MERAWAT DAN MERAYAKAN PERBEDAAN

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus” (1 Korintus 12:12).

Perbedaan seperti dua sisi mata pisau. Pada satu sisi membuat kehidupan berwarna dan indah. Pada sisi yang lain perbedaan menghadirkan sisi kelam nan kejam bagi kehidupan. Pelangi sering dipakai melambangkan betapa indahnya perbedaan. Pelangi menjadi indah karena menampilkan warna-warna yang berbeda. Kita juga dapat melihat kelamnya perbedaan yang membawa manusia pada tindakan yang jauh dari indah. Betapa banyaknya pertikaian, pertumpahan darah, peperangan bahkan pembantaian yang dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan menghidupi perbedaan.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa perbedaan yang ada seharusnya tidak menjadi dasar untuk bertikai, terpecah dan terbelah. Perbedaan dalam kehidupan harus dimaknai dan dimengerti serta dipahami sebagai kesempatan untuk saling melengkapi. Siapapun dia, betapa pun berbedanya dengan saya ia adalah bagian dari Tubuh Kristus. Inilah dasar berpikir yang harus dihidupi. Pusat hidup bukan aku dan kamu tetapi Kristus. Aku dan kamu memang berbeda tetapi kita adalah satu dalam Kristus. Jika ini menjadi nilai dalam kehidupan kita, dan nilai ini kita jadikan budaya, maka hidup kita setiap hari adalah hidup yang merayakan perbedaan dengan sukacita. Tanpa perbedaan di mana indahnya gereja?

Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, juga telah menjadi nafas hidup negeri tercinta Indonesia. Setiap warga negara Indonesia (seharusnya) hafal dengan semboyan ini “Bhineka Tunggal Ika.” Pertanyaannya, apakah pada saat yang sama mereka menjiwai semboyan ini? Apakah sudah menjadikan semboyan ini sebagai nilai dan budaya dalam hidup sesehari? Seandainya sudah, maka pemilu dan semua perbedaannya bukan ajang yang menakutkan atau menakut nakuti , justru menjadi pesta perbedaan yang menyenangkan. Apakah artinya pesta bisa semua warna adalah sama. Sebuah pesta menjadi meriah bila menghadirkan aneka warna yang berbeda. Warna yang dilihat, dirangkul, diterima dan dimaknai sebagai warna dalam rengkuhan cinta. Ingat Indonesia rumah yang indah untuk semua yang berbeda. Demikian juga Kristus, tubuh yang indah untuk bertumbuhnya semua perbedaan.

Forum Pendeta


MERAYAKAN KEMULIAAN

”Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.”
(Markus 9:9)

Siapa yang tidak ingin dikenal dan terkenal? Rasanya ini sudah menjadi kebutuhan bagi kebanyakan orang. Media sosial telah membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menjadi dikenal dan terkenal. Mari kita lihat kecenderungan kehidupan saat ini. Orang memposting hampir semua aktivitas kehidupan yang dijalaninya. Dari hal-hal biasa sampai hal-hal yang ekstrim. Dari hal-hal yang aneh sampai hal-hal yang menginspirasi. Bahkan hal-hal yang kelihatan sederhana bisa menjadi luar biasa karena diposting dan diviralkan melalui media sosial. Terlebih di masa-masa kampanye menjelang pemilu. Begitu banyak orang memperkenalkan diri, mengiklankan diri supaya dikenal dan terkenal. Berbagai gaya, rayuan dan janji ditebar semenarik mungkin, agar orang tertarik. Orang juga dengan sangat mudah mem-forward hal-hal yang dianggap menarik dan benar, tanpa melakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Baru sesudah terbukti bahwa itu hoax, mereka mengatakan bahwa mereka hanya meneruskan.

Di tengah budaya forward yang terjadi di masyarakat, Minggu Transfigurasi menegaskan pesan dari Tuhan Yesus, bahwa Ia tidak ingin mengekspos kemuliaan-Nya sebelum terkonfirmasi dari karya-Nya di kayu salib. Pesan Minggu Transfigurasi ini bisa jadi sangat berbeda dengan cara berfikir jemaat tentang kesaksian, dan pencapaian hidup. Banyak orang terjebak pada keberhasilan sesaat atau cerita yang menakjubkan dan memberikan apresiasi yang berlebihan. Dan kemudian kecewa saat apa yang dikagumi dari kisah atau kesaksian yang hebat tadi berakhir mengecewakan. Tuhan Yesus tidak ingin tenggelam dalam apresiasi instan yang sesaat, yang menggoda dan belum tentu tulus. Tuhan Yesus mengajak para murid dan orang percaya menapaki jalan kemuliaan dalam karya solidaritas yang terbukti sampai langkah terakhir. Jangan mudah terpukau dengan apa yang terjadi tanpa menguji apa yang terjadi saat yang tersulit terjadi: salib.

Tuhan Yesus melarang para murid menceritakan apa yang mereka lihat (penampakan kemuliaan) di puncak gunung. Mereka harus menunggu waktu yang tepat, yaitu setelah kebangkitan-Nya. Bukan hanya sepotong peristiwa yang memancarkan kemilau yang menyilaukan, tetapi seluruh kisah yang utuh dari jalan hidup yang setia pada misi Allah. Banyak orang terpukau dengan keindahan kedudukan, jabatan, kekayaan, dan kepandaian tetapi sedikit dari mereka yang setia sampai akhir langkah. Maka tak jarang bila sumpah yang mulia seringkali teronggok menjadi sampah, yang bau dan mematikan. Bukan berarti tidak boleh memimpikan dan merengkuh kemuliaan dalam hidup. Boleh. Tetapi ingat tidak pernah ada mahkota tanpa salib. Penderitaan dan kesetiaan adalah ujian yang paling besar dalam hidup manusia untuk merengkuh kemuliaan secara utuh. Cahaya kemuliaan Kristus memancar sebab Allah berkenan kepada Dia yang kesetiaan-Nya tak terbantahkan. Bagaimana dengan Saudara dan saya? Tuhan Yesus sudah memberikan teladan bagaimana merengkuh dan memancarkan kemuliaan Allah yang sejati. Tidak mudah. Tuhan Yesus mengajak kita untuk melangkah mengikuti jejak-Nya. Bukan jejak yang lain.

Forum Pendeta


SEGALA SESUATU ADA WAKTUNYA

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkhotbah 3:1-11).

Apa yang dituliskan oleh penulis Kitab Amsal ini sudah sering kita baca dan kita gunakan untuk memberikan penegasan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan kita mengenai waktu dan peristiwa: segala sesuatu ada waktunya. Tentu saja ini bukan hanya sebagai penghiburan tetapi juga keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai manusia, gereja, negara, dan semua ciptaan tidak pernah lepas dari karya Tuhan Allah.

Pemilu yang baru saja kita lalui, hasil cepat yang sudah tersebar dan diketahui bersama, respon dan sikap dari yang kalah dan menang, gagal dan berhasil, puas dan tidak puas, senang dan sedih menghiasi berita di berbagai media massa dan media sosial. Di group-group Whatsapp juga berseliweran berita yang menggambarkan berbagai ekspresi. Apa yang bisa kita pelajari dari apa yang terjadi berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab Amsal?

Pertama: Segala sesuatu ada waktunya. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa menerima apa yang terjadi. Penerimaan ini membuat kita tidak menyalahkan orang lain, situasi, dan kondisi atau mencari pembenaran. Sikap ini juga membuat orang belajar untuk “legowo” ketika apa yang diinginkan tidak terwujud, belum waktunya, atau bukan waktunya.

Kedua: Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Semua kegagalan dan kekalahan melahirkan kekecewaan, kemarahan, dan rasa putus asa. Sulit untuk berpikir secara sehat dan menerima semua yang terjadi secara positif. Apalagi melihat keindahan dari sebuah kegagalan dan kekalahan. Tetapi apakah benar demikian? Orang yang bisa belajar dari kekalahan dan kegagalan, mengevaluasi diri, tidak menyalahkan orang lain, menerimanya sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri, suatu saat nanti akan melihat dan merasakan keindahan yang Allah hadirkan.

Ketiga: Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Inilah keterbatasan dan kerapuhan kita, tidak bisa melihat segala sesuatu secara utuh. Ini wajar karena kita seringkali mengukur keberhasilan hanya dari waktu sekarang ini: kalah atau menang, gagal atau berhasil. Bukankah kemenangan atau keberhasilan saat ini belum tentu menjadi kemenangan dan keberhasilan yang disyukuri dan dirayakan 20 tahun kemudian? Bisa jadi justru disesali. Sedangkan kekalahan atau kegagalan saat ini bisa menjadi hal yang disyukuri pada masa yang akan datang.

Sebuah lagu mengatakan: “Suka duka dipakainya untuk kebaikanku. Suka duka dipakainya untuk kebaikanku.” Setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin ada masanya, kata orang bijak. Di atas semuanya mari kita yakini kepemimpinan Tuhan Yesus dalam semua bentuk kehidupan, termasuk kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia.

Forum Pendeta


JANGAN PERNAH LEPASKAN IMANMU PADA YESUS

Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di India terus meningkat dengan sebuah laporan bahwa seorang Kristen dibunuh karena keyakinannya oleh para radikal Hindu di desanya sendiri. Menurut Christian Solidarity Worldwide (CSW), Kande Mudu, 27 tahun, diserang dan dibunuh oleh sekelompok pria bersenjata di distrik Khunti, negara bagian Jharkhand, India pada 7 Juni. Dia telah memeluk agama Kristen empat tahun lalu.

Keluarga Mudu adalah satu-satunya orang Kristen yang tinggal di desa mereka. Mereka telah menghadapi ancaman terhadap kehidupan mereka dan selamat dari satu serangan kekerasan di rumah mereka dua tahun lalu. Mudu dibunuh ketika gerombolan itu muncul di rumahnya, mendobrak pintu depan, dan menyerangnya dengan senjata. Selama serangan brutal, tenggorokannya dipotong.

Bindu Mudu, istri Mudu, mengatakan kepada CSW, “Setelah mendengar para pria di pintu depan, suami saya tahu bahwa hidup kami dalam bahaya dan bahwa para pria tersebut memiliki niat buruk.” Mudu kemudian dilaporkan mengatakan kepada istrinya, dia mungkin dibunuh tetapi meyakinkannya untuk “tetap kuat dan tidak pernah melepaskan imannya kepada Yesus bahkan jika mereka membunuhnya.”

Bindu Mudu dan dua anak perempuan pasangan itu melarikan diri dari desa setelah pembunuhan suaminya karena tidak ada tetangga mereka yang memberi mereka perlindungan. Investigasi polisi terhadap pembunuhan Mudu sedang berlangsung. Tidak ada tersangka yang telah ditangkap dalam pembunuhannya.

Kisah di atas adalah satu dari sekian banyak kisah bahwa “Jalan Serta Yesus” tidak selalu mudah. Tuhan Yesus sendiri sudah menegaskan hal ini sejak awal karya-Nya kepada murid-muridnya. Berjalan bersama Yesus berarti berjalan dalam penderitaan, penolakan, bahkan kematian. Ini semua bisa terjadi dan mungkin terjadi. Dan bila ini terjadi maka tidak seharusnya melemahkan iman dan membuat orang percaya undur.

Ini semua membawa orang percaya berjuang. Pada saat yang sama “Jalan Serta Yesus” juga menajdi perjalanan peziarahan iman yang melampaui keterbatasan. Abram dan Sara terbatas dalam usia dan secara biologis, tetapi karena mereka berjalan bersama Allah, maka semua keterbatasan itu menjadi tidak berarti.

Pada akhirnya “Jalan Serta Yesus” adalah perjalanan yang diwarnai dengan penyangkalan diri, memikul salib dan mengikut Aku (Mar.8:34). Bukan dengan kekuatan sendiri tetapi dengan kekuatan, kuasa dan penyertaan dari Imam Besar yang telah melalui semua itu, yaitu Yesus Kristus. Ia akan memberikan kekuatan pada saat kita memerlukannya (Ibrani 4:15).

Selamat memasuki Minggu Pra Paskah 3: JALAN SERTA YESUS.
Forum Pendeta