Agustus 2018
Minggu, 5 Agustus 2018
ONGKOS REVOLUSI IMAN (ROMA 12:2)
Salam dalam Kasih Kristus untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan 35 Bogor. Kiranya Anugerah Allah terus memampukan kita. Tak terasa kita sudah memasuki bulan ke 8 ditahun 2018 ini, sebuah momen dimana kita merayakan sekaligus merenungkan makna kelahiran Republik Indonesia. Memasuki bulan Agustus saya dikejutkan oleh sebuah infografis yang diunggah tirto.id dalam laman Facebook-nya pada 31 Juli 2018 judulnya “Ongkos Revolusi Mental”. Dalam grafis tersebut kantor berita tirto.id menampilkan besaran APBN yang dikeluarkan untuk program ungulan Presiden Joko Widodo itu khusunya sosialisasi. Dan tampaknya hasilnya minim prestasi. Tiga tahun web revolusi mental berdiri hasilnya: 6 Infografik, 4 Video, 294 dukungan, 15 Galeri revolusi mental (data tirto.id per 31 Juli 2018). Dalam infografis yang didesain kekinian itu, ada sebuah opini yang membuat saya tersenyum membacanya “3 tahun 6 infografik, kalau tim saya cukup 3 jam bossque”. Infografis itu cukup menjadi trending topic selama awal bulan Agustus ini. Apakah revolusi mental gagal? Banyak perdebatan dalam kolom komentar: ada yang mengkritik pemerintah, ada yang membela pemerintah, ada yang mengatakan butuh waktu, ada yang bahkan memberikan teori-teori konspirasi atas revolusi mental itu, dsb. Tetapi dari semua opini-opini yang bertebaran, saya tertarik dengan sebuah opini diberikan PGI dalam webnya pada tahun 2015 lalu. Ketua Umum Pdt. Henrieti menyatakan “Ini (revolusi mental) selaras dengan kehidupan umat Kristen, berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2),” Yang mengkaitkan seruan ber- Revolusi Mental dengan seruan Paulus untuk berubah (Revolusi Iman) menjadi manusia yang berkenan pada Allah.
Selayaknya Paulus yang berseru/mengajak kita untuk berubah menjadi pribadi yang sekehendak Allah. Begitu pula pemerintah yang berseru/mengajak rakyat untuk berevolusi mental. Sebuah ajakan/seruan tentu bisa direspon beragam: ya atau tidak. Seruan inilah yang diberikan Paulus kepada jemaat di Roma untuk memiliki hidup baru dalam Kristus. Begitu pula revolusi mental didalamnya ada 353 ide perubahan untuk Indonesia lebih baik, semuanya adalah seruan/ajakan. Keduanya menujukan revolusi ini dimulai dari keterpangilan diri sendiri.
Penekan selanjutnya adalah mengenai berita yang disampaikan di ayat tersebut “Janganlah ikuti norma-norma dunia ini. Biarkan Allah membuat pribadimu menjadi baru supaya kalian berubah. Dengan demikian kalian sanggup mengetahui kemauan Allah yaitu apa yang baik dan yang menyenangkan hati-Nya dan yang sempurna. ” (Rom 12:2 BIS). Terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari menunjukkan sudah ada budaya sebelumnya budaya duniawi. Paulus mengajak kita berubah, hal ini tentu saja radikal, melawan arus, dan berat. Tetapi Allah-lah yang akan mengubahkan kita. Dan mereka yang telah diubahkan akan terpanggil juga untuk mengubahkan. John Stot dalam buku Living Church mengkaitkan Roma 12:2 dengan Garam dan Terang Dunia. Garam dan Terang itu berbeda dengan dunia, tetapi mereka mau meresap ke dalam dunia dan mengubah dunia seperti: Ikan yang telah digarami, sang garam menecegah ikan untuk membusuk. Maka bicara kemauan dan Allah dan menyenangkan Hati Allah adalah ketika kita mau menjadi Garam dan Terang. Menjadi para pembawa revolusi iman dan mental dalam bangsa ini.
Kita bisa paham 8 prinsip revolusi mental, kumpulan tafsiran, dan plus implentasi atasnya. Tetapi tanpa sebuah rasa keterpangilan dan kemauan untuk berubah dan mengubahkan itu menjadi kosong. Begitu pula menjadi seorang yang hidup baru dalam Kristus, sudah mengenal Kristus dan bahkan hafal pengajaran-Nya. Tetapi tidak terpangil memperbaharui diri dan mengubahkan sesama itu juga sama saja kosong. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita sudah terpanggil merevolusi iman-mental kita?. Merujuk apa yang dikatakan Pdt. Henriete mewakili PGI merevolusi atau terus menerus memperbarui diri adalah bagian integral dalam Iman Kristen. Tak ada jargon revolusi mental pun kita wajib terus memperbarui diri. Permasalahan sekarang revolusi mental digadangkan tetapi panggilan untuk terlibat di dalamnya/ keberhasilan rendah. Jadi dimanakah kita? Dimana kita orang percaya yang seharusnya menjadi garam dan terang yang merasuk dalam jiwa Indonesia. Bukankah panggilan kita menurut Roma untuk menghadirkan budaya baru yaitu garam dan terang.
Maka kalau ditanya berapa ongkos revolusi iman-mental ? Jawabnya adalah satu yaitu saya, saya yang terpanggil untuk digarami Allah dan mengarami sesama. Saya yang memulai dari diri sendiri untuk hidup jujur,beretos kerja tinggi, dan berintegritas. Biarpun hal itu kecil dan sederhana, karena Tuhan yang beracara maka Tuhan akan membuatnya jadi besar.
Referensi:
Infografis: Biaya Revolusi Mental
https://www.facebook.com/TirtoID/photos/a.1635613220097454.1073741828.1515768312081946/2149531235372314/?type=3&theater
Artikel: Biaya Revolusi Mental
https://tirto.id/biaya-revolusi-mental-dari-iklan-kkn-mahasiswa-hingga-taman-cPPT
Revolusi Mental Selaras dengan Kehidupan Kristen dan Membawa Indonesia Lebih Maju
https://pgi.or.id/revolusi-mental-selaras-dengan-kehidupan-kristen-dan-membawa-indonesia-lebih-maju/
Minggu, 12 Agustus 2018
GARUDA DI DADAKU (Nehemia 1:1-7)
Salam dalam kasih Kristus untuk semua anggota Jemaat dan Simpatisan GKI Pengadilan 35 Bogor, kiranya kasih Allah memampukan kita semua. Senin, 6 Agustus 2018 malam di Stadion Deltras-Sidoarjo, tampak berdiri seorang pemuda bersama 10 rekan lainnya dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang mengelegar. Pemuda dan 10 rekannya itu juga bernyanyi sembari tangan mengepal di dada di atas simbol Garuda. Tetapi ada yang berbeda dari wajah pemuda ini air matanya bercucuran. Ia menangis. Ia adalah Rendy Juliansah, salah satu dari pemain tim nasional (timnas) U-16 pada Piala AFF. Tim Indonesia bermain cantik kala itu, membungkam Kamboja 4-0 Rendy menyumbang 1 gol. Selain kemenangan Indonesia, hal lain yan menjadi viral adalah video tangisannya. Tangisan yang merupakan “Simbol Cinta yang besar bagi Bangsa ini”, Tulis para netizen di berbagai media sosial. Cinta Tanah Air!, Apakah kita masih mencintai negri ini? Bila merujuk Stadion Deltras-Sidoarjo kita akan melihat puluhan ribu orang yang mengaku cinta tanah air. Tapi cukupkah cinta membangun negri? Tidak ! Cinta butuh aksi dan tindakan.
Kisah cinta tanah air ini dihidupi pula oleh seorang tokoh Alkitab yang bernama Nehemia. Hidup di masa pembuangan, ia adalah pelayan Raja Artahsasta. Hidup di Istana Raja Persia tentu menyenangkan bagi seorang Israel masa itu, dibandingkan mereka yang hidup tertinggal dalam puing Yerusalem. Tetapi Nehemia tidak bahagia, ia gelisah dan sedih atas kondisi bangsanya. Dalam kegelisahan dan kesedihan ia mengangkat doa bagi bangsa Israel. Dalam Doa Nehemia kita dapat melihat ikatan yang erat antara Nehemia dan bangsanya. Ay.6-7 penekanan kata “dosa kami” menyatakan dosa bangsa itu adalah dosanya juga. Dan kebutuhan akan belas kasih Allah untuk bangsaNya adalah kebutuhannya juga. Dalam doanya, ia tampak mendorong Allah untuk bertindak. Ay 8-9 Dengan sopan ia mengingatkan Allah akan janji Nya dan memohon agar doanya didengarkan. Dan Ay 10 dalam nuansa teologi Keluaran (kemerdekaan Israel dari tanah Mesir) Kita melihat bagaimana Nehemia memuji Allah dan kembali mendorong Allah untuk mewujudkan karyaNya. Inilah cinta Nehemia yang begitu besar bagi bangsa Nya, dan karena cintanya ia ikut terluka ketika bangsanya terluka. Ia berbela rasa atas bangsanya.
Nehemia mengalami perubahan mula-mula ia bertanya mengenai keadaan Yerusalem kemudian ia merasa sedih, kemudian berdoa, dan kemudian mengambil keputusan untuk bertindak (Neh 1:11b BIS) Berikanlah pertolongan-Mu supaya pada hari ini hamba-Mu ini berhasil mendapat belas kasihan dari raja.” Pada masa itu aku adalah pengurus minuman raja.. Nehemia memperlihatkan kepada kita panggilan hatinya untuk Berbela Rasa sekaligus membangun kembali Bangsa. Rasa peduli itu awalnya membuat ia merasa kasihan dan kemudian menangis. Tetapi kepeduliannya tidak berhenti pada rasa haru ataupun sekedar doa. Kepedulian itu berubah menjadi aksi. Aksi untuk membangun bangsa nya. Tetapi ada hal tersirat yang juga ingin dijabarkan Alkitab dalam Aksi Nehemia yaitu Tuhan bekerja. Bagaiamana mungkin seorang pelayan Raja bisa dipercayai memimpin pasukan serta perberkalan untuk membangun kembali sebuah tanah jajahan. Tanpa intervensi Allah ini tak mungkin. Inilah tanda bahwa Allah turut andil dalam setiap gumul-juang kita.
Selayaknya Rendy yang karena cintanya kepada bangsa ini dan menciptakan gol pembuka bagi kemenangan Indonesia. Cinta itu butuh aksi selayaknya Yesus yang menunjukan aksi pengorbanan terbesar untuk kita yang dicintai-Nya. Bukan hanya Rendy saja yang mencintai dan berjuang bagi bangsa ini. Kita juga bisa. Kita yang mungkin anak muda bisa menujukan cinta kita melalui prestasi dalam berbagai cabang ilmu ataupun olah raga. Kita yang di usia produktif kita bisa menjadi para pekerja berintegritas, taat hukum, aktif dalam kegiatan lingkungan dan sosial. Setiap warga negara wajib berpartisipasi untuk pengembangan bangsa ini. Timnas Indonesia adalah salah satu simbol cinta dan aksi bagi bangsa ini. Ketika jemaat membaca tulisan ini mungkin kita sudah mengetahui siapa juara Piala AFF U-16. Kalah atau menang bukan jadi soal tetapi tangis dan perjuangan Timnas U-16 bagi bangsa ini. Adalah pemantik bagi kita untuk berlaku yang sama. Kalau mereka bisa tentu kita juga.
Garuda di Dadaku-Tuhan Memberkati Bangsaku.
Referensi:
Bintang Timnas U-16 Menangis
http://jateng.tribunnews.com/2018/08/07/video-bintang-timnas-u-16-menangis-saat-nyanyikan-lagu-indonesia-raya-hati-netizen-teraduk-aduk
Minggu, 19 Agustus 2018
GEREJA DAN NEGARA: POLITIK DALAM PANDANGAN KRISTEN (1)
Salam sejahtera bagi seluruh anggota jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Kiranya kasih Kristus memampukan kita mejadi orang yang merdeka. Ketika kita berbicara tentang politik, maka terkesan ”beda-beda tipis” dengan pembicaraan tentang negara dan kekuasaan, sehingga percakapan tentang bagaimana relasi gereja dan politik, mau tidak mau akan ikut “menyeret” percakapan mengenai relasi gereja dan negara yang didalamnya bicara kekuasaan.
Tetapi, apakah benar politik itu selalu soal kekuasaan? Ternyata menurut terminologi bahasa, politik berasal dari kata polis (kota)/ penata kota. Kota yang terbangun baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi setiap warganya. Para pejuang kota inilah yang disebut politisi. Jadi politisi pada dasarnya mereka yang berjuang untuk kesejahteraan kotanya, dan dalam upaya itulah seorang politisi dipilih rakyat untuk mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan yang diperlukan supaya proses pembangunan lebih cepat dan terkontrol. Jadi yang kotor bukan politik, tetapi ada politisi yang kotor dalam mendapat kekuasaan. Lalu bagaimana definisi politik menurut Alkitab? Hal ini secara jelas diungkapkan dalam Yeremia 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah bagi kota itu, karena kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Dari sini jelas, bahwa umat Kristen tidak boleh menjauhkan diri dari politik, apa lagi menganggapnya sebagai tabu.
Kristus pun juga seorang politikus (pejuang kota), Ia berjuang dengan visi nya kerajaan Allah.Visi itu tercantum pada Yesaya 9:1-5 yang menjadi ciri Kerajaan Allah:Terang, Suka Cita,Pembebasan, Damai Sejahtera, Keadilan dan Kebenaran. Dalam hal inilah Yesus berpolitik, Ia berpolitik supaya Allah merajai Bumi dengan keadilan dan damai sejahtera-Nya.
Dari apa yang dijabarkan di Yesaya 9:1-5, dapat dirumuskan bahwa kesempurnaan kita sebagai pengikut Nya adalah ketika mampu mengahadirkan nilai Kerajaan Allah dalam masyarakat. Maka dalam proses meneladani Yesus, gereja seharusnya menjadi perintis dan garda terdepan dalam membawa masyarkat merasakan Kasih dan Keadilan Allah untuk mengupayakan kesejahteraan Kota. Gereja diajak untuk melawat kepada semua orang. Mereka yang disingkirkan dan ditindas sehinga merasakan Kasih dan Keadilan. Hal inilah yang menjadi agenda politik gereja, bukan bermain kekuasaan tetapi mewartakan suara kenabian dalam pelayanannya.
Lalu apa aplikasinya bagi pelayanan kita? Apakah kita semua harus aktif dalam kancah politik di republik ini? Tentu tidak, tetapi gereja bertanggung jawab untuk mendidik warganya sadar politik dan menghidupi visi Kerajaan Allah. Sehingga para politisi yang di”utus” gereja diharapkan mempunyai komitmen tinggi di dalam melaksanakan tugas mereka, melalui pelayanan yang dilakukannya. Karena para politisi Kristen itu berasal dari partai-partai politik yang berbeda-beda, dengan asumsi bahwa mereka akan tunduk kepada “ideologi” dari partainya, maka gereja harus mempunyai visi politik yang dirumuskan sedemikian rupa, sehingga siapapun yang membacanya akan merasa terdorong untuk ikut memperjuangkannya. Salah satu hal yang diperjuangkan adalah, bahwa politisi Kristen tidaklah berjuang secara sempit dan eksklusif bagi kepentingan golongan sendiri, melainkan bagi kesejahteraan seluruh rakyat dan penegakan keadilan tanpa diskriminasi.
Kalau warga digalakan berpolitik, bagaimana dengan para pemimpin gereja, tertutupkah bagi para pemimpin gereja terlibat dalam “politik praktis”? Tidak juga. Sejarah dunia memperlihatkan bahwa banyak para pemimpin gereja melibatkan diri, bahkan mempelopori perjuangan politik praktis, misalnya dengan ikut-serta dalam berbagai demonstrasi. Kardinal Sin di Filipina misalnya, ikut serta di dalam menjatuhkan Presiden Marcos yang ingin berkuasa secara absolut. Uskup Desmond Tutu memelopori keruntuhan rezim apartheid kulit putih di Afrika Selatan. Alan Boesak pernah dipenjarakan oleh rezim rasialis Afrika Selatan tersebut, karena ikut serta dalam berbagai perjuangan menumbangkan rezim itu. Di era Perang Dunia II di Jerman, Dietrich Bonhoeffer malah terlibat dalam konspirasi yang mau membunuh Hitler. Ini misteri sejarah. Tetapi diduga bahwa dalam pandangan Bonhoeffer, lebih baik satu orang dibunuh, ketimbang seluruh dunia dibakar oleh api peperangan. Deklarasi Barmen, yang menentang Hitler sesungguhnya adalah sebuah pernyataan politik, dan keberpihakan kepada perdamaian dan keadilan.
Dari berbagai kasus ini bisa disimpulkan, bahwa para pemimpin gereja bersama institusinya bisa saja menjalankan politik praktis apabila mereka sungguh-sungguh yakin, berdasarkan pengamatan yang cermat dan analisis yang tajam, bahwa negara dan bangsa sedang berada dalam bahaya kalau tidak diambil tindakan-tindakan “drastis”. Secara etika dan moral politik, tindakan-tindakan semacam ini dapat dipertanggungjawabkan.
Bersambung…
Minggu, 26 Agustus 2018
GEREJA DAN NEGARA:
GKI MEMBANGUN NARASI CINTA UNTUK INDONESIA (2)
Salam dalam Kasih Kristus untuk anggota jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor.
Pada hari minggu ini, 26 Agustus 2018, kita merayakan Hari Ulang Tahun Gereja Kristen Indonesia. Tepat 30 tahun yang lalu, di Wisma Kinasih, Caringin – Bogor, terjadi penyatuan 3 Sinode GKI yaitu GKI Sinode Jawa Barat, GKI Sinode Jawa Tengah dan GKI Sinode Jawa Timur. Untuk selanjutnya, ketiga sinode yang menggabungkan diri ini disebut dengan Sinode Wilayah. Kita mengimani bahwa hanya dengan pimpinan Allah Trinitas, perjalanan penyatuan GKI ini dapat menginjakkan kaki di usianya yang ke-30. Lika-liku pergumulan bergereja dengan perbedaan tradisi dan latar belakang untuk berjalan bersama, sehati dan sederap senantiasa diteguhkan oleh perintah Kristus yang memanggil setiap muridNya untuk saling mengasihi, seperti yang dinyatakan dalam Injil Yohanes 15:17 “…Kasihilah seorang akan yang lain”. Perintah kasih inilah yang juga menjadi kekuatan GKI untuk berkiprah nyata bagi pembangunan kehidupan di bumi Indonesia.
Reinhold Niebuhr merumuskan “gereja adalah bagian perintis dari masyarakat yang berproses kepada Allah demi seluruh masyarakat”. Dalam konteks Indonesia, GKI berjuang menjadi perintis masyarakat yang dijabarkan Niebuhr. GKI menghayati panggilannya sebagai gereja yang mewartakan Kerajaan Allah, menyatakan terang Kristus bagi Indonesia. Kiprah nyata GKI bukan hanya bergerak dalam bidang religius, melainkan dalam segala aspek kehidupan yang Tuhan percayakan, melintasi segala tembok pemisah (suku, agama, ras, latar belakang, dll). GKI menyatakan peran bagi bangsa misalkan dalam hal gerakan kebangsaan, pendidikan, kesehatan, penanganan bencana, pembangunan masyarakat. Seolah hendak mewujudkan cita-cita generasi pendahulu yang mencetuskan nama GKI, gereja yang hadir ini adalah gereja yang meng-Indonesia, gereja yang terbuka. Dalam “proses kepada Allah demi seluruh masyarakat” seperti yang dikatakan R. Niebuhr, tentu dasar dan pegangan kokoh bagi GKI adalah kebenaran firman Allah, tetapi di samping itu, kita juga menghormati dan menjunjung nilai-nilai Pancasila sebagai nilai hidup bangsa. Dengan melihat kehidupan kebangsaan kita yang terasa diiring dalam nuansa partikular, maka pada saat ini, GKI berjuang untuk dapat menyuarakan kesatuan di tengah keberagaman bangsa. Sesuatu yang memang sulit tetapi tidak mustahil untuk dilakukan. Dalam skala yang lebih kecil, GKI telah berjuang dan terus mengupayakan kesatuan di tengah keberagaman. Dengan iman yang teguh, kita percaya dalam skala yang lebih luas, yaitu dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam, kesatuan itupun akan dapat terjalin dengan baik.
Menghayati dengan penuh syukur 30 tahun penyatuan GKI, maka marilah kita sebagai GKI baik dalam lingkup jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode, mengerjakan tugas panggilan agar syalom (damai sejahtera/ keselamatan) Allah nyata bagi bangsa ini. Inilah narasi cinta yang hidup untuk Indonesia.
Berderaplah Satu GKI-Berderaplah Satu Indonesia



