang kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan untuk dapat mengalami aman, damai dan tenteram secara penuh.

Apakah juga ada di antara kita yang bergumul mengenai keadaan yang aman, damai dan tenteram menjelang, pada saat dan setelah pemilu? Apakah kita merasa bahwa situasi tersebut di luar jangkauan dan kemampuan kita? Firman Tuhan yang dinyatakan Paulus dalam 1 Timotius 2:1-4 patutlah kita perhatikan. Bagian ini adalah nasihat Rasul Paulus kepada Timotius untuk ia kerjakan dan pastinya diteruskan sebagai pengajaran kepada jemaat. Paulus mengajarkan untuk menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang termasuk untuk raja-raja dan pembesar dengan tujuan dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Hal ini menunjukkan bahwa situasi aman, damai dan tenteram bukanlah sesuatu yang di luar jangkauan kita. Dalam kesungguhan kita mendoakan semua orang termasuk pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama dan memohon Tuhan untuk memampukan ke semuanya, termasuk diri kita, mengambil peran nyata mewujudnyatakannya. Hal itulah yang berkenan kepada Allah.

Jadi, mari mulai dari kita. Dengan anugerah dari Sang Sumber keamanan, kedamaian dan ketenteraman, kita mengupayakannya. Banyak cara yang bisa kita pakai, melalui diskusi-diskusi yang positif, saling menghargai dan menghormati pilihan dan pemikiran di balik pilihan dari orang-orang lain, postingan- postingan dalam media sosial ataupun status dan terutama doa-doa kita yang sungguh bukan hanya mendoakan pemerintah agar mengupayakan keamanan tetapi mendoakan diri kita untuk dapat berperan nyata dalam situasi sekitar kehidupan kita. Tuhan memampukan selalu.

Forum Pendeta