Januari 2016

Minggu, 3 Januari 2016
IMAJINASI
Anggota jemaat GKI Pengadilan Bogor dan para simpatisan yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, salam sejahtera bagi Anda semua. Kami berharap Anda semua berada dalam naungan damai sejahtera Kristus bukan hanya pada hari Minggu pertama, 3 Januari 2016 ini saja tetapi dalam sepanjang tahun 2016 ini.
Sebelum berlanjut kami menyapa Anda, perkenankanlah kami, forum pendeta GKI Pengadilan, Bogor, untuk sekali lagi mengucapkan : Selamat Hari Natal dan Selamat Tahun Baru 2016. Kami pun mengucapkan banyak terima kasih untuk perhatian yang sudah Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudara/saudari berikan kepada kami baik melalui jabat tangan langsung, pemberian ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru 2016 melalui kartu atau kiriman pesan singkat gadget, maupun pemberian bingkisan kasih kepada kami semua. Kiranya Tuhan Yesus sendiri yang akan selalu memberkati Anda semua.
Tanpa terasa hari ini, kita sudah memasuki hari yang ketiga dalam tahun 2016 ini. Kita bersyukur karena Tuhan Allah dalam Yesus Kristus telah menyertai perjalanan kita dalam sepanjang tahun 2015 yang lalu. Tentu suka dan duka, berhasil dan gagal, sehat dan sakit telah menjadi bagian dari kehidupan kita dalam sepanjang tahun 2015 yang lalu. Tapi kita bersyukur karena akhirnya kita telah dapat melewati liku-liku kehidupan dalam sepanjang tahun yang lalu. Sekarang kita telah tiba dengan selamat pada tahun baru 2016 ini.
Kita belum tahu bagaimana “rimba”nya tahun 2016 ini. Namun kita percaya bahwa Tuhan Allah dalam Yesus Kristus akan tetap menyertai perjalanan kita dalam sepanjang tahun 2016 ini. Karena itu, marilah kita semakin meningkatkan ketaatan kita kepada Tuhan Allah dalam Yesus Kristus agar apapun yang akan kita hadapi dalam sepanjang tahun 2016 ini, kita diberikan kesabaran, ketabahan, kekuatan iman dan pengharapan.
Namun kita sebagai orang Kristen tidak boleh menyerah kepada keadaan walaupun kita juga harus berserah kepada Dia yang tidak pernah meninggalkan kita. Karena itu, di awal tahun baru 2016 ini kami ingin mengajak Anda semua untuk memiliki semangat “berimajinasi”.
Zhuge Liang (ahli strategi perang termasyur bangsa Tiongkok) pernah menulis surat kepada anaknya. Isi surat yang ditulis 1800 tahun yang lalu itu sarat dengan kebijakan yang tak lekang oleh waktu dan perubahan, yaitu berisi 10 kekuatan manusia. Dari 10 kekuatan manusia itu diantaranya adalah kekuatan membuat perencanaan, kekuatan kecepatan, kekuatan karakter, dan kekuatan imajinasi. Berkaitan dengan kekuatan membuat perencanaan, Zhuge Liang menegaskan tentang pentingnya merencanakan hidup. Fail to plan means plan to fail (gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal). Dengan melakukan perencanaan yang baik, maka kita akan dapat menempatkan prioritas dengan baik pula. Tetapi sebaliknya, tanpa perencanaan yang baik akan selalu membuat kita gagal menyelesaikan apapun yang kita kerjakan.
Tentang kekuatan kecepatan, Zhuge Liang menasihati anaknya agar tidak menunda-nunda pekerjaan karena penundaan artinya menghambat usaha kita untuk mencapai visi dan misi secepat mungkin. Ia menandaskan agar kita menjalankan segala sesuatu dengan efektif dan efisien waktu. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk mengatur waktu. Jika perlu, satu hal dilakukan bersama-sama dalam tim agar lebih cepat terselesaikan. Alone we can do so little, together we can do so much (sendiri kita menyelesaikan sedikit pekerjaan, bersama kita kerjakan sangat banyak pekerjaan),kata Helen Keller.
Zhuge Liang menasihati anaknya agar membiasakan diri tidak bersikap tergesa-gesa, sebab segala sesuatu memerlukan proses. Kehati-hatian dalam bersikap dapat membentuk sebuah karakter yang utuh. Dalam pepatah bangsa Tionghoa dikatakan, “diperlukan sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah watak yang utuh.
Zhege Liang juga memberikan nasihat supaya kita berpikir jauh ke depan, agar kita tidak tertinggal oleh jaman yang terus berkembang. Imajinasi itu katanya lebih kuat dari pengetahuan. Hal ini juga pernah dikatakan oleh Albert Einstein, “imagination is everything. It is the preview of life’s coming attractions” (imajinasi adalah segalanya. Imajinasi adalah penarik realitas yang akan datang).
Dengan semangat “berimajinasi”, maka kita akan mampu untuk membuat perencanaan yang baik dalam tahun 2016 ini. Imajinasi memungkinkan kepada kita semua untuk melayangkan segenap diri kita ke masa depan. Rasul Paulus mengatakan, “..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3: 13b-14). Selamat “berimajinasi”.
Minggu, 10 Januari 2016
ANGKA NOL
Salam Sejahtera dalam Kristus Yesus Tuhan kita bagi Anda semua baik anggota jemaat maupun simpatisan GKI Pengadilan, Bogor, kiranya damai sejahtera Kristus selalu menaungi kita semua dalam kita melakukan “perjalanan” dalam sepanjang tahun 2016 ini. Kami berharap kita semua tetap memiliki kesabaran, ketekunan, dan keteguhan iman ketika dalam “perjalanan” ini kita mengalami “onak dan duri”.
Kali ini kami ingin menyapa Anda semua dengan angka nol. Siapakah di antara kita suka dengan angka nol? Ketika kita masih sekolah, kami sungguh yakin bahwa kita semua menghindari angka nol ini. Sebab kalau kita mendapat nilai angka nol dalam satu bidang studi atau mata kuliah tertentu kita akan dianggap bodoh dan kurang serius dalam belajar. Begitu pun ketika kita memulai sesuatu dari “angka nol” sungguh melelahkan dan tidak sabar untuk segera beranjak ke “angka” yang lebih tinggi. Tapi angka nol ini sangat diperlukan. Kalau angka 10 tidak ada angka nol nya, maka hanya menjadi angka 1. Kalau angka 1000 angka nol nya kurang 1, maka ia hanya 100. Lagipula ketika kita sekolah mengawalinya dengan masuk kelas 0 kecil lalu 0 besar (sekarang mungkin namanya Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak).
Angka nol mengajak kita untuk mengerjakan apapun yang berorientasi pada proses dan tidak hanya sekedar mengejar hasil. Memang berorientasi pada proses adalah pekerjaan yang sungguh melelahkan dan memerlukan kesabaran. Coba kita ingat ketika sekolah, kita mengawalinya dengan masuk kelas 0 kecil lalu beranjak sampai masuk perguruan tinggi dan menjadi seorang sarjana. Berapa lama waktu yang sudah kita habiskan untuk proses ini? Mungkin antara 18 – 20 tahun. Sungguh waktu yang lama bukan? Tapi itulah proses. Ia tidak bisa instan.
Konon, di Amerika Serikat pada sebuah perusahan makanan siap saji (sudah lama merambah juga ke kota-kota besar di Indonesia tapi tahun yang lalu baru masuk ke negara Myanmar) semua pegawai harus melewati “angka nol” ini. Yang dimaksud “angka nol” dalam hal ini adalah mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh cleaning service, seperti mengelap meja dan kursi, mengepel lantai, membersihkan toilet, dsb. Orang yang ingin melamar menjadi manajer SDM harus melewati “angka nol” ini. Begitu pun orang yang ingin melamar menjadi manajer keuangan pun harus melewati “angka nol” ini. Karena itu, di perusahan ini tidak pandang apakah calon pegawai itu hanya lulusan sekolah menengah atau lulusan perguruan tinggi harus melewati “angka nol” ini. Filosofi dari perusahan makanan siap saji ini di negara asalnya adalah “angka nol” itu penting, dan sepandai-pandainya seseorang kalau ia mengabaikan “angka nol”, maka ia tidak berguna.
Dalam realitas kehidupan kita tidak sedikit orang yang suka mengabaikan angka nol ini. Misalnya, ingin menjadi sarjana tinggal membeli ijazah dan tidak perlu mengikuti proses perkuliahan yang berlangsung minimal 8 semester itu. Kalau ingin mendapatkan pekerjaan yang enak, maka kita mencari koneksi dan bahkan menyogok pun dilakoni. Kalau kita ingin cepat menjadi orang kaya, bukan kerja keras yang dilakukan tapi melalui jalan pintas yaitu manipulasi dan korupsi. Tentu saja hal-hal tersebut tidaklah etis untuk kita lakukan sebagai orang yang beragama.
Angka nol identik dengan kosong. Bukan siapa-siapa dan juga bukan apa-apa. Sebab itu, seorang teolog Jepang yang bernama Masao Abe dalam kerangka mengembangkan dialog antara umat Kristiani dengan umat Budha mengajukan tesis kosong ini sebagai pintu masuknya. Masao Abe mengatakan bahwa umat Budha sangat familiar dengan konsep Sunyata (kekosongan) dan umat Kristiani mengenal konsep kenosis (kekosongan). Ia menyamakan konsep Sunyata yang dialami oleh Sidharta Gautama dengan konsep kenosis yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Namun tesis Masao Abe ini disanggah oleh seorang teolog Barat yang bernama Eric Hall. Eric Hall berpendapat adalah keliru jika Masao Abe menyamakan begitu saja konsep Sunyata dengan konsep kenosis. Konsep Sunyata yang artinya kekosongan itu diraih oleh Sidharta Gautama ini dalam perjalanan hidupnya yang menuju “ke atas”, mengalami pencerahan untuk menuju Nibbana/Nirwana. Sedangkan konsep kenosis dilakukan oleh Yesus dalam perjalanan-Nya menuju “ke bawah”. Seperti yang digambarkan dalam Filipi 2:6-8, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia; dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Adalah benar apa yang dikatakan oleh Eric Hall, bahwa konsep kenosis (kekosongan) yang dilakukan oleh Yesus dalam perjalanan-Nya menuju “ke bawah”. Allah menjadi manusia, dan bahkan menjadi seorang hamba. Hamba adalah sebuah status yang sangat rendah. Seorang hamba itu tidak memiliki kebebasan. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa kosong itu bukan berarti tidak ada. Kosong atau angka nol itu ada dan bermakna. Paling tidak kosong atau angka nol itu bermakna bagi kita untuk tidak mengabaikan proses dalam kehidupan ini, dan juga mengajarkan kepada kita bahwa dalam proses itu kita mesti memiliki kerendahan hati.
Demikianlah sapaan kami dengan angka nol pada hari ini.
Minggu, 17 Januari 2016
KHOTBAH
Salam Sejahtera dalam Kristus Yesus Tuhan kita bagi Anda semua, baik anggota jemaat maupun simpatisan GKI Pengadilan, Bogor. Kami berharap sakramen Perjamuan Kudus awal tahun yang kita ikuti pada hari Minggu, 10 Januari 2016 yang lalu dapat selalu menjadi “oase” bagi kita semua di dalam menjalankan hari-hari kita yang masih panjang dalam tahun 2016 ini. Apabila dalam perjalanan ini kita bertemu dengan kejutan yang menyakitkan dan menakutkan, pandanglah kepada Kristus Yesus selalu yang telah berkurban dan menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan umat manusia dan dunia ini. Maka Kristus Yesus akan memberikan kepada kita ketabahan, ketekunan, kekuatan iman, dan pengharapan.
Dalam sapaan gembala kali ini kami ingin bertanya kepada Anda semua, baik anggota jemaat maupun simpatisan GKI Pengadilan, Bogor, tentang khotbah-khotbah dalam kebaktian yang Anda semua ikuti di kebaktian yang dilakukan di jemaat kita ini. Kami berharap Anda semua tidak perlu “sungkan” untuk memberikan masukan yang konstruktif agar pemberitaan Firman Tuhan dapat diterima, dihayati, dan dilakukan dengan baik, benar, dan sungguh dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kami menyadari bahwa dalam Tata Ibadah kita khotbah mendapat “porsi” waktu yang lebih lama ketimbang bagian yang lain dari Tata Ibadah tersebut. Padahal sebenarnya khotbah adalah bagian integral dari keseluruhan Tata Ibadah kita. Semua bagian dari Tata Ibadah kita merupakan satu kesatuan yang utuh. Mulai dari Votum sampai dengan berkat. Karena itu, seharusnya setiap bagian dari Tata Ibadah kita saling menopang satu dengan yang lainnya. Semuanya “diorientasikan” pada tema khotbah yang hendak disampaikan pada kebaktian tersebut. Melalui nyanyian kita dapat disapa oleh Firman Tuhan. Melalui doa kita pun dapat disapa oleh Firman Tuhan. Singkatnya, mengingat Tata Ibadah itu merupakan satu kesatuan yang utuh, maka kami menghimbau kepada Anda semua datanglah ke kebaktian paling lambat 5 menit sebelum kebaktian dimulai, syukur-syukur bisa datang lebih awal lagi.
Sejak beberapa tahun terakhir ini tema-tema khotbah dalam lingkungan jemaat-jemaat GKI mengikuti apa yang telah ada dalam buku rancangan khotbah GKI yang namanya Dian Penuntun. Tema khotbahnya tidak hanya didasarkan pada satu bacaan Alkitab saja tetapi dari beberapa bacaan Alkitab. Padahal tiap bagian Alkitab itu memiliki konteks yang berbeda-beda walaupun membahas satu pokok yang sama. Contoh: Maleakhi 3:10 dan II Korintus 9:7 sama-sama membicarakan tentang persembahan tapi konteksnya berbeda satu dengan yang lainnya. Konteks Maleakhi adalah konteks abad ke-5 SM ketika umat Israel baru pulang dari pembuangan di Babilonia. Lalu umat itu sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan melupakan untuk bersumbangsih membangun kembali Bait Allah. Nabi Maleakhi mengatakan kalau umat memberi sedikit saja (yang digambarkan dengan kata persepuluhan), maka berkat Tuhan itu tidak pernah akan berkurang. Sebab ketika itu Bait Allah dipandang sebagai “tempat” kehadiran Allah. Sedangkan konteks II Korintus adalah konteks dari sebuah jemaat yang “berada” yang diminta oleh rasul Paulus untuk menunjukkan kepeduliannya kepada jemaat mula-mula yang ada di Yerusalem yang keadaannya amat memprihatinkan. Tetapi dalam memberi ini rasul Paulus meminta kepada jemaat: ….jangan dengan sedih hati atau paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Jadi sekarang tentu Anda dapat membayangkan betapa sulitnya bagi pelayan Firman untuk merangkaikan bacaan-bacaan Alkitab yang ada dalam buku Dian Penuntun untuk diramu menjadi satu tema khotbah tertentu. Karena itu, tidak sedikit para pelayan Firman yang hanya mengambil satu bacaan Alkitab saja dan melupakan bacaan-bacaan Alkitab yang lain. Tapi ada juga para pelayan Firman yang mengambil serba sedikit berita dari bacaan-bacaan Alkitab itu lalu dirangkaikan begitu saja menjadi satu, pokoknya mengacu kepada tema yang telah ditetapkan.
Menafsirkan ayat Alkitab yang benar seharusnya tidak memaksakan ayat tersebut sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Kalau kenyataan ini yang dilakukan itu namanya kita “memperkosa” ayat-ayat Alkitab tersebut demi kepentingan kita. Dalam hermeneutika (ilmu tafsir) hal tersebut dinamakan “eixegese”. Kita memasukkan pikiran-pikiran kita ke dalam teks Alkitab. Sedangkan yang benar dalam menafsir ayat-ayat Alkitab adalah dengan cara “exegese”. Kita menggali dan mengeluarkan apa yang ada dalam teks dan konteks semula untuk kita terapkan dalam kehidupan sekarang ini.
Khotbah yang disampaikan oleh pelayan Firman dalam kebaktian itu bukan untuk dipuji atau dimaki tetapi untuk didengarkan, direnungkan, dan dilakukan dalam kehidupan kita. Orang yang sekaliber rasul Paulus saja ketika berada di Troas, khotbahnya bisa membuat orang muda mengantuk, tertidur, lalu jatuh. “Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati” (Kis. 20 : 9). Ah, masak sih begitu? Kalau Anda tidak percaya bacalah berita lengkapnya dalam Alkitab. Terima kasih.
Minggu, 24 Januari 2016
KESEHATIAN UNTUK KEHARMONISAN HIDUP
Saudara-saudara anggota jemaat dan para simpatisan GKI Pengadilan yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Salam sejahtera bagi Anda sekalian. Kami berharap damai sejahtera Allah dalam Kristus Yesus tetap melimpah dalam kehidupan Anda sekalian.
Tanpa terasa kita telah berada pada hari Minggu yang ke-4 dalam tahun 2016 ini. Ada banyak goncangan yang terjadi dalam masyarakat kita, baik karena faktor internal maupun eksternal. 2 minggu yang lalu kita telah dikejutkan oleh ledakan bom dan tembakan yang terjadi di jalan MH. Thamrin, Jakarta. Dalam seminggu terakhir ini kita juga dikejutkan oleh perlawanan dari orang-orang yang hendak ditangkap oleh aparat karena obat-obat terlarang. Perokonomian negara kita masih berjalan melambat bahkan cenderung melemah, yang disebabkan oleh karena perekonomian negara Tiongkok yang melambat dan harga minyak yang sempat menyentuh 26 dolar AS untuk kontrak bulan yang akan datang. Padahal pemerintah kita sedang menggerakkan infrastruktur guna mengatasi perekonomian yang melambat ini seperti antara lain membangun kereta api cepat Jakarta – Bandung yang pencanangannya telah dilakukan pada tanggal 21 Januari 2016 yang lalu. Tapi karena semuanya itu memerlukan proses maka segala hal yang dilakukan itu belum membuahkan hasil yang signifikan yaitu mempercepat pertumbuhan ekonomi di negara kita ini.
Dalam menghadapi berbagai gejolak yang terjadi di masyarakat tidak sedikit warga negara Indonesia yang mengalami kecemasan dan ketakutan. Kita cemas dan takut terhadap terulangnya berbagai kejadian di waktu yang lalu yang membuat situasi politik tak menentu dan perekonomian yang melorot. Berbicara tentang kecemasan dan ketakutan maka sebenarnya ia berkaitan dengan hati kita masing-masing. Sebab hati adalah pusat kehidupan. Penulis kitab Amsal banyak berbicara tentang hati ini. Antara lain: hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang (Amsal 14:30); hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat (Amsal 15: 13); hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22). Karena hati adalah pusat kehidupan manusia, maka hati memegangkan peranan yang penting dalam segala hal, bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan diri kita sendiri saja tetapi juga dalam hal hubungan kita dengan orang-orang lain.
Dengan mengingat bahwa hati itu adalah pusat kehidupan dan memegang peranan yang penting, maka rasul Paulus dalam nasihatnya kepada orang-orang Kristen di Filipi mengatakan: karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (Filipi 2:2). Mengapa dalam hidup bersama itu “sehati” menjadi penting? Karena kita tahu bahwa setiap orang mempunyai hati yang berbeda-beda, sehingga kepentingannya pun berbeda pula. Tapi rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang Kristen itu adalah orang-orang yang telah dipersatukan dalam Kristus. “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah meruntuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Efesus 2: 13-14).
Orang-orang Kristen itu adalah orang-orang yang telah di ikat oleh kasih Kristus. Ia menjadi sebuah koinonia (persekutuan). Dalam jemaat yang mula-mula para pengikut Yesus itu selalu bersekutu dan memecahkan roti bersama. Rasul Paulus juga mengatakan, bersukacitalah dengan yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis (Roma !2:15). Untuk dapat semakin meningkatkan koinonia (persekutuan) ini, maka diperlukan untuk selalu sehati. Dengan adanya kesehatian, maka dalam hidup berhati tidak ada iri hati. Dengan kesehatian, kita dapat mengusir kecemburuan dari kehidupan ini. Dengan kesehatian, maka dalam hidup bersama kita dapat menghancur-luluhkan perpecahan dan permusuhan. Dengan kesehatian, kita dapat memiliki sikap saling menerima dan saling menghormati. Dengan kesehatian, kita dapat saling bekerja sama satu dengan yang lainnya. Dengan kesehatian, kita akan mampu untuk mengerjakan hal-hal yang “menakjubkan” bagi sesama kita dan lingkungan kita.
Kesehatian adalah sangat penting dalam hidup bersama selaku jemaat/gereja Tuhan di dunia ini. Dengan kesehatian, walaupun kita masing-masing berbeda latar belakang etnik, budaya, sosial, ekonomi, pendidikan, dsb, kita akan mampu untuk selalu mewujud-nyatakan keharmonisan dalam hidup bersama ini. Harmoni itu adalah paduan yang sangat indah walau dalam kepelbagaian. Harmoni itu laksana pelangi yang sangat indah untuk dilihat dan dinikmati. Harmoni itu mendatangkan ketentraman dan ketenangan. Karena itu, kami ingin mengajak Anda semua, mari kita hidup dalam kesehatian demi terwujudnya keharmonisan dalam hidup kita sebagai satu jemaat Tuhan.
Minggu, 31 Januari 2016
½ ISI ½ KOSONG
Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Saudara sekalian yang dikasihi oleh TuhanYesus Kristus, baik anggota jemaat maupun para simpatisan GKI Pengadilan, salam sejahtera bagi Anda semuanya. Tanpa terasa hari ini, Minggu, 31 Januari 2016, kita sudah berada pada hari terakhir pada bulan pertama tahun 2016 ini. Kami berharap Anda semua tetap berada dalam lindungan kasih setia Tuhan kita Yesus Kristus, sehingga kita semua dapat terus dimampukan untuk melanjutkan perjalanan kita yang masih panjang dalam tahun 2016 ini.
Dalam sapaan gembala hari ini kami ingin mengajak kita semua untuk memiliki cara pandang yang baik dan benar selaku umat Kristiani. Sebab cara pandang ini akan berpengaruh dalam seluruh kehidupan yang kita jalankan. Berkenaan dengan cara pandang ini kami juga ingin mengajak kita semua untuk membayangkan bahwa di hadapan kita ada seseorang mengacungkan tangan kanannya yang memegang sebuah gelas yang berisi air tapi gelas itu isinya hanya setengah. Kemudian orang tersebut bertanya kepada kita semua, apa yang Anda lihat dari gelas di tangan saya ini? Mungkin ada di antara kita yang segera mengatakan bahwa gelas tersebut ada isinya tapi hanya setengah. Tapi mungkin ada di antara kita yang mengatakan bahwa gelas tersebut setengahnya kosong. Ya memang itulah cara pandang manusia pada umumnya di dalam melihat dan mengalami suatu kejadian. Yang satu melihatnya dari cara pandang yang positif (gelas itu ada isinya walau hanya setengahnya), sedangkan yang lainnya dari cara pandang yang negatif (gelas itu setengahnya kosong).
Kedua cara pandang ini tidak jarang kita gunakan dalam kerangka memandang teks-teks Alkitab. Padahal seharusnya ketika kita membaca Alkitab kita harus membuang kedua cara pandang tersebut. Biarlah teks-teks Alkitab itu yang “berbicara” kepada kita sebagaimana adanya. Maka untuk itu kita juga perlu mengenali “sitz im leben” (latar belakang dan konteks dari sebuah teks tersebut). Dengan kita mengenali “sitz im leben” nya dari sebuah teks Alkitab, maka kita akan terhindar untuk melakukan “eisegese” (memasukkan pikiran-pikiran kita ke dalam sebuah teks), dan kita akan dituntun untuk melakukan “exegese” (menggali sedalam mungkin apa yang dikatakan oleh sebuah teks Alkitab). Contohnya seperti apa sih, “eisegese” dan “exegese” itu? Mari kita baca Yohanes 21: 11, Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Pada ayat tersebut ada angka 153. Kalau “eisegese”: angka-angka ini diartikan satu persatu. Misalnya angka 1 itu menunjuk kepada Allah Bapa, angka 5 itu menunjuk pada Allah Bapa, Allah Anak, Roh Kudus, Maria, danYusuf, dan angka 3 itu menunjuk pada tritunggal, sedangkan jumlah dari angka-angka tersebut adalah 9. 9 ini adalah angka yang sempurna. Sebab angka 9 ini dikalikan dengan angka berapa saja kecuali dengan 0, hasilnya angka-angka itu kalau dijumlahkan tetap 9. Padahal teks Alkitab tersebut tidak berfokus pada angka. Sekarang bagaimana dengan “exegese”nya? Latar belakang dan konteksnya: Yesus sudah bangkit dari antara orang mati. Petrus tidak mau mengurung diri terus dalam ruang yang tertutup. Petrus ingin menjalankan kembali rutinitasnya sebelum bersama-sama dengan Yesus yaitu sebagai nelayan. Petrus diikuti oleh murid-murid Yesus yang lainnya kembali menangkap ikan. Tapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang Yesus yang bangkit menampakkan diri di pantai. Yesus bertanya adakah mereka memiliki lauk pauk? Yang dijawab tidak ada. Lalu Yesus memerintahkan untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Mereka taat terhadap perintah Yesus. Hasilnya mereka mendapatkan ikan dalam jumlah yang tak terhingga. 153 ekor itu hanya ingin menunjukkan jumlah yang tak terhingga. Jadi yang ingin dikatakan pada teks Alkitab ini bukan pada angkanya tapi pada ketaatan dari murid-murid itu.
Sekarang kita kembali kepada cara pandang. Bisa saja cara pandang yang negatif kita gunakan dalam memandang sebuah teks Alkitab. Misalnya: kita sering menyalahkan Yudas Iskariot sebagai orang yang hanya berorientasi pada uang, karena menyerahkan Yesus dan mendapat bayaran 30 keping perak. Tapi kalau alasannya karena uang mengapa Yudas Iskariot tidak meminta lebih besar dari jumlah tersebut? Juga mengapa Yudas Iskariot mengembalikan lagi uang tersebut setelah mengetahui bahwa Yesus tetap diam saja ketika diadili? Mengapa juga akhirnya Yudas Iskariot melemparkan uang itu di Bait Allah lalu ia bunuh diri? Agaknya bukan karena uang Yudas Iskariot itu menyerahkan Yesus kepada pemimpin agama Yahudi itu. Alasan Yudas Iskariot menyerahkan Yesus karena ia kecewa dan ingin mempercepat proses kemesiasan Yesus dalam pandangannya sendiri. Dalam pandangan Yudas Iskariot kalau Yesus ditangkap maka Ia akan segera menunjukkan kemesiasan-Nya yang akan mengalahkan semua pemimpin agama dan penjajah Romawi. Namun kemesiasan Yesus tidak ditempuh melalui jalan tersebut melainkan melalui jalan penderitaan.
Cara pandang akan selalu berpengaruh dalam kehidupan kita. Jika kita memandang hidup yang kita jalankan ini secara negatif, maka kita akan menjadi orang yang selalu pesimis dan apatis. Semuanya serba hitam. Serba gelap. Bagaikan terowongan yang tak berujung. Namun jika memandang hidup yang kita jalankan ini secara positif. Semua kejadian yang kita alami itu ada nilai positifnya, maka kita akan menjadi orang yang selalu optimis dan bersemangat dalam menjalankan kehidupan ini. Di dalam warna hitam pasti ada setitik putih. Di dalam kegelapan sekalipun pasti ada secercah cahaya. Terowongan yang gelap itu pasti ada ujungnya, dan di ujung terowongan itu ada cahaya. Karena itu, mari kita jadikan cara pandang positif ini sebagai “habit” kita dalam menjalankan kehidupan.


