Maret 2016

 

ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor

Minggu, 6 Maret 2016

 MEMPERCAYAKAN DIRI

Ada sebuah pengalaman nyata yang mengisahkan demikian: ada seorang yang sudah berbulan-bulan lamanya mengalami penebalan di kulit jempol kaki kirinya. Dia tahu, tapi menganggap hal itu sepele. Sakit sedikit ketika memakai sepatu seringkali diabaikan. Seringkali bagian kulit yang menebal itu begitu gatal dan membangkitkan keinginan untuk menggaruknya, mengangkatnya perlahan-lahan, mengelupasnya sedikit demi sedikit. Ah.. nanti juga sembuh. Tapi kesembuhan itu tak kunjung datang, malah rasa sakit ketika memakai sepatu justru semakin menjadi. Pernah juga, orang itu mengutarakan sakitnya kepada seorang dokter spesialis kulit yang ia kenal, namun kemudian ia menundanya, dengan alasan dalam hati, masih banyak hal yang harus dikerjakan. Sampai, sekitar dua minggu setelah perjumpaan tersebut, akhirnya ia mengayunkan langkahnya mendatangi sang dokter. Pemeriksaan singkat dokter spesialis tersebut menyatakan bagian kulit itu harus diangkat dalam operasi kecil, dan kemudian hasilnya diperiksakan ke bagian patologi anatomi. Yang menarik adalah justru percakapan mereka, yang kira-kiranya demikian: sang dokter meminta pasien tersebut untuk mempertimbangkan mengenai waktu pelaksanaan operasi kecilnya itu, karena sudah tidak ada jalan lain dengan obat ataupun salep. Tapi si pasien mengatakan “sekarang saja, dok”. Dokter tersebut heran dan bertanya tentang kesiapannya. Si pasien menjawab ”saya sudah datang ke sini, saya percaya sama dokter.” Dengan keterampilan dan keahlian sang dokter, yang ia yakini bahwa ia hanyalah sebagai alat Tuhan, akhirnya saat itu juga dilakukan operasi itu. Operasi yang kemudian menyisakan lubang yang cukup dalam (untuk ukuran jempol kaki), mengangkat sakit yang sudah mengganggu berbulan-bulan lamanya, walaupun masih mengharuskan si pasien melakukan bagiannya.

Mencermati kisah di atas, membuat kami kemudian merenungkannya. Betapa untuk mempercayakan diri bukanlah hal yang mudah. Jangankan bicara tentang percaya pada Tuhan, yang oleh mata manusia tidak dapat terlihat, mempercayakan diri kepada manusia karena kebutuhan saja (seperti contoh di atas) terasa sulit dilakukan. Untuk bisa mempercayakan diri dimulai dari sebuah kesadaran bahwa ada yang tidak beres dalam hidupnya, ada yang salah, dan bahwa ia mau tetapi tidak dapat membebaskan dirinya sendiri dari hal tersebut. Orang pada kisah di atas, tahu ada yang tidak beres dengan badannya, dia juga merasa nyeri, tapi ini tidak cukup untuk menghantarnya kepada langkah yang pertama untuk mempercayakan diri. Dia harus sampai kepada keinginan yang mendalam untuk membebaskan diri dari hal yang salah dalam dirinya sekaligus memiliki kesadaran bahwa dirinya tidak mampu terbebas dengan kekuatannya sendiri. Bukankah hal ini yang juga terjadi dalam kehidupan manusia? Menyadari bahwa hidupnya bobrok, tidak dapat lepas dari dosa, kemanapun melangkah selalu saja dosa menjadi bagian yang tidak terpisahkan belum dapat menjadi langkah pertama kehidupan iman. Manusia harusnya memiliki keinginan yang kuat dan mendalam untuk lepas dari dosa. Hal ini yang secara umum dapat disebut menyesal dengan sungguh-sungguh atas kehidupan dalam dosa yang telah dijalaninya selama ini. Dan bersamaan dengan itu, kesadaran bahwa segala daya dan upaya manusia, amalan maupun perbuatan baik, tidak akan pernah bisa menghantarnya pada kelepasan itu.

Langkah berikutnya adalah melihat dan mau melangkah pada pihak yang memiliki kemampuan untuk memberikan pembebasan. Orang tersebut, dia mencari dokter spesialis yang memang berkecimpung dalam bidang tersebut, dia bertanya yang kemudian, walaupun melewati waktu, akhirnya dia mau datang dan menyerahkan dirinya pada segenap kemampuan sang dokter yang ia yakini dapat memberikan penanganan yang terbaik. Begitupun dalam kehidupan manusia. Agar manusia dapat terbebas dari hidup sebagai pesakitan karena dosa yang membelenggu hidupnya, dia membutuhkan Sang Pembebas. Di manakah dapat ia temukan Sang Pembebas itu? Kebenaran Firman Tuhan dalam Lukas 15:10 mengatakan “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Jadi, siapa yang mencari siapa? Yang pertama sebenarnya adalah Allah, Sang Pembebas bagi kehidupan manusia, yang menyatakan karya pembebasanNya dalam Kristus Yesus, Dialah yang mencari manusia yang berdosa. Dia datang, Dia memberikan dan menyatakan diriNya, bahkan dengan setia Dia hadir dalam kehidupan manusia dengan berbagai penyataanNya untuk menggugah manusia datang kepadaNya. Kenapa Dia menunggu manusia tergugah untuk mencariNya? Karena hanya dengan cara yang demikian, manusia dapat memaknai dan menghidupi karya pembebasan Kristus dalam hidupnya. Oleh karena itu, yang berikutnya adalah manusia yang berdosa, mencari dan datang kepada Allah Sang Pembebas. Janji Allah dalam Yeremia 29:13-14a “apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN,”.

Langkah berikutnya untuk mempercayakan diri adalah kesediaan untuk menunjukkan letak dan wujud sakit kepada Sang Pembebas dan bersedia untuk diangkat rasa sakit tersebut. Orang dalam kisah di atas, tanpa ragu, di atas ranjang pasien, mempersilakan dokter untuk melihat, mengamati dan menganalisa sakit yang ada di tubuhnya. Bersediakah kita, menunjukkan borok-borok dosa dalam hidup kepada Tuhan Yesus, Sang Pembebas kita? Tidak ada satupun borok dosa yang ditutupi, karena kita rindu pengampunan dan pemulihan dari Tuhan terjadi sempurna dalam kehidupan kita. Saatnya melepaskan semua topeng-topeng kesalehan, harga diri dan kesombongan manusiawi untuk benar-benar menyerahkan diri dan berkata “ini aku, Tuhan, ini keberadaan hidupku, secara jujur di hadapanMu.” Lagi-lagi, ini bukan hal yang mudah. Berjuang melawan ego dan superioritas, untuk menunjukkan kelemahan, ketiadaberdayaan, kesalahan yang patut dikoreksi, keburukkan. Bersediakah kita, pisau bedah Kristus dengan tajamnya, tanpa menyisakan sedikitpun, mengangkat dosa kita sampai ke akar-akarnya? Pisau bedah itu tajam, menusuk, dan membongkar kehidupan kita.

Apakah dengan begitu, semuanya telah selesai? Ternyata tidak. Kenapa? Bukankah proses operasi, mengangkat penyebab sakit telah dilakukan dan berhasil dengan baik? Betul, operasinya sudah selesai tapi hasil operasinya menimbulkan luka yang harus diobati, ditutup agar tidak infeksi dan tercemar oleh hal-hal lainnya, dan dipulihkan. Dengan demikian, langkah selanjutnya mempercayakan diri adalah senantiasa bersedia untuk memberikan perawatan yang terbaik pada hidup yang telah mengalami pengampunan karena karya Kristus yang mengangkat semua dosanya. Perawatan itu adalah dengan kesetiaan dan ketekunan dalam belajar dan mendalami firman Tuhan, untuk menutupi dengan rapat setiap celah yang ditinggalkan oleh dosa agar jangan si jahat masuk dan merusakkan diri kita yang sedang dipulihkan dalam kuasa Allah. Dalam kasus luka luar seperti ini, tidak jarang orang yang kemudian harus mengalami infeksi hanya karena tidak mau berproses dalam merawat, dan karenanya kembali mengalami nyeri akibat pembersihan yang dilakukan sang ahli.

Berproses dan terus berproses untuk mengalami pemulihan yang sempurna. Maka, mempercayakan diri berarti dalam segala keadaan, mau bersikap waspada, menjaga diri dan selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan sampai akhir yang Tuhan tetapkan bagi setiap kita. Tidak terlena hanya karena sudah tidak sakit, sembuh dan pulih. Untuk itu, Tuhan memberikan hikmat dalam kehidupan manusia agar manusia dapat cermat di setiap langkahnya. Tentu penggunaan hikmat ini harus dilatih, yaitu dengan cara selalu siap dan bersedia ditegur serta dibentuk dan dibaharui oleh kebenaran firman Tuhan; penerapan yang nyata dari firman Tuhan dalam setiap pergumulan, tantangan, kesulitan yang dihadapi.

pakah kita siap mengambil keputusan untuk mempercayakan diri dan kehidupan kepada Sang Pembebas yaitu Tuhan Yesus Kristus? Apakah kita siap untuk terus berproses dalam karya yang dinyatakan Sang Pembebas bagi kita sampai akhir kehidupan yang dipercayakan pada kita?


Minggu, 13 Maret 2016

TERTIB dan TERATUR

Semerawut, apalagi dengan angkotnya. Kata itu terdengar dari kebanyakan orang luar kota yang berkunjung ke Bogor. Bagi kita yang hidup di Bogor, mungkin kita akan penuh permakluman terhadap situasi ini karena sudah menjadi bagian keseharian (walaupun seringkali juga menjadi emosi). Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa ketidakteraturan dalam satu segi bisa berimbas dan menjadi indikasi hal serupa dalam segi-segi lainnya. Dari manakah asalnya ketidakteraturan ini? Kalau dipertanyakan pada orang yang sudah lama tinggal di Bogor, maka akan terdengar cerita kesejukan kota, kondisi jalan yang tidak terlalu ramai, dsb. Lalu kemudian, orang dengan gampang membuat asumsi bahwa perkembangan zaman dan populasi, migrasi dan tingkat pertumbuhan kota membuat segalanya menjadi seperti sekarang ini. Namun, apakah benar bahwa ketidakteraturan adalah akibat perkembangan? Amsal 4:23 mengatakan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Dengan berdasarkan pada firman ini maka, pancaran ketidakteraturan dalam kehidupan justru berasal dari hati yang tidak dijaga secara waspada. Sehingga ketika terjadi perkembangan zaman, perubahan situasi kehidupan maka pribadi tersebut tidak siap dan akhirnya terseret arus. Mari kita mencoba membayangkan, apakah sebuah benda ketika terhanyut/terseret arus air dapat memiliki pola/jalur yang teratur? Tentu tidak, benda itu akan terombang-ambing, tidak ada kekuatan untuk melawan.

Kata ‘hati’ yang dipakai dalam Amsal 4:23 tersebut, dalam bahasa populer seringkali digunakan kata ‘kondisi mental’. Inilah juga yang kemudian menjadi keprihatinan dan kepedulian pemerintah di era sekarang sehingga mengusung tema ‘revolusi mental’. Dengan ketidakteraturan di berbagai segi kehidupan, gambaran mental seperti apakah yang sedang disajikan? Jangan-jangan, sebagai sebuah bangsa, fisik kita sudah merdeka tetapi mental kita belum. Mental sebagai bangsa terjajah, bangsa yang diperbudak bangsa lain seolah masih membelenggu erat dalam denyut kehidupan. Saya pernah mendapati sebuat pernyataan demikian, “kita masih belum sepenuhnya merdeka, malahan kita dijajah oleh bangsa sendiri.” Ini pernyataan yang menyedihkan bahwa ada orang yang dalam pola pikirnya masih terkuasai oleh penjajahan. Memang untuk melakukan perubahan mental tidaklah mudah, membutuhkan proses, waktu dan tentunya kesediaan berubah. Bukankah ini juga yang telah dibukakan di hadapan kita oleh kebenaran firman Tuhan melalui kisah Keluaran? Bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan Mesir, dari bangsa budak selama ratusan tahun, menjadi bangsa yang merdeka. Fisik mereka memang sudah merdeka, tidak ada orang lain/bangsa lain yang dengan seenaknya mengatur dan menindas mereka tetapi ternyata mental mereka belum berubah. Mental budak masih mewarnai kehidupan bangsa Israel yang telah merdeka. Pola pikir mereka dibatasi pada perlakuan-perlakuan maupun sikap kehidupan Mesir sebagai bangsa yang menjajah mereka, sehingga dengan spontan itupun menjadi gaya mereka dalam menyikapi kemerdekaannya. Kita bisa melihat dalam kisah anak lembu emas ataupun sungut-sungut karena tidak ada makanan, ketakutan melihat orang-orang Kanaan walaupun Tuhan sudah berjanji dan ketidaknyamanan berjuang sebagai bangsa merdeka. Hal ini membuahkan ketidakteraturan, perlawanan-perlawanan, bahkan Miryam dan Harun pun pernah jatuh di dalamnya.

Tuhanpun tidak membiarkan kondisi umat yang demikian (bdk. Pernyataan Paulus dalam 1 Kor 14:33 “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera”). Ia memerdekakan bangsa Israel bukan untuk membuat mereka menjadi kacau. Kesaksian Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh dengan keteraturan. Segala sesuatu dirancangNya dengan baik, melampaui masa dan waktu untuk mendatangkan kebaikan bagi umatNya (bdk. Roma 8:28). Masa 40 tahun perjalanan bangsa Israel di padang gurun bukan semata-mata masa penantian akan kegenapan yang gemilang di tanah perjanjian. Masa 40 tahun adalah masa perjuangan Tuhan untuk mengubahkan mental bangsa Israel dalam setiap pribadinya. Ketetapan Tuhan cukup berat yaitu tidak memperbolehkan setiap orang berusia dua puluh tahun ke atas yang keluar dari Mesir memasuki tanah Kanaan kecuali Kaleb dan Yosua (Bdk. Bil 14:28-33). Masa 40 tahun dipakai Tuhan untuk mengajar anak-anak bangsa Israel arti menjadi bangsa merdeka dalam kesetiaan kepada Tuhan, Sang Empunya Hidup.

Merdeka bukan berarti bebas sekehendak hati. Merdeka bukan berarti berbuat untuk meraup keuntungan dan kesenangan pribadi. Mental manusia (sebagai bagian dari bangsa) merdeka selayaknya diisi dengan rasa tanggung jawab. Tanggung jawab bukan saja sebagai pribadi, namun juga sebagai bagian dari komunitas. Dengan kualitas itulah, kehidupan bersama sebagai bangsa yang merdeka dapat bergerak maju. Di dalam konteks bangsa Israel, landasan hidup merdeka ada dalam pimpinan dan firman Tuhan. Hal inilah yang seharusnya terjadi dalam kehidupan setiap pribadi yang telah dimerdekakan dari dosa oleh pengurbanan Kristus Yesus.  Tidak terjebak pada euforia ‘saya punya jaminan selamat’ atau ‘saya yakin dosa-dosa saya diampuni’ tetapi justru melihat hamparan perjalanan di depan sebagai suatu medan perjuangan pribadinya bersama dengan Tuhan. Berjuang agar mentalitasnya berubah, dari budak kegelapan menjadi anak-anak terang dengan terus berpegang dan hidup dalam pimpinan kebenaran Tuhan. Dan tentu saja, perjuangan ini membuahkan hasil nyata yang bisa dilihat yaitu hidup yang tertib dan teratur, walau di tengah himpitan persoalan, tidak berjalan semaunya sendiri atau menurut kebenarannya sendiri.

Nah, kembali pada berbagai kesemerawutan yang terjadi di kehidupan bangsa ini. Lantas siapa yang harus melakukan perubahan mental? Pemerintah dengan program-programnya? Politisi dengan slogan-slogannya? Supir angkot dan timernya? Ya.. Yang jelas manusianya. Dan didahului dengan pribadi manusia Indonesia yang memiliki mentalitas kemerdekaan dalam Kristus Yesus dan senantiasa sedia berproses dalam hidup yang lebih tertib dan teratur baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan dan sosial kemasyarakatan. Tuhan Yesus Kristus, Sang Pembebas akan memampukan kita.


Minggu, 20 Maret 2016

DIPILIH OLEH TUHAN

Bapak/Ibu/Saudara baik anggota jemaat maupun simpatisan yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, pada ibadah kedua minggu ini akan dilayankan peneguhan bagi para penatua baru periode pelayanan 2016-2019. Di lingkungan Gereja Kristen Indonesia, penatua adalah pejabat gerejawi yang bersama-sama dengan Pendeta menjalankan kepemimpinan. Hal ini ditunjukkan dengan sistem bergereja yang kolektif-kolegial. Kedudukan penatua dan pendeta dalam memimpin adalah setara. Pendeta tidak lebih tinggi dari penatua, begitupun sebaliknya. Para penatua dipanggil untuk melaksanakan pelayanan kepemimpinan dalam kerangka pembangunan gereja secara sukarela untuk mewujudkan visi dan melaksanakan misi dalam konteks masyarakat, bangsa dan negara. Harus disadari bahwa pemanggilan penatua ini pada hakikatnya adalah dari Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, dilaksanakan oleh gereja melalui prosedur gerejawi yang tentu saja di dalamnya senantiasa dilandaskan dan diawali dengan memohon hikmat serta pimpinan Tuhan. Sebagai anggota jemaat GKI Jl. Pengadilan no. 35 Bogor, kita semua diundang terlibat dalam prosedur gerejawi ini, yaitu ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan nama-nama bakal calon penatua secara tertulis. Sadarkah kita, bahwa justru di dalam proses awal ini, Tuhan Yesus memanggil setiap anggota jemaat untuk memberi perhatian dan terlibat bagi pembangunan kepemimpinan dalam jemaat. Dalih yang sering terdengar di proses ini adalah kami tidak tahu harus menyampaikan nama siapa, dan tokh nantinya juga akan dibicarakan lagi di PMJ. PMJ adalah proses gerejawi yang berikutnya di mana Majelis Jemaat selaku pimpinan menggumuli dalam doa dan mempertimbangkan dengan masak dan mencari kehendak Tuhan akan bakal calon penatua tersebut. Siapa dan bagaimana orang-orangnya, Majelis Jemaat juga menyerahkan dalam pimpinan Tuhan melalui proses perlawatan, pergumulan yang bersangkutan dan juga pergumulan kembali bersama dengan anggota jemaat ketika nama-nama dan alamat calon diwartakan. Satu hal yang menjadi keyakinan kami bahwa Tuhan memiliki rencana atas gerejaNya, Tuhan juga yang memanggil orang-orang dan mempercayakan kepada mereka kesempatan demi kesempatan untuk tunduk pada Tuhan, mencari kehendakNya dan melakukan pelayanan untuk kemuliaan namaNya.

Dengan keyakinan tersebut, maka para penatua yang akan diteguhkan saat ini, bukan karena hasil prediksi manusia atau karena banyaknya dukungan anggota jemaat lainnya terhadap calon tersebut atau proses lobby yang hebat sehingga mereka mau menerima tugas pelayanan ini. Ini semua semata karena keberadaan kita sebagai alat di tangan Tuhan, sedia untuk taat dan mendengar panggilan dan pimpinan Tuhan. Hal ini mengingatkan pada kisah di mana Tuhan mengutus Samuel untuk mengurapi raja yang akan menggantikan Saul sebagai Raja atas Israel. Tanpa petunjuk yang jelas (nama atau ciri-ciri fisik), Tuhan mengutus Samuel pergi ke Betlehem untuk mengurapi salah seorang anak Isai. Tuhan hanya menyebutkan “Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.” Tapi, anak Isai yang mana? Tuhan belum menyebutkannya. Apakah dengan demikian kita dapat menyebutkan bahwa perintah Tuhan itu tidak jelas? Tidak. Perintah Tuhan sudah jelas, bahwa ada hal-hal yang belum dibukakan pada saat itu bagi Samuel, memang adalah hak kewenangan Tuhan. Menuntut dan memaksa Tuhan memberitahukan lebih dulu adalah hal percuma, karena Tuhan sudah menetapkan, nanti (ada waktu Tuhan) akan disebutkan. Justru di sinilah arti sebagai hamba Tuhan dipertaruhkan. Ketaatan Samuel untuk mengarahkan hidupnya pada pimpinan dan kehendak Tuhan, kesediaan untuk mengimani Tuhan punya rencana, mengatasi segala kemampuan manusia untuk mempersiapkan, memprediksikan untuk melakukan sesuatu.

Bahkan ketika sampai di Betlehem, ketika anak-anak Isai mulai diperhadapkan kepada Samuel, saat saat itupun, Tuhan belum menyatakan pilihanNya. Sebagai manusia, tentunya ada di dalam hati Samuel kebingungan. Dalam situasi demikian, seringkali manusia secara spontan memilih rasio daripada iman. Rasio atau logika dianggap sebagai hal yang lebih meyakinkan pada situasi yang tidak menentu. Apalagi ketika suara Tuhan yang dinantikan untuk memberikan suatu kepastian tidak kunjung terdengar. Apa yang diperdengarkan oleh rasio manusia? Hal-hal yang dapat diamati, dapat dirasakan dan dapat dinilai secara langsung. Setidaknya, melalui ciri-ciri yang kelihatan, bisa menjadi pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan pada situasi dan kondisi tersebut. Lalu, jika situasi dan kondisinya berubah bagaimana? Jawaban yang paling mudah (tetapi kurang bertanggung jawab) adalah “ya, bagaimana nanti saja.” Samuel pun sempat tergoda untuk memutuskan pilihan Tuhan pada waktu melihat perawakan/paras dari Eliab. Inilah ujian seorang hamba, di titik kritis, masihkah pendengarannya cukup tajam bagi suara Tuhan ataukah telah tertutup dengan penilaian dan pertimbangannya sendiri? Dalam 1 Samuel 16:7b firman Tuhan mengatakan demikian “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Tuhan melihat melampaui penglihatan manusia, Tuhan menilai melampaui penilaian dan rasio manusia. Tuhan memilih Daud, yang paling muda di antara saudara-saudaranya, yang mungkin bagi sebagian orang menimbulkan pertanyaan “apakah mampu?”. Inilah kesempatan yang Tuhan percayakan. Bukan karena Daud sudah hebat, tetapi karena hatinya terarah kepada Tuhan. Tuhan membentuk Daud, mempersiapkan kepemimpinannya melalui berbagai tantangan dan persoalan, memberikan hikmat dalam pelaksanaan tugasnya sebagai raja bahkan ketika Daud melakukan kesalahan, teguran dan peringatan dinyatakan Tuhan kepadanya. Dan sungguh teruji bahwa hati Daud terarah pada kehendak Tuhan.

Bagi para penatua yang baru diteguhkan, hayatilah bahwa Tuhan memilih Saudara dan memberikan kepercayaanNya kepada Saudara baik individu maupun bersama-sama untuk mengelola dan memimpin jemaat. Tuhan tidak pernah melepaskan pimpinan dan pertolonganNya bagi Saudara. Dia membentuk Saudara melalui tantangan dan persoalan, bersedialah untuk terus belajar mengenal kehendakNya dan menjadi saksiNya. Bagi para penatua yang akan mengakhiri masa pelayanan sebagai penatua, terima kasih untuk kebersamaan pelayanan selama ini. Jabatan memang ada akhirnya tetapi melayani Tuhan Yesus Kristus merupakan nafas kehidupan kita, kini dan nanti, selamanya. Tetaplah melayani dalam setiap perkara kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada Saudara. Dan bagi seluruh anggota jemaat, pelayanan di gereja ini bukan hanya milik sekelompok atau sebagian orang saja. Jangan merasa minder atau tidak mampu. Saudara ada di sini bukan karena kebetulan, maka mari bersama kita membangun jemaat ini dan mempersembahkannya bagi kemuliaan nama Tuhan.


Minggu, 27 Maret 2016

MENGHIDUPI KEBANGKITANNYA

“Biar papa/mama saja yang sakit, kamu jangan sakit, Nak”. Apakah kalimat tadi pernah kita dengar atau bahkan kita ucapkan dari orang tua yang melihat anaknya yang sedang sakit? Tentu saja, pengucapan kalimat tersebut dilakukan dengan penekanan kepiluan bahkan isak tangis karena tidak tega melihat anaknya dalam penderitaan. Reaksi kita terhadap pernyataan tersebut bergantung status/posisi kita. Ketika masih berstatus anak, mendengar ucapan tersebut, apalagi di saat kondisi badan sungguh tidak mengenakkan, jujur saja, ucapan itu kurang bermanfaat, atau dalam bahasa anak sekarang lebay (berlebihan). Mengapa? Karena ucapan itu tidak akan mungkin terjadi dan tidak mengurangi atau menghilangkan rasa sakit yang sedang dialami. Bahkan bisa jadi menimbulkan beban dalam hati si anak karena melihat orang tuanya menjadi susah, sedih/menangis karena dirinya, seolah penderitaannya mengakibatkan orang tuanya menjadi menderita. Namun, setelah menjadi orang tua dan mengalami anak yang sakit, dengan segala keterbatasannya untuk mengungkapkan bagian mana yang sakit, apa yang dirasakan, dsb, ucapan tersebut menjadi begitu berbeda. Ya, dengan sudut pandang sebagai orang tua, ucapan ini bahkan bisa menjadi sebuah doa yang terus menerus dipanjatkan ketika harus memeluk dan mencoba memberikan sedikit kenyamanan pada anak yang sedang sakit. “Jika sekiranya Tuhan bisa memindahkan rasa sakit si buah hati, biarlah saya/kami yang tanggung, lebih dari ini pun tidak apa, asal jangan dia yang sakit, lebih baik saya/kami yang menderita.” Dan memang sebagai orang tua, kita menjadi lebih menderita karena kita tahu kita tidak bisa menggantikan sakit buah hati kita.

Allah menyatakan firmanNya kepada Daud dalam 2 Samuel 7:14 dengan jelas bahwa Ia memposisikan diriNya sebagai Bapa bagi keturunan Daud. Bapa yang akan mendidik sekaligus juga memberikan kasih setia untuk selama-lamanya. Dengan klaim ini (Allah sebagai Bapa), maka apa yang ada dalam hati Bapa jika melihat anak-anak (manusia) yang Ia kasihi, menjadi pesakitan karena dosa? Sama seperti kita, pilu rasanya. Tentu, Ia tidak mau membiarkan anak-anakNya dalam kondisi seperti itu; dan Ia tidak sama seperti kita sebagai manusia, yang tidak bisa menggantikan sakit anak kita. Di dalam kemahakuasaanNya, Allah hadir di antara manusia dengan kehadiran Yesus Kristus. Yesus yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, mengambil sakit manusia karena dosa, maut upah dosa, ditanggungnya seorang diri. Karena hanya di dalam Dialah, manusia dapat terbebas dari dosa. Dia yang sempurna dan tidak mengenal dosa dapat memulihkan dan mengubah manusia. Yesaya 53:4-5 “tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Dengan pengurbanan dan kematianNya di kayu salib, Ia nyatakan diriNya yang mengambil semua dosa manusia.  Hidup lama telah diselesaikan di Kalvari, hidup yang tidak mampu bangkit dari dosa, terkungkung dan menderita tanpa jalan keluar. Dan dengan kebangkitanNya, jaminan dan kepastian bagi manusia untuk memperoleh hidup baru yang diperbaharui. Memang dalam hidup baru tidak serta merta semuanya berlangsung mulus. Dalam hidup baru, ada tantangan, ada persoalan tapi kita memiliki cara pandang serta kekuatan yang baru. Ketika masih dalam dosa, seolah kita tidak punya kekuatan untuk melawan. Tetapi di dalam Kristus semuanya menjadi berbeda, Ia melayakkan kita dan berkenan atas kehidupan kita. Kesaksian Pemazmur dalam Mazmur 37:23-24 mengatakan demikian “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya, apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Kristus menopang, menguatkan, memampukan bahkan menuntun kita untuk tetap berjalan.

Rangkaian karya Kristus ini, dalam penderitaan, pengurbanan, kematian sampai dengan kebangkitan Kristus bukan persoalan kesaksian masa lampau atau pengetahuan atau teori mengenai kepercayaan. Lebih dari sekedar semuanya itu. Sudahkah kita merasakannya secara nyata dalam kehidupan kita setiap saat? Bahwa dalam keberadaan kita sebagai manusia yang memiliki berbagai keterbatasan, kita tidak lagi hidup dalam kelemahan dan kesakitan karena dosa. kita dimampukan untuk berjuang melawan goda dosa bahkan di saat-saat secara manusia, kita merasa tidak berdaya, selalu mengalir kekuatan yang baru, semangat dan pengharapan. Inilah bukti bahwa dalam Kristus ada kehidupan dan bukan kematian. Ada jalan keluar dan bukannya jalan buntu. Ada masa depan yang Ia sediakan dalam hidup orang-orang yang mau menundukkan diri dan mengelola setiap perkara kehidupannya dalam takut akan Tuhan, kehati-hatian dan tanggung jawab serta pemaknaan yang sungguh akan berkat dan anugerah yang disediakan Tuhan baginya. Mari kita nyatakan pada dunia kesaksian hidup kita yang telah dipulihkan dan terus menerus diperbaharui dalam kebangkitan Kristus. Bangkitlah setiap hari bersama Kristus. Selamat Paskah. Tuhan Yesus memberkati.