RELASI PENGUSAHA DAN PEKERJA

Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau International Labour Day, dan menjadi hari libur nasional. Hal ini menandakan bahwa hari buruh ini penting untuk diperhatikan, baik bagi buruh (karyawan atau pekerja) dan pengusaha (pemberi kerja). Relasi yang baik antara pengusaha dan pekerja sangat penting karena ini akan berdampak pada iklim berusaha, kinerja dan produktivitas, juga iklim investasi. Sayangnya sampai hari ini hari buruh belum menjadi hari yang menyenangkan (kecuali karena tanggal merahnya), baik bagi pekerja maupun pengusaha. Hari buruh senantiasa dihantui dengan demo buruh, baik kepada pengusaha maupun kepada pemerintah. Hari buruh dijadikan momen dimana buruh menunjukkan kekuatannya dengan cara berdemo. Belum lagi kalau disertai dengan tindakan-tindakan anarkis yang merusak dan mengancam nyawa. Ini menandakan bahwa kehidupan buruh masih membutuhkan perbaikan, disamping relasi yang belum harmonis antara pekerja dan pemberi kerja. Bagaimana kita sebagai gereja menyikapi hal ini? Ini bukan hanya permasalahan buruh/pekerja dengan pemerintah dan pengusaha, ini juga permasalahan Gereja. Anggota jemaat adalah bagian dari pekerja dengan berbagai skala, juga pengusaha dengan berbagai skala. Dalam relasi yang sederhana, banyak di antara jemaat yang memiliki Asisten Rumah Tangga (ART). Bagaimana sikap kita kepada mereka, ini akan menjadi cerminan sikap dalam skala yang lebih besar bila kita mempunyai usaha dan karyawan yang lebih banyak. Relasi ini seharusnya diwarnai dan didasari oleh apa yang Tuhan Yesus ajarkan melalui pengalaman orang beriman.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengatakan demikian tentang hubungan hamba dan tuan pada masa itu: “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.” (Efesus 6:5-9).

Paulus mengajarkan sikap dan relasi yang seharusnya dimergerti, dipahami dan dijalani, baik hamba maupun tuan.
Pertama, adanya ketaatan, gentar dan tulus hati seperti taat kepada Kristus.
Kedua, bukan hanya di depan mereka untuk menyenangkannya tetapi sebagai hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah.
Ketiga, seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
Empat, semua orang akan menerima balasannya dari Tuhan.
Lima, jauhkanlah ancaman.
Enam, baik hamba maupun tuan memiliki Tuhan yang sama.
Tujuh, Tuhan tidak memandang muka.

Bila nilai-nilai di atas dihargai dan dihidupi baik oleh pekerja maupun pemberi kerja, maka relasi yang tercipta adalah relasi yang indah, saling menghargai, saling membutuhkan, saling memanusiakan, saling mensejahterakan. Ingat Tuhan hadir dalam setiap relasi itu. Siapa yang salah, curang atau berlaku tidak benar akan berhadapan dengan Tuhan Yesus sebagai Hakim. Jika hal ini terjadi peringatan hari buruh akan menjadi perayaan yang indah untuk semua pihak, karena semuanya merayakan indahnya pekerjaan yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai bakti dalam hidup sebagai manusia.

Galvin T.B.


RELASI DALAM KEHIDUPAN

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:9-10)

Salah satu kunci dalam keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup manusia adalah relasi. Relasi menjadi kunci bagi suami istri agar dapat menjaga, merawat dan memelihara hubungan suami istri. Relasi juga menjadi kunci bagi orang tua dan anak agar semua situasi dan kondisi dapat disikapi dengan bijak. Relasi juga menjadi kunci bagi hubungan atasan dan bawahan, rekan kerja, hidup bertetangga dan dalam menjaga keberlangsungan suatu pemerintahan. Banyak negara yang pemerintahannya tidak dapat bertahan apalagi berjalan karena tidak ada relasi yang baik antara lembaga-lembaga yang ada. Pertanyaanya adalah bagaimana kita harus mendasari dan mewarnai relasi yang kita jalin agar semuanya menghadirkan keindahan dan kebahagiaan?

Tuhan Yesus menegaskan dalam pengajaran-Nya bahwa hal pertama yang menjadi dasar dari setiap relasi adalah kasih. Allah yang adalah kasih menjadi sumber kasih yang Kristus rasakan. Kasih Bapa itu yang kini Kristus alirkan dari hidup-Nya kepada para murid. Kasih Bapa yang selalu memberi, menghadirkan dan mengharapkan kebaikan bagi ciptaan-Nya. Kasih Bapa yang senantiasa mencari dan memulihkan setiap mereka yang tersesat dan sakit. Kasih Bapa yang mengasihi siapa saja tanpa terkecuali, sebagaimana ia menerbitkan matahari untuk orang yang baik maupun yang jahat. Kasih yang rela berkurban untuk menyelamatkan orang yang salah, hilang dan berdosa agar bisa berdamai kembali dengan-Nya. Kasih yang mewujud dalam Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia dan rela mati agar manusia yang berdosa tidak binasa tetapi beroleh hidup yang kekal. Apakah kasih dari Bapa yang menyapa kita dalam kehadiran Kristus ini juga yang mendasari relasi kita dengan Allah dan sesama? Bila ya, maka kita akan menemukan keindahan dalam setiap relasi yang terjalin apapun warna-Nya.

Hal kedua yang Tuhan Yesus tegaskan adalah tinggal di dalam kasih-Nya. Kita adalah makhluk fana dan rapuh. Banyak hal yang membuat kita terluka, tersinggung, marah, kecewa, tidak bisa mengampuni, suka membalas dendam. Semua itu menunjukkan kerapuhan hati kita: mudah terluka. Jika kita mengandalkan diri kita sendiri, maka kita akan kecewa dan putus asa. Semua kebaikan yang kita inginkan untuk kita lakukan seringkali tidak terwujud. Apa yang baik yang ingin kita lakukan sering kali yang terjadi adalah yang sebaliknya, kata Paulus. Undangan Tuhan Yesus menjadi relevan, agar kita mampu menjalin relasi dengan dasar kasih, maka kita harus tinggal di dalam Kristus, pribadi yang menjadi bukti dari kasih Allah Bapa kepada dunia ini (lih. Yoh. 3:16). Hanya dengan tinggal di dalam Kristus kita bisa merasakan kasih Allah dan mengalirkannya dalam relasi dengan sesama. Di luar kasih Kristus buah yang kita hasilkan akan mengecewakan. Tinggallah di dalam kasih-Nya, jangan takut, maka Saudara akan memiliki relasi yang indah dalam hidup.

Ketiga, relasi menjadi indah bila di dalamnya ada ketaatan. Inilah yang Tuhan Yesus teladankan. Tuhan Yesus tidak hanya mengajar atau mengundang, tetapi ia juga mempraktekkan apa yang Ia ajarkan. Tuhan Yesus hidup dalam ketaatan kepada Bapa. Apa yang menjadi kehendak Bapa, itulah yang ia wujudkan dalam hidup-Nya. Sekalipun itu adalah sesuatu yang berat: pengurbanan diri. Bagi Tuhan Yesus, ketaatan kepada perintah Bapa adalah makanan dalam hidup-Nya. Itu yang membuat hidup: menaati perintah Bapa. Dengan cara apakah kita menuruti perintah Allah. Hal-hal apa saja yang seringkali membuat kita sulit hidup dalam ketaatan? Sejauh mana Saudara belajar taat?

Mari kita rayakan indahnya kehidupan dalam relasi yang indah dengan Tuhan Yesus dan sesama.

Forum Pendeta


RELASI DI DALAM KELUARGA

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
(Kolose 3:18-21)

Relasi antar anggota keluarga seharusnya menjadi hal yang indah dan menyenangkan. Ikatan yang menyatukan antara anggota yang satu dengan lainnya adalah ikatan yang sangat erat. Suami, istri, orang tua, anak adalah orang-orang terdekat yang telah saling mengenal satu dengan yang lain. Mereka terikat ikatan kekeluargaan yang sangat dekat dan saling mencintai. Ini seharusnya menjadi modal yang lebih dari cukup untuk membangun relasi yang indah dan menyenangkan. Keluarga adalah ruang sosial pertama dan utama bagi setiap individu untuk melatih relasi yang sehat. Setiap individu yang dapat berelasi dengan sehat di tengah keluarga maka ia akan dapat menjalin relasi yang sehat di tengah masyarakat.

Bagaimana kenyataan atau realita yang ada dalam kehidupan sesehari? Ternyata keluarga belum menjadi ruang yang dapat membangun setiap anggotanya menjadi pribadi-pribadi yang hangat dan dewasa dalam berelasi. Relasi suami istri, orang tua anak seringkali menghadapi kendala, bahkan banyak yang merasa jauh walaupun berdekatan. Tidak dapat saling memahami bahkan terasa seperti orang asing. Tidak ada kedekatan yang tercipta justru sekat-sekat yang memisahkan. Ruang rindu tidak lagi menyenangkan, hanya sekedar kewajiban. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membenahinya?

Rasul Paulus dalam nasihatnya kepada jemaat di Kolose menuliskan bagaimana seharusnya relasi yang sehat, benar dan mendewasakan sekaligus menyenangkan antar anggota keluarga. Pertama: relasi didasarkan pada kesadaran bukan keterpaksaan. Kedua: relasi diwarnai kasih bukan kekerasan atau intimidasi. Ketiga: relasi didasari ketaatan akan keindahan kasih Tuhan. Keempat: relasi itu menumbuhkan kepercayaan diri. Kelima: relasi dilakukan dalam bingkai kasih Kristus.

Ingat relasi yang buruk akan menghadirkan pribadi-pribadi yang terluka dan tersakiti, tetapi relasi yang sehat melahirkan pribadi-pribadi yang sehat. Jadikan keluarga sebagai habitat yang sehat agar setiap pribadi menemukan eksistensi dirinya.

Forum Pendeta


PENUHLAH MEREKA DENGAN ROH KUDUS

Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka. (Kis. 2:4)

Pentakosta (hari ke-50) menjadi puncak karya penyelamatan Allah bagi dunia. Pentakosta dalam tradisi keagamaan orang Yahudi diperingati sebagai perayaan penuaian setelah panen gandum ketika hulu hasil dipersembahkan kepada Allah (Im.23:17). Di sinilah kita mengenal tradisi “unduh-unduh” sebuah tradisi masyarakat agraris yang mempersembahkan hasil panen yang pertama kepada Allah. Gereja merayakan hari Pentakosta sebagai Hari Pencurahan Roh Kudus, sebagai penggenapan janji Yesus dan juga pemenuhan dari nubuatan Nabi Yoel. Roh Kudus yang tercurah di hari ke-50 setelah kebangkitan Yesus atau 10 hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga adalah momen di mana para murid diperlengkapi kuasa yaitu Roh Kudus untuk menjadi saksi dari karya Tuhan Yesus. Maka hari Pentakosta bisa dikatakan sebagai pesta panen, bukan lagi panen dalam arti harafiah (panen gandum) tetapi panen jiwa-jiwa yang bertobat setelah mendengar kesaksian para murid atau orang percaya. Ini yang harus diperingatikan dan diingatkan lagi, agar tugas perutusan sebagai saksi-saksi Kristus terus dihidupi dan dirayakan dalam kuasa Roh Kudus.

Di sinilah kita diajak kembali untuk memaknai Pentakosta secara utuh dan benar. Pertama: Pentakosta adalah dimulainya penggenapan janji Allah (Yoel 2:28-29) untuk mencurahkan Roh-Nya atas semua manusia (Lih. Kis. 1:4-5, Mat. 3:11, Luk. 24:49, Yoh. 1:33). Juga janji Tuhan Yesus kepada para murid sebelum Ia naik ke Surga. Janji yang membuat para murid atau orang percaya memiliki keberanian untuk bersaksi. Mereka tidak sendiri, Roh Allah sendiri telah tercurah dalam diri manusia. Inilah yang membuat para murid berani bersaksi, berani berkata-kata, berani menghadapi bahaya dan berani mengambil resiko. Roh Kudus menuntun dan menantang orang untuk berani memilih dalam hidupnya. Hidup menurut apa yang Allah inginkan yaitu hidup yang menjadi saksi-Nya.

Kedua: Pentakosta juga menunjukkan hari-hari terakhir dari jaman akhir telah dimulai (Kis. 2:17). Semua orang diperhadapkan untuk menerima atau menolak Kristus (Kis.3:19). Manusia diperhadapkan pada pertobatan dari dosa, kesadaran ini akan membawa manusia pada pengampunan dosa. Bila tidak mereka sudah menempatkan dirinya sendiri pada penghakiman dan penghukuman. Pertobatan yang membawa manusia pada kesiapan untuk menyambut Kerajaan Surga yang semakin mendekat dalam hidup mereka (Mat. 3:2). Sebaliknya kebinasaan akan menimpa setiap manusia yang tidak bersedia mendengar panggilan pertobatan (Luk. 13:3).

Ketiga: Pentakosta juga bermakna bahwa para murid “diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49), yang menyanggupkan mereka bersaksi bagi Kristus, menginsafkan orang akan dosa, kebenaran dan penghakiman Allah sehingga mereka berbalik dari dosa kepada keselamatan dalam Kristus. Tugas para murid dan orang percaya bukanlah tugas yang mudah, mereka sanggup melakukan semuanya hanya karena mereka penuh dengan Roh Kudus. Inilah yang membuat mereka berani bersaksi, memanggil orang untuk insaf dan menikmati keselamatan dalam Kristus. Hanya Gereja yang penuh dengan Roh Kudus yang berani dan mampu melakukan ini semua.

SELAMAT HARI PENTAKOSTA

Forum Pendeta