
57 TAHUN GKI PENGADILAN BERGERAK BERSAMA DALAM KASIH (1)
Perjalanan kehidupan dalam segala suka dan duka seringkali terasa cepat. Tidak terasa perjalanan kehidupan GKI Pengadilan telah dipimpin dan dimampukan Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja selama 57 tahun. Berbagai dinamika pelayanan terus terjadi dalam setiap langkah kehidupan GKI Pengadilan. Dalam momen pertambahan usia ini, kita merenungkan kembali bahwa dalam segala hal yang kita lakukan, kasih Tuhanlah yang memampukan kita. Perenungan kita didasarkan pada pengajaran Paulus kepada jemaat di Roma dalam Roma 5:3-5 yang berbunyi demikian “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
Perjalanan kehidupan bergereja tidaklah pernah mudah. Di dalamnya berbagai pergumulan terus terjadi. Paulus menggambarkannya dengan kata “kesengsaraan”. Tetapi kesengsaraan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai kesusahan yang menekan kehidupan. Kesengsaraan atau kesulitan dipercayakan Tuhan untuk mengasah ketekunan kita. Kita diminta tekun di dalam kebenaran firman yang diwujudkan dalam keseharian, tekun untuk menjalani kesulitan tersebut bukan hanya untuk sekadar mendapatkan penyelesaian tetapi untuk selalu menyatakan damai sejahtera Tuhan dalam setiap keadaan, dan bertekun untuk selalu melangkah sekalipun berat. Dengan ketekunan yang terus menerus dihidupi, kita dapat merasakan bahwa Tuhan memberikan ketahanan dalam menjalani ujian ini sehingga dalam setiap langkah ada pengharapan yang pasti. Kesemuanya ini dapat terjadi dalam kehidupan bergereja kita selama 57 tahun karena kita merasakan dan selalu meyakini bahwa kasih Allah dicurahkan dalam kehidupan kita. Kasih Allah yang tidak pernah hanya terwujud dalam sesuatu yang manis, lembut, dan indah, tetapi kasih Allah yang terwujud dalam pengajaran-Nya, nasihat-Nya, dan bahkan teguran serita didikan-Nya yang keras. GKI Pengadilan mengalami keutuhan perwujudan kasih Allah untuk membentuk kehidupan bergereja semakin seturut dengan kehendak dan maksud Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja.
Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari persekutuan umat dalam GKI Pengadilan Bogor, yang bersyukur atas 57 tahun perjalanan kehidupan bergereja, maka kita pun dipanggil untuk merasakan dan menghidupi kasih Tuhan dalam gerak langkah bersama. Kasih yang tidak hanya sekadar ingin hal-hal yang manis dan lembut tetapi kasih yang mendewasakan, mengajar, menegur, dan membangun. Tuhan Yesus memampukan kita semua.
Forum Pendeta
57 TAHUN GKI PENGADILAN BERGERAK BERSAMA DALAM KASIH (2)
Pada minggu ini, kita masih merefleksikan perjalanan kehidupan bergereja kita selama 57 tahun. Kita menghayati dan menyadari bahwa setiap gerak pelayanan di GKI Pengadilan dapat terjadi semata-mata karena kasih Tuhan. Dengan kesadaran dan penghayatan mengenai kasih Tuhan ini, kita mengerjakan kehidupan bergereja yang dipercayakan Tuhan. Seperti penghayatan Rasul Paulus yang dituliskan dalam 1 Korintus 15:10, demikian, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Paulus berkomitmen untuk bekerja lebih keras karena kesadarannya bahwa kasih karunia Allah yang berharga melingkupi dirinya, seorang yang tidak layak, yang telah mendukakan hati Allah dengan perilakunya sebelum mengenal Kristus. Ia memberikan diri dan hidupnya melayani Tuhan melalui jemaat-jemaat sehingga umat Tuhan dapat mengenal Kristus, bertumbuh di dalam iman dan bersama melayani Tuhan. Semangat Paulus untuk bekerja lebih keras yang didasarkan karena kasih karunia juga seharusnya menjadi semangat kita dalam mensyukuri perjalanan kehidupan bergereja. Tuhan telah memberikan wadah untuk bersekutu bersama, dan memiliki saudara-saudari seiman yang mendukung perjalanan kehidupan kita. Dalam wadah inilah kita bekerja bersama-sama, memberikan diri bukan hanya untuk melakukan sesuatu tetapi bergerak dalam keharmonisan. Harmonis bukan berarti tanpa perbedaan, harmonis bukan berarti segala sesuatu harus tampak seragam. Harmonis justru dengan segala perbedaan, kita dijalin dengan kasih dan dipersatukan dengan tujuan bersama yaitu melayani Tuhan. Bekerja lebih keras yang diwujudkan dalam gerak bersama menjadi panggilan hidup yang tidak terpisahkan bagi setiap unsur yang ada di GKI Pengadilan. Hal ini bukan menjadi bagian tugas Majelis Jemaat atau Badan Pelayanan Jemaat saja, melainkan menjadi panggilan setiap kita, baik anggota jemaat maupun simpatisan yang mengalami bahwa melalui GKI Pengadilan, Tuhan berkarya dalam hidup kita.
Dalam menjalani usia yang ke-57 GKI Pengadilan, kita mau bergerak bersama dalam kasih. Tidak sekadar mengerjakan secara rutin segala sesuatu yang sudah ada tetapi justru dalam keharmonisan gerak bersama kita melayani sebagai wujud syukur kita. Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja, memampukan kita selalu.
Forum Pendeta
57 TAHUN GKI PENGADILAN BERGERAK BERSAMA DALAM KASIH (3)
Dalam menjalani usia yang ke-57 GKI Pengadilan, Majelis Jemaat hendak mengajak seluruh unsur yang ada, baik anggota jemaat maupun simpatisan untuk dapat bergerak bersama dalam kasih. Hal ini sebagai cara agar setiap pribadi memiliki penghayatan bahwa ia berada dan terikat dalam komunitas. Segala sesuatu yang dikerjakan tidak sekadar rutinitas tetapi justru dalam keharmonisan gerak bersama kita melayani sebagai wujud syukur kita. Kesadaran dan kewaspadaan dalam segala gerak bahwa kita tidak sekadar mengerjakan sesuatu yang rutin menjadi tanggung jawab masing-masing orang. Ketika kita melepaskan kesadaran dan kewaspadaan maka dengan segera, segala yang kita kerjakan terasa seperti autopilot, semua sepertinya otomatis terjadi, padahal tidak demikian seharusnya.
Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 3:10 demikian, “Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” Paulus telah meletakkan dasar bagi jemaat Korintus yaitu Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang memberikan anugerah keselamatan dan kehidupan kekal. Hanya di atas dasar inilah, kehidupan jemaat dibangun dengan berbagai orang yang ada di dalamnya, yang bersemangat dan bersungguh untuk melayani Tuhan. Semangat dan kesungguhan setiap pribadi yang bergerak bersama dalam kasih ini perlu diletakkan dalam kerangka yang benar sehingga tidak asal bergerak dan tidak asal bekerja. Kerangka yang benar adalah ketika tiap-tiap orang memperhatikan bagaimana ia harus membangun di atasnya. Perhatiannya tertuju setidaknya dalam tiga dimensi. Dimensi pertama adalah fokus keberadaannya adalah menyatakan kehadiran Kristus yang telah beranugerah kepadanya. Dimensi kedua adalah semua potensi, kapasitas, dan kemampuan yang Tuhan percayakan dalam dirinya harus dapat dipergunakan dengan maksimal untuk pembangunan Tubuh Kristus yaitu gereja-Nya. Dimensi yang ketiga adalah sesama umat yang mengemban tanggung jawab yang sama. Setiap pribadi dipanggil untuk dapat memberikan perhatian pada orang yang ada di sekitarnya. Memperhatikan orang lain berarti terbuka terhadap segala kemungkinan situasi, cara pandang, sikap dan bahkan keunikan setiap pribadi. Hal ini akan mendorong umat untuk bertindak secara tepat sehingga setiap orang dapat berperan memberikan dirinya untuk melayani Tuhan melalui gereja-Nya.
Hal inilah juga yang diharapkan dapat dikerjakan oleh kita secara bersama-sama dalam kehidupan GKI Pengadilan. Ketika kita mengerjakan setiap kegiatan pelayanan maka di dalamnya dapat dirasakan bahwa satu dengan yang lain saling memperhatikan bagaimana kegiatan pelayanan tersebut dibangun. Bukan dengan rasa rutin atau bahkan otomatis/harus ada kegiatan tetapi justru setiap hal dapat dikerjakan karena adanya perhatian antar pribadi terhadap kehendak dan kebenaran Tuhan untuk dapat bertumbuh bersama dan mempersembahkan pelayanan yang terbaik bagi Tuhan. Tuhan Yesus memampukan kita.
Forum Pendeta
TUTUP TAHUN
Mungkin ada di antara kita yang bingung dengan judul Sapaan Gembala hari ini. Di pertengahan bulan November tetapi menyebut tutup tahun padahal masih ada 39 hari lagi menuju 2026. Hari ini, Minggu 23 November 2025 merupakan tutup tahun bagi tahun liturgi. Tahun liturgi bisa jadi terdengar asing bagi kita tetapi inilah yang dihidupi gereja di sepanjang waktu untuk membangun penghayatan umat mengenai peristiwa Kristus Sang Juruselamat yang berkarya bagi umat manusia. Tahun liturgi dimulai pada Adven 1 di mana umat dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Sang Juruselamat dan ditutup pada satu minggu sebelum minggu adven 1 yang diberi nama Minggu Kristus Raja. Di hari Minggu Kristus Raja, kita diingatkan kembali bahwa dalam kehidupan manusia, Kristuslah Raja kita. Artinya Dialah yang berdaulat, berkuasa penuh dalam kehidupan kita. Di dalam kuasa-Nya, bukan saja Ia memiliki rancangan masa depan kita, mengatur jalan kehidupan kita, tetapi Ia mengatasi segala kesulitan dan persoalan hidup kita. Ia terlebih besar dari apapun yang ada di dunia ini. Dalam peliknya kehidupan, Minggu Kristus Raja berperan penting agar kita kembali berfokus dan berserah hanya kepada-Nya.
Dalam minggu Kristus Raja, kita juga melakukan pengenangan atas saudara-saudara seiman yang telah lebih dahulu berpulang ke rumah Bapa pada masa antara Minggu Kristus Raja tahun 2024 hingga Minggu Kristus Raja pada tahun 2025. Melalui pengenangan ini, kita diajak merefleksikan bahwa Kristus adalah Allah yang hidup dan berkuasa untuk mereka yang hidup maupun mati. Tentunya, pada bagian ini, kita tidak mendoakan mereka yang telah mendahului kita berpulang. Tetapi kita bersyukur untuk kesempatan kehidupan yang dapat mereka jalani bersama kita dan untuk jaminan yang dinyatakan dalam kuasa Yesus Sang Raja sebagaimana yang dituliskan Lukas 23:43, “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”
Oleh karena itu, marilah kita menghidupi liturgi hari minggu ini bukan dengan kebingungan atau ketidaknyamanan karena merasa asing tetapi justru dapat menikmatinya sebagai sarana dari Tuhan untuk menopang dan menguatkan langkah kita menjalani kehidupan. Hidup ini adalah milik Tuhan dan di dalamnya kita mengerjakan dalam keberserahan diri kepada Kristus, Sang Raja. Dia yang berkuasa atas hidup kita, Dia yang akan menuntun kita menghadapi setiap persoalan dan Dia jugalah yang akan terus beserta kita. Seperti kata Rasul Paulus dalam Roma 8:38-39 demikian, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Forum Pendeta


