Desember 2018

ikon-program-pokok-gki-pengadilan-bogor

Minggu, 2 Desember 2018

YUSUF: TELADAN KETAATAN (Matius 1: 18-25)

Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Tak Terasa kita sudah di penghujung akhir tahun 2018 dan Natal sudah di depan mata. Dahulu dalam sebuah kesempatan, Paus Yohanes Paulus II berkata “The truth is not always the same as the majority decision” (kebenaran tidak selalu berarti kesepakatan oleh suara mayoritas). Tindakan memilih berbeda dari opini masyarakat mayoritas inilah yang diambil oleh Yusuf dalam menyikapi kehamilan Maria, tunangannya.

Dunia serasa runtuh! Maria hamil! Padahal Yusuf dan Maria belum hidup sebagai suami istri (Mat 1:18). Lalu harus bagaimana? Kalau Yusuf mengumumkan ketidaksetiaan Maria, Maria bisa terkena sanksi dilempari batu hingga mati (Ul. 22:23-24). Di sisi lain ia tidak bisa meneruskan pertunangan karena merasa Maria telah mengkhianati dia. Memiliki perasaan tidak ingin mempermalukan Maria, maka Yusuf memutuskan ingin membatalkan pertunangan dengan Maria diam-diam (Mat 1: 19).

Rencana Yusuf ingin membatalkan pertunangan dengan Maria menyiratkan satu hal yaitu ia belum mengetahui bahwa Allah memilih Maria menjadi ibu Yesus, Mesias bagi umat manusia. Kemungkinan pada saat itu, Maria tidak menceritakan kepada Yusuf perjumpaannya dengan malaikat Gabriel, utusan Allah (Luk. 1:26-38). Namun di tengah kegelisahan hati Yusuf, Tuhan hadir dan memberikan opsi ketiga yaitu menikahi Maria sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Sebagaimana Allah menjumpai Maria, Ia pun menyampaikan rencana-Nya tentang Maria dan anak yang akan dilahirkannya, melalui mimpi kepada Yusuf (Mat 1: 20-23). Mimpi inilah yang meneguhkan keberanian Yusuf untuk tetap bertunangan dengan Maria.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, (Mat 1:24)

Keputusan Yusuf menyatakan ketaatannya terhadap perintah Allah. Keberanian Yusuf menunjukkan kemauan untuk percaya terhadap rencana keselamatan Allah bagi umat manusia melalui Yesus. Apakah Yusuf mengetahui dan mengerti apa yang akan terjadi pada hidupnya selanjutnya ? Saya rasa Yusuf tidak bisa menerkanya, tetapi ia berani melangkah. Melangkah maju dalam rancangan Allah untuk kemudian menikahi Maria yang dalam keadaan mengandung. Karena Yusuf mau menundukkan dirinya kepada kedaulatan Allah dengan mengesampingkan kepentingan pribadi. Seringkali kita tidak berani mengambil keputusan untuk tunduk kepada kehendak dan rencana Allah karena kita lebih mementingkan keinginan kita atau apa kata orang banyak. Kita cenderung tidak bersedia mengambil resiko kehilangan sesuatu yang kita sukai, cenderung membiarkan diri mengikuti arus kehidupan, dan terkadang kehilangan fokus akan rancangan yang sedang atau telah Allah buat.

Ketaatan inilah yang dicontohkan Yusuf kepada kita. Kisah Maria juga begitu, seperti yang dituturkan dalam Injil Lukas, ketika dijumpai malaikat ia berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan: jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Kita melihat di sini bahwa keduanya adalah pengikut Tuhan yang setia. Banyak keraguan dan ketidakyakinan muncul dalam diri mereka tetapi mereka memilih untuk taat kepada Allah, dan membangun pengharapan pada Allah.

Ketika suara mayoritas mendorong kita untuk memilih hal-hal yang tidak memberikan pengajaran atau cari aman dan hanya terfokus pada mencari kesenangan semu. Yusuf mengajar kita bahwa seringkali pilihan Allah bukan sekedar zona nyaman, pilihan Allah terkadang mendorong dan mengundang kita untuk semakin taat pada-Nya melalui hal-hal yang kita pandang sebagai cobaan atau permasalahan. Memasuki masa advent nilai ketaatan adalah hal yang kita pupuk, ketaatan membuat kita patuh dan tunduk pada rancang-bangun Allah. Walk by Faith not by sight (berjalanlah bersama Iman bukan sekedar apa yang terlihat).

Selamat Menanti dalam Ketaatan.


Minggu, 9 Desember 2018

POST TENEBRAS LUX! (Yesaya 8:23 – 9:6)

Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Setelah minggu lalu kita belajar mengenai ketaatan dalam menanti, hari ini kita belajar bagaimana kaitan penantian dengan pengharapan kepada Allah. Post Tenebras Lux (Setelah kegelapan, berharap akan ada terang) inilah moto dari John Calvin yang kemudian terpampang di tembok reformasi bertempat di kota Jenewa-Swiss. Moto ini mau menyatakan melalui harapan akan Allah, orang percaya akan menuju era baru, era Terang Kasih Allah. Pengharapan bagi Calvin adalah kekuatan Jiwa. Pengharapan mendorong kita berjalan dari kegelapan menuju terang. Selayaknya seorang pasien yang berharap sembuh, maka ia berjuang dan bergerak.
Pergi ke dokter, mendapatkan tindakan medis, dan minum obat.

Pengharapan akan terang setelah kekelaman pun muncul dalam nubuatan kitab Yesaya. Yesaya 8:23-9:6 berkonteks kehidupan Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram (Siria) dan Israel. Ahas Raja Yehuda mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Ketakutan Ahas dan bangsanya membuat mereka putus asa dan menyerahkan diri pada naluri terendahnya yang menghasilkan: Kemerosotan moral, ketidakadilan, dan pemerasan terhadap rakyat kecil terjadi di seluruh Yehuda. Semua dikarenakan ketidakpercayaan Ahas dan bangsanya pada Allah. Atas ketidakpercayaan itu Yehuda mendapatkan penghukuman.

Penting untuk kita ingat bersama, tidak akan selamanya negeri itu mendapatkan penghukuman. Kehancuran Yehuda akan ditutup dengan sebuah misi penyelamatan. Misi penyelamatan ini setidaknya akan terjadi dalam tiga periode. Periode pertama adalah hadirnya Hizkia. Ahas mewakili raja yang lemah dan tidak taat kepada Allah. Hizkia akan membawa perubahan baru, suatu keselamatan bagi bangsanya karena ia tunduk kepada Allah. Hal ini memungkinkan hadirnya kedamaian dan kemakmuran. Periode kedua adalah masa ketika bangsa Yehuda kembali dari pembuangan. Periode ketiga terlihat dari hadirnya seorang Mesias, yang akhirnya digenapi dalam diri Kristus, Sang Juruselamat dunia.

Seorang keturunan Daud yang baru akan hadir! Perayaan pengharapan dari kegelapan menuju terang ini diwujudkan dalam sukacita yang begitu luar biasa. Sukacita itu juga terlihat dalam gambaran militer (Ayat 3-4) seperti ketika orang-orang membagi-bagikan hasil rampasan dari musuh. Penghancuran “kuk” dan “gandar” menunjukkan sekali lagi kemenangan militer yang dahsyat. Pada ayat 5 kita melihat bahwa janji akan keturunan Daud diberikan dengan gelar-gelar yang indah: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Keempat gelar ini menjamin kemakmuran dan keadilan selama-lamanya!

Allah menjanjikan Mesias. Ia akan membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai putus asa dan jatuh dalam kegelapan dosa, kini melihat Terang yang besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa yang menindas dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang
dan perseteruan.

Pengharapan akan Sang Mesias menjadi kekuatan Iman pada setiap orang beriman. Pengharapan itu membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang tahan uji, memliki kekuatan untuk bertahan dan bahkan bergerak maju (Lih. Roma 5:4). Dalam penantian di masa Advent ini, pengharapan pada Allah adalah hal yang harus kita tanamkan, karena pengharapan tidak akan berbuah kekecewaan, seperti Ia yang tidak akan mengecewakan umat-Nya.

Selamat Menanti-Selamat Memupuk Pengharapan.


Minggu, 16 Desember 2018

YOHANES PEMBABTIS: SERUAN PERTOBATAN (Markus 1:1-8)

Salam Sejahtera untuk seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. Penantian orang percaya adalah penantian yang penuh harapan, yang membawa kita dari era kegelapan menuju terang Tuhan. Sayangnya harapan tersebut akan menjadi mimpi di siang bolong, bila kita tidak mempersiapkan dan memperjuangkannya. Melalui narasi Injil Markus kita akan melihat bahwa masa penantian adalah juga masa persiapan. Persiapan menyambut Ia yang akan membaptis dengan Roh.

Seorang Kaisar Romawi Markus Aurelius berkata ”Segala sesuatu mengenai Allah sarat nubuatan. Segala sesuatu mengalir dari sorga”. Apa yang dinyatakan Aurelius ini mau menyatakan sejarah bukan kaleidoskop acak dan serangkaian peristiwa yang tidak saling berhubungan. Sejarah adalah suatu proses yang telah direncanakan oleh Allah yang sudah melihat tujuan akhir (keselamatan) sejak permulaan peristiwa. William Barclays seorang penafsir melihat itulah alasan Markus memulai injilnya dengan jauh kebelakang bukan kisah kelahiran ataupun Yohanes pembaptis. Injil Markus dimulai dengan nubuatan para Nabi pada masa silam, dengan kata lain Injil ini dimulai jauh pada masa lampau yang dimulai dari pikiran Allah.

Sebagai orang percaya kita masuk dalam proses keselamatan tersebut dan kita bisa membantu ataupun menghalanginya. Seperti yang telah dituliskan William Barclay dalam tafsiran Markus “Tujuan tidak akan pernah diraih kecuali ada orang yang mengupayakannya”. Petikan di ayat Markus 1:3 sebenarnya mempunyai arti yang sama dengan Maleakhi 3:3 yang menyatakan “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku , supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!”. Konteks ayat tersebut adalah ketika para Imam gagal mengemban kewajiban mereka. Kurbankurban persembahan yang mereka berikan bercacat dan bukan yang terbaik. Pelayanan bait Allah dirasakan sebagai sesuatu yang meletihkan. Melihat hal tersebut, maka utusan itu datang untuk membersihkan dan menyucikan ibadah bait Allah sebelum Dia yang diurapi Allah tampil di bumi.

Oleh karena itu dimana Kristus diijinkan datang, disitulah antiseptik Iman Kristen membersihkan racun moral masyarakat. Yohanes pembaptis hadir dengan baptisan pertobatan, baptisan yang membersihkan racun moral di masyarakat. Kesaksian Yohanes pembaptis berdasar apa yang ditulis oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 40:4. “Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran”. Itulah gambaran pertobatan yang diserukan Yohanes, yakni runtuhnya puncak kesombongan, tertimbunnya lembah kekelaman, dan lurusnya hati yang bengkok.

Seharusnya seruan baptisan pertobatan itu juga menjadi panggilan orang percaya. William Barclay mengambil contoh ketika Billy Graham berkhotbah di Sheverport, Louisiana, penjualan minuman keras turun hingga 30% dan penjualan Alkitab meningkat 300%. Begitu juga ketika Billy Graham berkhotbah di Greensbro, Carolina Utara, ada banyak pembatalan perceraian terjadi. Inilah panggilan seorang percaya yang merupakan bagian dari rencana keselamatan, Ia hadir mengupayakan pertobatan.

Pertobatan adalah istilah yang sering digunakan oleh para penginjil untuk meringkaskan sikap yang dikehendaki Allah dari manusia. Namun demikian, arti kata pertobatan dalam Alkitab mencakup banyak aspek dan dimensi. Pertobatan tidak harus selalu dikaitkan dengan dosa berat. Perjanjian Baru menjelaskan, terdapat dua kata untuk pengertian pertobatan. Kedua kata tersebut saling melengkapi. Kata yang pertama: metanoia. Kata ini merujuk kepada suatu perubahan dalam hati, perasaan, pengalaman, daya upaya dan rencana kita. Kata yang kedua: epistrophe. Kata ini menunjuk kepada suatu perubahan dalam tingkah laku kita yang kelihatan. Melihat dari penjelasan, pertobatan bukan berarti hanya dalam hati saja melainkan setiap perubahan dalam hati yang kemudian menghasilkan pembaruan dalam tingkah laku, sikap hidup dan karakter orang percaya.

Setiap orang dipanggil untuk merespons panggilan Allah dengan melakukan pertobatan atau melakukan hal-hal yang dikehendaki Allah agar dilakukan manusia. Oleh sebab itu pertobatan dimaknai sebagai mengatakan “ya” atas undangan Tuhan. Allah menantikan kita berkata dan bertindak “ya” atas undangan kasih-Nya. Ia rindu menerima jawab kita.

Di dalam narasi Injil yang menampilkan sosok Yohanes pembaptis itu, Markus mengatakan pada kita bahwa Allah sangat mengasihi umat-Nya. Karena itu umat yang sedang menanti hadirnya Mesias dan menerima jawab bahwa Mesias sudah hadir, diundang untuk mengikut jejak Yohanes pembaptis yang menyerukan berita pertobatan. Mari katakan “ya” pada kehendak Allah.

“Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” (Markus 1:4b)


Minggu, 23 Desember 2018

MAGNIFICAT: KIDUNG PUJIAN MARIA (Lukas 1: 46-55)

Salam Sejahtera bagi seluruh jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor. “…oh kidung yang indah kau luputkan aku dari sebuah dosa…” penggalan sebuah lagu berjudul “Kidung” yang dilantunkan oleh Chrisye yang menggambarkan hati yang meyakini adanya pengharapan akan hidup yang lebih baik. Kidung dinyanyikan tidak hanya sebagai rangkaian syair tanpa makna, tetapi juga untuk meluapkan ungkapan hati pelantunnya Maka kidung laksana doa pengharapan kepada Sang pencipta.

Lukas 1:46-55 adalah sebuah kidung yang dilantunkan Maria. Maria adalah perempuan biasa, tidak memiliki kekuatan kuasa apapun. Dengan demikian menjadi hal yang wajar jika anugerah yang disampaikan malaikat Gabriel tidak dengan serta merta diterimanya. Ia melewati pergumulan berproses hingga akhirnya menyadari bahwa tiap kehendak Allah diiringi berkat bagi umat yang setia padaNya. Sampai kemudian ia mampu mengatakan, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu itu.” Maria pun menemukan dan menyadari bahwa Karya Allah yang besar hidup atasnya dan mensyukuri Anugerah itu.

Visitasi adalah episode selanjutnya, dimana Maria melakukan perjalanan ke rumah sepupunya, Elisabet. Perempuan yang menerima anugerah Tuhan pada usia yang lanjut. Usia yang sudah tidak lagi wajar untuk mengandung dan melahirkan seorang anak. Elisabet pun menyambut Maria dengan kerendahan hati dan mengakui bahwa yang menyapanya dengan salam tidak sekedar sepupunya, melainkan ibu Tuhannya.

Maria yang mendengar ungkapan Elisabet itu pun merasa dikuatkan dan menyambutnya dengan lantunan kidung, yang dikenal dengan magnificat. Magnificat merupakan kidung atau nyanyian Maria yang diawali dengan baris magnificat anima mea Dominum, jiwaku memuliakan Tuhan. Di dalam kidung itu nampak gambaran-gambaran dan ungkapan dari Mazmur dan kemiripan dengan kidung yang juga dinyanyikan oleh Hana (1 Samuel 2: 1-10). Hana pun melantunkan sebuah kidung yang menggambarkan syukur atas kekuatan dan penyertaan Allah bagi hamba-Nya yang mengalami situasi yang tertekan.

Di dalam keindahan Magnificat tersebut ada dimensi iman personal Maria, yang percaya, bersyukur,dan bersukacita atas rancangan Allah. Tetapi juga ada dimensi intrapersonal menunjukan revolusi dunia yang akan dibawa oleh Kristus. Dua dimensi inilah yang akan terus kita hidupi sebagai seorang Kristiani. Kita yang terus diperbaharui untuk mengasihi Allah, dan kita yang terus diperbaharui untuk hadir bagi sesama.

Orang Kristen dikenal sering melantunkan kidung, baik dalam ibadah ataupun dalam kegiatan-kegiatan persekutuan. Baik dalam kondisi senang atau susah. Orang Kristen identik dengan melantunkan kidung. Tentu saja Kidung tidak sekedar berfokus pada nada atau pun notasi, tetapi bagaimana kita bisa mengungkapkan Karya Allah dalam hidup kita. Sebuah kidung yang penuh kejujuran dan kepercayaan akan kasih Allah yang nyata adalah kisah kesaksian hidup yang sejati dan yang menguatkan.

Mari melantunkan Kidung-Kidung Hati menyambut Sang Raja.


Minggu, 30 Desember 2018

CARPE DIEM: PETIK-LAH HARI (Roma 5:3-5)

Salam dalam Kasih Kristus untuk semua jemaat dan simpatisan GKI Pengadilan Bogor.Selamat Natal dan Selamat menyambut Tahun Baru. Tidak terasa kita akan mengakhiri tahun 2018 ini. Menjadi baik bila kita bisa merenungkan “Apakah kita sudah memetik hari dengan maksimal di tahun 2018 ?” CARPE DIEM. Carpe: pick or pluck. Kata ini biasa digunakan sastrawan Roma untuk menyebut istilah: “nikmati, gunakan”. Sedangkan DIEM berasal dari kata dies, atau day secara harfiah mempunyai arti “petik, rebutlah hari ini”. Carpe Diem (petiklah hari)berasal dari pandangan Horace, sastrawan Roma yang menulis: Carpe Diem quam minimum credula postero – Seize the day, put very little trust in tomorrow. Kalimat ini seolah bermakna bahwa masa depan tidak penting. Tetapi pertanyaannya, bukankah melakukan sesuatu di masa kini juga menentukan masa depan? Pendek kata, Carpe Diem mengandung pengertian bahwa “hidup adalah perjuangan”. Setiap hari harus kita menangkan, bahkan dalam setiap penderitaan pun selalu ada pembelajaran hidup yang kita dapatkan.

Perenungan akan Carpe Diem ini mengingatkan kita dari satu bagian tulisan Rasul Paulus di Roma 5:3-5 yang berbunyi “ Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Kesengsaraan yang dialami orang percaya menimbulkan ketekunan. Kata “menimbulkan” dalam teks aslinya adalah katergazomai (κατεργάζομαι), yang artinya membentuk, mengerjakan, mencapai, dan menghasilkan. Jadi penderitaan yang dialami orang percaya dapat menghasilkan buah atau dapat mencapai ketekunan. Adapun ketekunan di sini dalam bahasa aslinya adalah hupomone (ὑπομονή), maksudnya adalah ketahanan, konsistensi, keteguhan, dan kesabaran (steadfastness, constancy, endurance, patience). Kata hupomone (diterjemahkan dengan bertahan) juga digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:13 “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”.

Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa ketekunan menimbulkan tahan uji. Kata tahan uji dalam teks aslinya adalah dokime (δοκιμή), yang artinya “terbukti atau contoh dari sebuah kelayakan” setelah mengalami atau menerima ujian. Paulus mau menunjukkan bahwa sikap menghadapi kesengsaraan menjadi cara pembuktian apakah seseorang layak untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus atau tidak. Percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Dia menjadi nyata melalui pergumulan dalam mempertahankan imannya dengan sikap hidup seturut kebenaran firman Tuhan. Hal inilah yang membuat orang beriman senantiasa memiliki pengharapan dalam kehidupannya. Pada akhirnya pengharapan itu tidak mengecewakan, sebab kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Pernyataan Paulus ini menjadi kekuatan dalam menghadapi kesengsaraan karena kasih Allah yang selalu memenuhi hati setiap pribadi orang
beriman.

Carpe Diem mengingatkan kita bahwa tiap hari adalah hari yang berharga. Maka tiap hari yang dianugerahkan Tuhan haruslah diperjuangkan. Kita bisa kecewa di tahun 2018 ataupun bermimpi indah untuk tahun 2019. Maka petiklah hari dan hidupilah dalam pengharapan Kasih Allah. Memetik hari bukan sekedar bersukacita dalam keberhasilan, tetapi juga belajar dari penderitaan. Penderitaan yang memproses kita pada pemenuhan diri. Pemenuhan dalam pengharapan akan Allah.

Selamat menyambut 2019 dalam Pengharapan Kasih Allah.